Memahami Problematika Strawberry Generation

Jika kita mau jujur, saat ditanya gambaran nyata anak dan pemuda saat ini seperti apa? Maka saya bisa jawab seperti strawberry. Kenapa harus strawberry? Sebabnya generasi muda dan anak-anak kita sekarang ini sedang suka memamerkan warna-pesona hidupnya, tetapi miskin dengan aksi perbuatan nyata. Kita bisa saksikan bagaimana generasi muda dan anak-anak kita yang sering memotret diri, lingkungan, dan kenyataannya untuk diungguh dai sosial media, tetapi miskin dengan aksi dalam mengatasi persoalan diri dan lingkungannya.

Problematika ini yang dibahas dalam buku Strawberry Generation karya Rhenald Kasali ini. Buku yang merupakan kumpulan artikel up to date yang pernah dipublikasikan di media massa ini, dengan detil memberikan pemahaman atas problematika strawberry generation yang sudah dalam kategori mengkhawtirkan, yang jika ini dibiarkan, maka bangsa kita akan menjadi bangsa pemalas yang tertinggal karena lebih memilih untuk selalu mengonsumsi dari pada memproduksi.

Untuk itu, di bagian awal bab ini, buku ini sudah membahas dengan menarik soal pola pikir (mimdset) sebagai sumber persoalan strawberry generation (hlm. 1). Strawberry generation adalah generasi yang pola pikirnya dikuasai oleh kemalasan dan kemanjaan yang akut. Malas untuk belajar, bekerja, dan berkarya yang berujung pada kemanjaan untuk berbuat dalam mengatasi persoalan hidup yang menjeratnya. Generasi ini suka lari dari kenyataan kemudian membangun wacana (hlm. 28) tanpa berani mengatasinya.

Atas problematika ini, maka dibutuhkan sikap dan aksi nyata untuk mengatasinya melalui ruang pendidikan yang padu, yaitu pendidikan dari sektor keluarga, sekolah, dan masyarakat sekelilingnya. Ini dilakukan karena mindsetstrawberry generation ini dibentuk dari ruang pendidikan ini. Ruang pendidikan awal dimulai dari keluarga, di mana orang tua harus bisa mengadopsi pola pendidikan dari kurikulum (hlm. 86) yang baik, yaitu kurikulum tantangan yang fokus pada pendidikan anak untuk berani berbuat dalam mengatasi berbagi tantangan yang yang ada.

Dilanjutkan kemudian pendidikan di sekolah dan rumah yang tidak hanya berorientasi pada sarjana kertas. Akan tetapi, lebih dari itu, harus mampu mewujudkan pendidikan yang berbasis pada sikap moral dan tindakan (hlm. 113). Artinya, pendidikan harus diorientasikan untuk mampu membentuk generasi yang memiliki integritas tinggi dalam berperilaku baik dengan bertindak nyata dalam mengatasi berbagai problematika yang dihadapinya, baik dalam kehidupannya sendiri, orang lain, atau masyarakat.

Dengan cara ini, strawberry generation ini bisa diatasi. Kita akan mewujudkan generasi kita seperti layaknya menjadi garuda yang tangguh seperti yang diharapan ibu pertiwi (hlm 205). Generasi yang mampu terbang tinggi dalam mengatasi segala keterbatasannya, dan mampu membawa perubahan kemajuan yang nyata bagi bangsa ini.

Dari sinilah, buku ini merupakan referensi bagi orang tua dan guru dalam memahami problematika yang dihadapi generasi kita. Dengan kita tahu problematika ini, maka pemikiran atas solusi dalam mengatasi problematika strawberry generation ini bisa kita pakai dalam mengatasi persoalan ini.

Peresensi:

HERU KURNIAWAN

Dosen di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Pegiat Literasi di Kampung Literasi Wadas Kelir SKB Purwokerto

 

Judul Buku                   : Strawberry Generation

Penulis                         : Rhenald Kasali

Halaman                     : 279 halaman

Tahun                          : I. Juni 2017

Penerbit                      : Mizan

ISBN                             :  978-602-441-029-2