Suara adzan Subuh terdengar sangat parau. Dia mengumandangkan adzan Subuh dengan benar, tapi secara estetika adzan Subuh itu sangat mengganggu tidur warga, karena sama sekali tidak enak untuk didengar. Sengaja pengurus masjid menetapkan dia sebagai muadzin sudah hampir sepuluh tahun, karena adzan Subuhnya pasti membangunkan orang yang terlelap sekalipun. Adzan Subuh dikumandangkan dengan cara tak beraturan. Walau benar. Akan tetapi nadanya sama sekali berubah-ubah setiap kali dikumandangkan, ya dia Slamet Kamir tukang bersih bersih surau yang ada di Kampung Jatiwinangun.

Oleh : Edy Sarwono

Badan Pengawas Dewan Kesenian Banyumas

Setiap hari sebelum menjalankan aktifitasnya berjualan kamir keliling kampung, setelah mempersiapkan jualanya, Slamet selalu datang ke surau untuk melakukan kegiatan rutinnya, bersih bersih surau. Walau seorang diri, dan tanpa bayaran Slamet terlihat sangat ikhlas. Dalam hidupnya selalu terpancar rona kebahagiaan, selalu ada senyum yang mengembang, walau senyumnya terlihat setengah setengah, namun slamet dibandingkan dengan siapapun, slamet selalu tersenyum, bahagia luar dalam. Suatu saat saat pulang dari surau, Slamet menegurku “Tumben mas kok salat Subuh ke masjid, sudah dapat hidayah ya. Senang melihat mas mau ke masjid” sapaan Slamet sangat membuat aku terpojok, sangat membuat aku terlalu kecil di hadapnya. Padahal Slamet hanya seorang pedagang kamir keliling. Namun pertanyaanya sangatlah merisaukanku. “Iya Met. Palah belum tidur ini, baru begadang, belum bisa tidur dari tadi jadi salat di masjid.. “ sahutku sambil menghentikan langkah tepat di depan rumahku.

“Jadi ke masjid salat Subuh karena baru begadang mas, ya gak papa, alasan apapun ke masjid lebih baik dari pada tidak ke masjid. Ke masjid karena diperintah istri, apa karena rikuh dengan mertua, apapun alasanya itu lebih baik mas,” duh perkataan Slamet benar-benar bak petir dalam telingaku. Slamet seolah menjadi seorang kyai besar, dia bisa memahami dan bisa memberikan seuatu sesuai dengan kasunyatan.. dengan rasa yang agak sedikit malu aku kembali heran dengan pemikiran Slamet. “Gimana Met kabar kamu, kamu sudah punya rumah, punya tabungan dari penjualan kamir, sekarang umur kamu sudah hampir 50 tahun kok kamu belum nikah. Cari Met, jangan kamu hanya ditemani kucing saja kalau di rumah” pertanyaanku memang untuk mengalihkan pikiranku yang kacau. Slamet terdiam, seolah pertanyaanku itu menjadi sebuah beban pikiran, namun Slamet tersenyum dengan keceriaan. “Mas mas gak papa gak nikah, aku juga gak pernah protes ke Tuhan kenapa belum nikah, Tuhan selama ini sudah banyak memberikan kebahagiaan, Tuhan selama ini telah memberikan segalanya kepadaku, kalau aku belum diberi jodoh, bukanlah gak ada wanita yang mau, akan tetapi ini semata mata kehendak Tuhan. Tuhan Maha Tahu, Tuhan tidak mau melihat aku sedih mas, karna kalau punya istri belum tentu aku gembira mas, Tuhan paham benar bagaimana membuat aku bahagia, sehingga Tuhan belum memberi jodoh ke aku mas”ya kembali aku terheraan heran dengan jawaban Slamet. Seperti seorang filusuf besar, seperti ulama besar yang ngomong tentang kebesaran Tuhan.

