Tujuh tahun lalu, sekelompok anak muda duduk ngopi, perbincangan acak terjadi. Awalnya membicarakan bagaimana menanam jamur tiram, hingga akhirnya melebar jauh meracau ke dunia pendidikan. Ide-ide kreatif bermunculan, hingga berujung bagamaina mewujudkan semua keliaran ide dalam pengaruh seruputan kopi.

Dari hanya duduk meracau sambil minum kopi, hari ini terwujud Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria dengan empat desa binaan, seratus lebih relawan aktif, dan Radio Streaming Bhinneka Radio. Setelah melewati jalan panjang tentunya.

“Usia tujuh tahun mempertahankan ruang pengabdian masyarakat, berusaha berkembang dengan finansial mandiri memang jalan panjang, ” kata Nisa Lutfiana, Kepala Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria.

Menurutnya, Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria dibangun dengan asik sambil minum kopi. Tentu harus dijalani seasik itu, bahkan harus lebih asik. Sebab mengabdi ke masyarakat, jika tidak dibuat keren, mengasikkan yang mau ikut sedikit.

“Sekarang era milenial, zaman paling bahagia setelah perang dunia dua. Musik dengan beat cepat, tontonan komedi dan traveling. Maka kami buat Sekolah Bhinneka Ceria harus seasik itu, ” kata dia

Seratus lebih relawan yang bergabung mengabdikan diri mengajar di Desa Sunyalangu, Limpakuwus, Kemutug Lor dan Sumampir rutin mengajar sebab merasa asik. Style Bhinneka Ceria, kata dia, adalah anak-anak yang juga suka traveling, mengajar ke Desa di lereng Gunung Slamet dibuat seperti jalan-jalan menelusur alam lereng Gunung Slamet sembari menyatu dengan warga desa setempat.

Suasana asik terus menerus dikreasikan, termasuk dengan membuat Radio Streaming Bhinneka Radio. Sambil asyik belajar broadcast,  ruang kreasi dan gairah para relawan terakomodir.

“Sekarang kami punya ruang broadcast, BhinnekaRadio. Radio ruang yang asik, namun tetap dalam alur ngobrolin dunia pendidikan di Indonesia. Sekaligus saking berjejaring dengan¬† pegiat sekolah alternatif di seluruh nusantara, ” kata dia.

Mengabdikan di dunia pendidikan ternyata banyak teman, relawan Bhinneka Ceria, kata dia sering jalan-jalan keluar kota. Sekaligus traveling bermain ke Yogyakarta, Bandung, Semarang dan Malang.

“Bahkan kami punya banyak teman yang mengabdikan diri di Papua. Mereka juga sering ke Sekolah Bhinneka Ceria, relawan jadi merasa semakin keren dan ruangan asik karena temannya banyak hingga dari Papua, ” kata Nisa Lutfiana.

Begitu asiknya ruang pengabdian di Bhinnekaceria dibangun. Banyak pula, kata dia, mahasiswa yang bahoan masuk akun instagram Unsoed cantik menjadi relawan dan pengurus di Bhinneka Ceria.

“Jadi kata siapa anak-anak gaul itu tidak peduli sosial. Kalau kepedulian hanya digambarkan dengan demonstrasi di jalanan, itu terlalu angkuh. Anak anak gaul tidak apatis, bahkan lebih bisa jadi ternyata lebih konsisten karena tulis dari nurani, ” kata dia.

Keasikan lainya yang sering mempengaruhi jumlah relawan, kata Nisa, adalah saat bermain bersama ke alam seperti ke curug dan sungai dengan anak-anak kecil yang menjadi peserta didik Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria.

“Kalau main ke alam, bermain di suangi dan air terjun. Yang senang tidak hanya anak-anak kecil peserta didik, tapi yang mengajar juga ikut senang, ” kata dia

Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria, kata Nisa, juga bahkan sempat membuat Kafe Cocoteh. Ruang nongkrong yang asik sekaligus bisa menambah pemasukan, meskipun kemudian tutup karena kokinya harus pergi ke Jakarta.(kim)

Sekretariat: Jl.Riyanto No.94 Sumampir, Purwokerto Utara.

Website: Bhinnekaceria.com

Radio: Dengerin.bhinnekaradio.com