ilustrasi

PURBALINGGA, SATELITPOST – Politik uang masih menjadi ‘hantu’ pada penyelenggaraan Pemilu 2019 di Purbalingga. Bukan hanya mencoreng wajah demokrasi, amplop-amplop yang beredar dalam sunyi juga sulit dideteksi.

 

Atas gaib dan akutnya tindak kecurangan pemilu tersebut, Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga yang digawangi Bowo Leksono berusaha mendokumentasikannya. Bukti pertama dia dapatkan di rumahnya, Desa/Kecamatan Bukateja. ”Istri saya mendapatkan dua amplop masing-masing berisi uang Rp 20 ribu dan kartu pintar pemilu berisi foto caleg DPR RI,” ujarnya pada Rabu (21/4).

 

Berbekal temuan, Bowo dan timnya berusaha tabayyun dengan caleg bersangkutan maupun tim sukses, tentu saja aksi tersebut didokumentasikan. Sayangnya, di rumah caleg dia hanya bertemu anggota keluarga, sementara dengan timses, mereka enggan difilmkan.

 

“Mungkin memang film tidak sempurna karena kasusnya Pak R saya engga ketemu orangnya, tapi saya sudah bilang saya tunggu sampai tengah malam untuk klarifikasi. Kalau engga, videonya apa yang saya dapat saya posting,” katanya.

 

Klarifikasi dari caleg batal didapatkan, dia pun mengunggah video melalui akun media sosial pribadi miliknya untuk menguggah keberanian masyarakat. Benar saja, beragam tanggapan yang membeberkan fakta serupa memenuhi kolom komentar.

 

Sedikitnya ada dua foto berisi uang Rp 50 ribu dan kartu pintar dari caleg DPRD Kabupaten Purbalingga yang berbeda. Sementara warga lain mengaku mendapatkan amplop, hanya saja tidak didokumentasikan. “Biar masyarakat ngerti, biar ada keberanian, bahwa ada pelanggaran harus dikabarkan ke banyak orang. Sesimpel itu tujuan kami, tidak ada maksud apa-apa,” ujarnya.

 

Bowo memilih untuk tidak melaporkan temuan tersebut ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Purbalingga. Dia tidak ambil pusing apakah akan ditindaklanjuti atau pun didiamkan. Terang-terangan dia mengakui ketidakpercayaan kepada lembaga penyelenggara pemilu. Menurutnya, lembaga tersebut tidak pernah punya kekuatan besar untuk bisa mengatasi pelanggaran.

 

“Dari awal tujuan kami memang tidak untuk diselesaikan oleh Bawaslu atau siapa pun. Kami ingin menggambarkan bahwa inilah realita yang terjadi,” ujarnya.

 

Ketua Bawaslu Purbalingga, Imam Nurhakim mengatakan, pihaknya telah berupaya memerangi   money politic. Baik dengan sosialisasi pengawasan partisipatif maupun blusukan pada tiga hari masa tenang.  Tetapi, ‘hantu’ money politics itu lebih samar dari yang diharapkan. Amplop-amplop beredar sunyi dari tangan ke tangan di keheningan pelosok desa. Operasi tangkap tangan pun nihil didapatkan.

 

Begitu pun jika nanti diusut oleh Bawaslu, kemungkinan akan menemu penyangkalan. Apa lagi jika para kontestan malah mengorbankan tim kampanyenya sendiri. “Kami sudah mendapat informasi. Untuk saat ini kami menelusuri informasi awal dugaan money politic tersebut,” kata Imam. (cr3)