Suprapti, Pemilik Hira Rajut

ADA banyak cara bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Bebarapa orang memilih untuk melakukan perjalanan (travelling) atau sekadar berkumpul dengan rekan sejawat sembari berwisata kuliner.

Kedunya mungkin hal yang jamak ditemui di kalangan ibu rumah tangga. Tidak begitu halnya dengan Suprapti. Pemilik Hira Rajut ini mengisinya dengan hal yang tak pernah terpikirkan di dalam hidunya. Yakni berkutat dengan jarum dan benang.

Perkenalannya dengan dunia rajut merajut berawal dari keisengannya berselancar di dunia maya usai melakukan salat tahajud.

“Awalnya itu 2011, awalnya karena tidak bisa tidur setelah solat, baik setelah tahajud maupun solat Subuh, karena saya biasa bangun pagi. Nah saya baca-baca di internet, akhirnya menemukan kreasi dari merajut, lalu saya mencobanya,” ujar wanita yang asal Desa Kalikajar Kecamatan Kaligondang ini.

Suparpti Beserta Keluarga

Suprapti mempelajari teknik dan seni merajut secara otodidak. Rasa ingin tahu dan ingin “bisa” menuntun Suprapti terus dan terus berlatih merajut.

Saat awal belajar rajut, dia hanya berpikir hanya untuk mengisi waktu luang membuat karya untuk dipakai diri sendiri. Berbagai asesoris, dia ciptakan dari rajutan tangannya. Berhasil, karyanya yang di antaranya berupa bros, pada hijab, dia ia pakai di tiap kesempatan. Hingga akirnya dilirik juga oleh orang-orang, dari situlah muncul dalam benaknya untuk memproduksi lebih banyak untuk dijual.

“Awalnya memang untuk sendiri, tapi kok lama-lama kepikiran kenapa tidak untuk dijual saja, toh bisa menjadi tambahan penghasilan, dan dari teman-teman juga ada tertarik, akhirnya saya bikin dan dijual,” kata ibu dua anak itu.

Prapti pun semakin terlarut dengan seni rajut. Berjalan bertahun-tahun dia isi hari-harinya untuk merajut. Terlebih, dari yang sekadar mengisi waktu luang, kini sudah bisa mendapat uang. Produksinya pun terus ia tambah jumlahnya. Dia mulai mencoba menawarkan karyanya di toko-toko aksesori dan busana.

“Pertama itu toko tempat saya biasa belanja, saya tawari untuk produk saya. Ya awalnya juga ditolak tapi ada juga yang mau dengan sistem titip barang dan toko yang menolak akhirnya juga mau,” ujar dia.

Diceritakan ada sebuah pengalaman yang tak bisa dia lupakan saat menawarkan hasil kerajinan tangannya. Di mana suatu hari Suprapti mendapatkan pesanan  500 pieces aksesori. Tepat di hari H, dirinya membawa pesanan ke toko tersebut, secara tiba-tiba pemilik toko mengatakan jika pesanan tersebut batal.

“Saya langsung down saat itu,” ujarnya mengenang.

Ternyata, pemilik toko tersebut tidak jadi pesan 500 pcs, melainkan menambahkan pesanan dua kali lipat. Menjadi 1000 pcs. Momen tersebut membuat Suprapti merasa terharu sekaligus termotivasi untuk terus mengembangkan usahanya yang kini telah meraup omzet hingga puluhan juta dalam satu bulan.([email protected])

Sukses Merekrut 30 Perajut

Tak pernah terbayangkan oleh Suprapti jika usahanya bisa berkembang seperti sekarang ini. Istri dari Ali Jumawa mengaku sampai kewalahan untuk memenuhi pesanan.

Untuk mengejar target deadline, dirinya pun mengajak saudaranya. Suprapti membagi ilmu merajutnya kepada dua saudaranya, harapannya mereka bisa membantu produksi.

“Dari awalnya dua orang yang masih saudara, sekarang sudah ada 30 orang yang ikut merajut dengan saya. Baik dari tetangga sampai teman luar desa,” ujarnya.

ibu-ibu rumah tangga sedang merajut dirumah Suprapti

Dia mengakui, mengajak atau menularkan ilmu rajut pada orang lain sempat menjadi kebimbangan darinya. Sebab, kawatir jika orang yang diajari nanti justru menjadi pesaing. Mereka akan menjual produk sendiri dan mempersempit lahan penjualan.

“Tapi kemudian saya berpikir bahwa rizki itu sudah ada yang mengatur. Rizki tidak akan tertukar justru saya bisa merasa bangga menularkan kemampuan kepada orang lain. Secara tidak langsung bisa membantu meringankan masalah orang lain,” katanya.

Perjalanan hidup manusia tidak ada yang mulus tanpa hambatan, termasuk dalam berwirausaha. Begitu juga dialami oleh Prapti (begitu dirinya akrab disapa). Di saat puncak-puncaknya kejayaan, produknya sudah dikenal oleh banyak orang dan kebajiran pesanan. Dia pun mendapatkan sandungan. Senyum bahagia karena banjir pesanan, harus berakhir dengan tangis kesedihan. Dia tertipu oleh klieannya yang jumlahnya tidak sedikit.

“Ada pesanan banyak, ketika saya kirim, ternyata pesanan tidak dibayar. Saya merasa down. Tapi kembali saya berpikir bahwa rizki tidak ada kemana, jadi saya terus menjalaninya,” kata dia.

Peristiwa itu tak menyurutkan langkahnya. Sekarang usahanya maju pesat. Tak hanya memproduksi aksesori tapi juga merambah memproduksi tas dan sepatu rajut. Bahkan, produknya justru lebih laku di luar kota dari pada di wilayah Purbalingga.

“Saat ini, per sepuluh hari, saya kirim 20 pasang sepatu ke orang Polda. Kalau tas dalam satu bulan rata-rata dia bisa pasarkan sampai 30 buah. Harga bervariatif, sepatu dari Rp 100-125 ribu, dan tas dari harga Rp 200-450 ribu,” katanya.(min)