PURWOKERTO, SATELITPOST-Seorang pria bernama Dwi Sampurno (61), warga Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga bunuh diri dengan cara membiarkan tubuhnya dilindas kereta api yang tengah melintas di wilayah Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Minggu (20/8) sekitar pukul 18.48 WIB. Korban meninggal dunia di lokasi dengan kondisi kepala terpisah dari badan.

Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Ixfan Hendriwintoko mengatakan telah mendapat laporan dari pelaksana harian PAM Daop 5 jika ‎Ka Kp/10068 GBM premium relasi Pasar Senen-Surabaya. Laporan itu menyebut telah tertemper seorang laki-laki di Km 352+5 Pangebatan antara petak stasiun Purwokerto-Notog.

“Petugas kami sudah mendata korban dan melakukan koordinasi dengan Polsek Karanglewas. Selanjutnya ditangani Polsek setempat,” katanya.

Kapolres Banyumas, AKBP Aziz Andriansyah SH SIK MHum melalui Kapolsek Karanglewas, AKP Sus Irianto SH mengatakan, setelah mendapat laporan warga, ia langsung datang ke lokasi kejadian. “Dari olah TKP, dimungkinkan korban bunuh diri dengan cara tidur di rel kereta api. Tubuhnya terseret sejauh 15 Km dengan kondisi mengenaskan,” katanya, Senin (21/8).

Selanjutnya, korban dibawa ke Puskesmas Karanglewas. Setelah keluarga korban datang untuk memastikan jenazah merupakan keluarganya kemudian jenazah korban dibawa ke RSUD Margono Soekardjo untuk dilakukan otopsi dan penyambungan bagian tubuh korban yang terpisah. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga disaksikan Kades Majapura. “Dari keterangan pihak keluarga, diduga korban‎ nekat mengakhiri hidupnya karena memiliki permasalahan keluarga,” kata Kapolsek.

Di lokasi kejadian juga ditemukan dua lembar kertas yang diduga ditulis Dwi Sampurno sebelum bunuh diri. Dalam lembar kertas pertama, ia membuat sebuah pengakuan. “Saya begini karena kecewa berat dengan polisi yang bertugas di Polsek Bobotsari. Pada tanggal 13-8-2017saya sedang sholat maghrib motor dibawa maling. Padahal bukan motor sendiri. Seitar jam 18.30 saya lapor ke Polsek Bobotsari tidak ada respon sama sekali. Bahkan saya cuma disuruh nunggu 30 menit baru boleh pulang. Polisi begitu mestinya harus dipecat.

Sementara di lembar kertas kedua, ia menyampaikan wasiat untuk anaknya.Mbar Bapak njaluk tulung karo ko njalukna pangapura maring keluarga Tunjungmuli. Angger Mbaeh Ferdi wis kondur haji matur Bapake ora bisa nglironi motor sing ilang.

Kapolsek Bobotsari AKP Ridju Isdiyanto membantah isi surat wasiat almarhum Dwi Sampurno yang menyebut pihaknya tidak merespons laporan yang disampaikan almarhum. AKP Ridju mengatakan, almarhum Dwi bersama anak mantunya, pada hari Minggu selepas magrib melaporkan sepeda motornya hilang dicuri saat salat berjamaah di masjid. Laporan itu direspons anggota Polsek yang sedang piket dan dibuatkan laporan kehilangan. Namun, saat itu korban tidak membawa STNK, sehingga ia diminta untuk mengambil STNK itu.

“Saat itu, korban tidak membawa STNK. Ia hanya membawa kunci kontak sehingga oleh petugas piket dicatat identitas pelapor, sepeda motor dan tempat kejadian. Tapi kan untuk kelengkapan laporan, perlu ada STNK untuk nomor rangka dan sebagainya, mereka disuruh mengambil dan ditunggu 30 menit, namun dia (korban) bilang untuk kembali besok (Senin,red). Disuruh anggota kalau bisa sebelum jam 9, agar orang yang piket belum ganti, tapi sampai sekarang tidak datang lagi. Dia itu kan datang ke Polsek Minggu tanggal 13, pukul 18.15 WIB, diterima dua anggota piket, intinya dia kehilangan motor, sudah dibuatkan surat tanda penerima laporan dan disiapkan LP-nya, lalu ditanya STNK-nya,” kata Kapolsek.

Dwi sempat meminta untuk datang jam 11.00. Tapi sampai malam hari korban tidak datang lagi ke Polsek. “Nah sampai malamnya, tidak datang lagi, padahal yang LP tinggal ngeprin saja kalau sudah lengkap, artinya kami merespons. Tapi malah dapat info yang surat curhatannya itu,” ujarnya. (raremio@gmail.com/aminbellet@gmail.com)