Pengguna Narkoba di Banyumas Tinggi

Peringkat Tiga di Jawa Tengah

PURWOKERTO, SATELITPOST-Data Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyumas menyebutkan peredaran narkoba di Banyumas tertinggi ke tiga di Jawa Tengah setelah Solo dan Semarang.

“Dari pemetaan konsumsi atau penyalahgunaan narkoba di sini (Banyumas, red) cukup tinggi, oleh karena itu BNN fokus ke pencegahan dan pemberdayaan masyarakat, kemudian ketika dicegah tidak ada yang mengkonsumsi, barang tersebut tidak laku dijual,” ujar Kepala BNNK Banyumas, AKBP Drs Azis Nurwanto, Senin (24/7).

Dari pantauan BNN, sindikat pengedar narkoba di Banyumas terbilang tinggi. Ini terlihat dari beberapa kasus yang berhasil diungkap, baik oleh Polisi maupun BNN. Pengedar narkoba di antaranya berasal dari Banyumas. Namun beberapa dari luar Banyumas. Ia mengatakan, para tersangka yang asli orang Banyumas jutru tertangkap di daerah lain, bukan tinggal di Banyumas. “Beberapa penangkapan bandar besar itu ada kaitannya dengan Banyumas, seperti yang kemarin bandar ditangkap terus melawan kemudian ditembak mati itu jalurnya banyumas, serta dibeberapa tempat lainnya, seperti di Yogyakarta mereka menemukan bandar kemudian setelah dicek ternyata jalurnya di Banyumas, dan diburu hingga ke Banyumas kemudian tertangkap,” kata dia.

Untuk jalur distribusinya, Azis mengungkapkan Jakarta masih menjadi pemasok terbesar dibeberapa daerah, tak terkecuali Kabupaten Banyumas. “Dari Banyumas kemudian terbagi ke wilayah Kebumen dan Banjarnegara, kemudian kembali lagi ke Banyumas karena kebutuhan di Banyumas itu banyak, itu dari data-data yang sudah terungkap atau tertangkap,” ujarnya.

Sasaran pengedar narkoba antara lain kaum pekerja yang angkanya sekitar 50 persen. Kemudian 27-28 persen merupakan pelajar atau mahasiswa. “Itu data yang sudah terpapar, yang membahayakan datanya ketika kami BNN melakukan penelitian dengan UI, Jawa Tengah ini prefalensinya untuk pelajar yakni 1,9 persen atau mendekati 2 %, artinya dua dari 100 pelajar itu terpapar narkoba, ini menakutkan. Ini angka yang sangat tinggi,” kata dia.

Bagi pelajar dan mahasiswa masih menurut Azis, saat ini mereka banyak yang melanggar Undang-udang No 36 tentang Penyalahgunaan Obat-obatan atau obat-obatan dengan daftar G. Dalam hal ini BNNK tidak dapat melakukan penindakan, namun disiasati melalui kerja sama dengan pihak Kepolisian. “Kalau Kepolisian itu ada tindakan terkait penyalagunaan obat-obatan, kalau kami menggunakan UU 35 tentang Narkotika itu,” ujarnya.

Namun, untuk penyalahgunaan obat daftar G juga cukup meresahkan di wilayah Kabupaten Banyumas. Menurutnya, peredaran obat-obatan tersebut sudah sampai ke desa-desa. “Di kota itu yang paling banyak, tetapi untuk level dua dari monitoring kami, ada di wilayah Ajibarang, Sumbang, Sumpiuh dan Tambak. Kalau penyalahgunaan narkoba di Banyumas paling banyak itu sabu-sabu, jika ganja sekarang banyak yang mensintetiskan kemudian dicampurkan ke tembakau jadi seperti tembakau gorilla yang sempat ramai itu,” kata dia.(san)