Seiring perkembangan zaman, teknologi berkembang semakin canggih. Buat mereka yang tak bisa mengikutinya, otomatis akan kian ketinggalan. Lebih buruknya kita akan tergerus dengan kemajuan tekhnologi itu. Dengan perkembangan tersebut, sastra yang dianggap kuno juga harus berusaha mengikuti perkembangan tekhnologi, seperti ikut berperan serta dalam berbagai media sosial.

Hal itu yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengatas namakan dirinya komunitas sastra, Garba Aksara. Mereka mencoba mengikuti perkembangan zaman dengan mengemas sastra lebih menarik perhatian masyarakat. Seperti memanfaatkan betul perkembangan teknologi media sosial.

“Kita hidup di zaman milenial. Sastra masih dianggap asing dan kuno jadi kita bentuk peremajaan sastra dengan mengikuti perkembangan zaman,” ujar Pangakar atau Ketua Garba Aksara, Azzah Zulfa Maulana.

Berangkat dari tujuh orang yang menyukai sastra, Garba Aksara dibentuk pada tanggal 1 September 2016 lalu. Memang. Azza menceritakan awal mula didirikan komunitasnya. Berawal dari tujuh orang yang demen dengan sastra mereka berkumpul kemudian membentuk sebauh perkumpulan. “Awalnya kami sering dikira bagian dari UKM ataupun BEM karena anggotanya statusnya masih mahasiswa semua. Kemudian karena itu kami namakan Garba Aksara sebagai komunitas,” kata dia.

Garba sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang artinya Rahim, kemudian untuk Aksara sendiri artinya adalah tulisan. “Rahim itu tempat berlindung atau wadah, tempat bertumbuh dengan harapan bisa menjadi wadah para penikmat sastra di Purwokerto. Kita ada untuk bertumbuh berproses,” kata dia.

Bertumbuh dan berproses yang dimaksud yakni membawa satra dalam mengikuti perkembangan yang ada, seperti pada perkembangan tekhnologi yang semakin pesat. Mereka benar-benar berusaha memanfaatkan media sosial semaksimal mungkin.

Walaupun pada praktiknya memanfaatkan media sosial ada pro kontranya. Dari mulai pengutipan tanpa menyertakan penulisnya, bahkan yang terparah mengakusisi tulisan ataupun puisi orang lain. “Ini bagian dari peremajaan sastra, karena peremajaan sekarang dikuasai oleh media sosial, di titik itu ada sastra cyber dimana ada pro kontranya. Sekarang banyak anak-anak membuat kutipan puisi, tidak meninggalkan nama pengarang aslinya, sekarang memang gampang copy paste, kita berharap hal ini tidak terjadi terus,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Garba Aksara sering kali memanfaatkan media sosial, seperti Instagram, LINE dan beberapa media sosial lainnya. Dimana mereka sering kali melakukan bedah puisi ataupun tulisan dari para penikmat sastra. “Kita ada kegiatan yang diberi nama Malam Berpena. Kita menerima puisi-puisi dari orang-orang melalui LINE, kemudian kita seleksi hingga akhirnya kita bedah. Ini bentuk apresiasi kita kepada para penulis,” kata dia.

Selain itu, masih bagian dunia cyber yang memang sekarang ini banyak digandrungi generasi muda. Agar mereka lebih mengenal dan menyukai sastra, Garba Aksaran memodifikasi bentuk ataupun tampilan dari sastra, sehingga orang akan berminat untuk membaca bahkan mencintai sastra. “Biar tidak kuno kita buat video, kemudian misalnya anak-anak sekarang main medsos kita bentuk sastra lebih apik. Karena kita ingin satra bisa menjadi bagian dalam hidup,” ujarnya.

Sedangkan menurut Humas Garba Aksara, Aulia Reksa Negara untuk lebih membuat sastra diterima oleh anak muda, mereka juga giat melakukan promosi, seperti on air di radio, ataupun membuat event-event. “Kita sering membuat event, tetapi memang tergantung mood, selain itu kita tidak menunggu momentum tetapi dadakan,” kata dia.

Garba Aksara memang belum pernah melakukan open recruitment. Namun, mengingat perkembangan yang semakin maju dan harus selalu ada regenerasi, Garba Aksaran pun mulai melakukan open recruitment. Tidak ada syarat khusus, hanya berniat menjadi bagian dari sasatra. “Bisa menghubungi official line kami atau di instragam,” ujar Reksa.

Bagi Anda yang berminat bisa menghubungi, whatsapp di nomor handphone 081-226-705-885, atau official LINE @vk8896l dan Instagram @ garbaaksara_.(Shandi Yanuar)