Komunitas Pojok Pustaka Majenang

Majenang, hanya kota kecamatan di ujung barat Cilacap. Walau dilalui jalan nasional, keramaiannya hanya menggambarkan kebisingan deru suara mobil.

Dua simpul keramaian di Majenang terletak di alun-alun dan taman kota. Di Sabtu sore kebisingan itu berganti dengan riuh rendah dengan suara anak-anak yang berlarian sekitar alun-alun. Sementara kaum remajanya, lebih memilih kongko sembari menikmati jajanan.

Keramaian itu berlanjut hingga Minggu pagi. Banyak warga yang senam atau sekadarĀ  refreshing menghabiskan waktu.

Melihat keramaian tersebut, Amri Yahya, Khairil Anhar, Wulan Diarti, dan Daru Sima Suparman mencoba memikirkan bagaimana memanfaatkannya momen tersebut dengan tujuan yang lebih postif. Akhirnya, mereka berempat sepakat untuk mengumpulkan koleksi bukunya masing-masing kemudian membacanya di dua tempat keramaian tersebut. Tidak hanya untuk dibaca sendiri, mereka juga mempersilakan bagi siapa saja yang hendak membacanya.

Tak puas, pada 16 Oktober 2016, mereka pun sepakat untuk mengembangkannya menjadi sebuah komunitas yang konsen pada dunia literasi. Tercetuslah nama Pojok Pustaka. Yang hingga saat ini lebih dikenali sebagai komunitas.

“Harapannya, keberadaan kita dapat mengubah paradigma membaca yang membosankan menjadi menyenangkan,” kata Amri.

Walau baru dua tahun berjalan, koleksi bukunya saat ini sudah mencapai ribuan judul buku. “Alhamdulillah, banyak yang membantu, dan masyarakat majenang sudah banyak yang tahu keberadaan kami. Semoga semakin banyak yang juga suka membaca,” katanya.

Tidak hanya melulu tentang buku, Pojok Pustaka juga melakukan berbagai aktivitas tapi tetap berkaitan pengembangan wacana, ilmu, dan kreativitas. “Belum lama ini, berbagai lomba, mulai dari lomba baca puisi, mewarnai, menggambar, story telling, dan lomba foto juga pernah kami laksanakan,” katanya.

Walau sekarang sekretariat masih berpindah-pindah, menurutnya, hal tersebut tak menyurutkan pengurus dan anggotanya. Saat ini sudah puluhan anggota yang tergabung dan menjadi agen literasi di Majenang. “Di samping agenda rutin bikin perpus berjalan, kita juga sering mengajar anak-anak kecil di sekolah. Kita coba tanamkan kesadaran gemar membaca sedari kecil,” katanya.

Menurut Amri, yang juga menjadi guru di satu sekolah di Majenang, berharap di kotanya akan memiliki perpustakaan yang nyaman dan berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih pada dunia literasi. (cr3)