ilustrasi grafis galih yoga. satelitpost

PURWOKERTO, SATELITPOST-Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banyumas 2018 sudah memasuki tahapan kampanye. Meski demikian, dinamika politik masih terbilang sepi dan adem ayem. Tak hanya semarak alat peraga kampanye (APK) yang belum terlihat, jual beli serangan isu strategis pun belum kentara.

Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED), Indaru Setyo Nurprojo mengamini fenomena ini. menurutnya, dinamika Pilkada Banyumas 2018 tahun ini terbilang lebih sepi dibanding gelaran sebelumnya di tahun 2013. Walaupun kedua calon merupakan muka lama yang sudah saling tahu profil lawan masing-masing, tetapi belum mencuat perang ide dan gagasan antar pasangan calon.

Ia menyebut tiga faktor yang mungkin menjadi penyebab kondisi minim dinamika di Pilkada Banyumas. Faktor pertama adalah aspek finansial dari masing-masing kubu.

Ia menjelaskan, dengan masa kampanye yang cukup panjang, setiap pasangan calon akan lebih berhati-hati untuk mengelola keuangan. “Mereka akan mengatur dana kampanye seefisien mungkin untuk bisa menggaet basis masa yang besar,” kata dia.

Hal ini berpengaruh pada pengerahan massa dalam jumlah besar dan kegiatan-kegiatan kampanye yang gemebyar.  Pengelolaan dana kampanye yang efisien ini bisa jadi terjadi karena masing-masing calon sudah belajar dari Pilkada yang lalu. Yakni, bahwa mengeluarkan dana jor-joran tidak selalu memberikan kemenangan.

Faktor yang kedua yang disebut Indaru adalah semakin ketatnya aturan yang membatasi ruang gerak pasangan calon. Seperti halnya, terkait jumlah dan ukuran APK dan penggunaan dana kampanye.

Kemudian yang ketiga, karena pengalaman dari pilkada sebelumnya. Seperti diketahui, sebelumnya Achmad Husein dan Mardjoko bertarung di Pilkada 2013, sehingga keduanya akan lebih berhati-hati karena tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Menurutnya, pilkada tidak akan terus-menerus sepi. Ia meyakini, ke depannya dinamika politik yang terjadi akan terus naik. “Mendekatnya Toto Dirgantoro ke gerbong Achmad Husein-Sadewo salah satunya. Hal tersebut merupakan wujud manuver dari pendekatan-pendekatan politik yang dilakukan paslon mulai berlangsung. Itu adalah pendekatan jaringan personal belum karena mesin partai yang bekerja,” katanya.

Ia menambahkan, ketika nantinya kerja-kerja mesin partai bergerak lebih maksimal maka akan lebih dinamis lagi perebutan kursi bupati dan wakil bupati tahun ini. (CR3)