“Tapi kan kamu perlu teman Met” tanyaku ke Slamet. “Mas di dunia ini temanku adalah semua, alam semesta ,pekerjaan, masjid, dan kucing di rumah, itu adalah temen yang sangat membuatku bahagia. Aku ke masjid mas bukan semata-mata untuk mengumandangkan adzan, akan tetapi di masjid kebahagiaan aku dapat mas. Aku jualan kamir adalah sebuat pertemanan yang sejati, karena aku akan jualan kamir sampai Tuhanku memanggilku, hidup memang indah mas, kalau sudah berniat ikhlas dan iman yang tinggi, aku mengumandangkan adzan juga menjadi sebuah pertemanan mas. Dengan adzan yang sangat parau dan diprotes warga, aku sudah sangat bahagia mas, adzan adalah temanku yang paling setia mas, adzan ku selalu membuat hati ini sangat sejuk. Jadi bagi aku semua perjalanan hidup, adalah sebuah pertemanan yang paling setia dan indah kalau dihayati semua akan membuahkan sebuah kegembiraan mas”.

Wow jawaban Slamet sangat membingungkan pikiranku, jawaban Slamet bagai seorang filusuf Yunani. Aku juga semakin bingung memahaminya.” kamu sehat Met “ aku tegaskan kalau Slamet Kamir tidaklah gila atau stres, karena dari tadi dia menjawab sesuatunya dengan jawaban yang sangat sulit dinalar sangat sulit dicerna dengan pikiranku, akan tetapi jawaban Slamet sangatlah rasional.

“Met kamu jualan kamir bisa nabung gak. Tapi tak lihat kamu sudah bisa beli rumah dan motor bekas. Lumayan ya untungnya” tanyaku dengan tujuan menerima jawaban yang ringan dari Slamet. “Mas aku jualan kamir sudah hampir sepuluh tahun. Sejak juragan Arabku meninggal, Alhamdulilah aku sudah bisa mencuri resep untuk membuat kamir. Hampir sepuluh tahun mas. Jadi selama ini memang aku sisikan keuntungan aku tabung mas, tanpa hari tanpa menabung mas. Baik lima ribu, tapi paling banyak sehari aku nabung Rp 20 ribu, kalau kamir lagi laris, jadi dengan tabungan itu aku beli rumah dan motor. Buat apa dapat penghasilan besar tapi tidak ada sisa untuk ditabung. Kalau orang pinter palah kurang, kadang untuk menutup kekuranganya dengan hutang, terus kapan kayaknya, orang pinter kadang palah banyak utang mas” jawaban Slamet kembali seperti ekonom kelas tinggi, seolah dia adalah pakar bagai mana mengelola penghasilan.

Kembali Slamet menceritakan tentang dirinya, Mas aku gak mau kaya lah, karena dengan begini aku juga sudah gembira. Kekayaanku yang utama adalah rasa syukur kepada Gusti Allah, kekayaanku yang utama adalah bisa selalu sehat mas, tidak ada penyakit yang aneh-aneh. Bener mas, Tuhanku juga tidak mau menjadikan aku jadi kaya, karena jika aku kaya mungkin aku tidaklah bahagia, Tuhan bisa menakar dengan pas tentang hidup saya, Tuhan tau mas cara membuat saya bahagia.” jawaban slamet kembali luar biasa.

Namun tak terasa perbincangan kami sudah hampir setengan jam. Slamet pun pamit” mas aku mau ider kamir dulu. Kasihan sudah banyak langganan yang nunggu, mas mau tak kirim kamir nanti, ada rasa stroberi yang terbaru,  “Semua harus menjadi teman mas, bahkan sebuah pekerjaan adalah teman yang paling setia. Jadi teman bukan hanya manusia saja mas, tapi seluruh alam semesta dunia ini adalah teman kita mas, dan itu semua yang akan membuat kita bahagia, monggo mas saya pamit dulu”

Ya aku pun masuk rumah, membuat kopi dengan membaca koran kemarin, karena koran hari ini belum dikirim, namun kata-kata Slamet selalu terngiang. Slamet yang hanya pedagang kamir tapi mampu menjawab sebuah pertanyaan yang sangat mendekati kasunyatan, Slamet yang tidak tamat SD mampu memberikan sebuah arti kehidupan, arti sebuah kebahagiaan yang sebenarnya, sambil terkatuk, terdengar “kamir kamir kami ” teriakan slamet menjajakan kamirnya.