Yuspita Palupi

Redaktur SatelitPost

PADA sebuah pameran produk kecantikan yang digelar di Bologna, Italia pada medio Maret tahun lalu, bulu mata dan rambut palsu buatan para perajin Purbalingga menjadi incaran para pelaku industri kecantikan mancanegara.

Bukan tanpa alasan. Hampir buyer mengakui jika bulu mata palsu dari Indonesia berkualitas tinggi. Dikerjakan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi meski dikerjakan secara manual atau handmade. Tentu saja, karena untuk memproduksinya ada sebanyak 10 proses tahapan yang tidak sebentar untuk menjadikannya unik dan spesial.

Mulai dari rambut dicelup dulu, dikeringkan, disasak, dicantel, diobat, digosok, dipotong, digulung, diikat, dioven, dibuka oven, dipotong bentuk, gunting, pasang, hingga packing. Semua dilakukan dengan tenaga manusia. Sentuhan humanis itulah yang membuat “nilai” estetika bulu mata dan rambut palsu produksi Purbalingga dengan mudah menjadi favorit dalam setiap pameran yang digelar di mancanegara.

Industri bulu mata palsu di Purbalingga ibarat sebuah harapan baru. Di tengah keterbatasan lapangan kerja dan tingginya angka pengangguran. Bagaimana tidak, industri ini menduduki peringkat kedua terbesar dunia karena ketererapan tenaga kerjanya.

Di Purbalingga sendiri, dari sekitar 30 pabrik bulu mata, kurang lebih ada sebanyak 30 ribu tenaga kerja yang terserap di bidang ini. Belum lagi mereka yang tersebar di plasma-plasma bulu mata yang ada di permukiman warga.

Namun seiring dengan perdagangan bebas, industri bulu mata palsu Purbalingga ternyata terkena dampaknya. Yakni penurunan permintaan yang diam-diam terjadi sejak tahun 2017. Akibatnya, secara halus ada ribuan buruh bulu mata yang dirumahkan.

Caranya beragam. Ada yang tak diperpanjang masa kontrak, ada yang di-delete karena tidak lolos masa training. Ada juga yang dipindahkan di divisi lain. Sehingga mau tak mau mereka pun harus belajar dari awal lagi.

Dampak paling nyata terlihat dari usaha plasma rumahan. Yakni pekerja yang dilakukan di rumah-rumah warga. Hampir rampak mereka tutup.

Perusahaan-perusahaan yang pabriknya ada di Indonesia boleh dikata “kalah saing” dengan perusahaan yang beroperasi di Tiongkok dan Asia Tenggara. Tak hanya dari sisi inovasi tapi juga dari harga jual yang lebih murah. Karena mereka menggunakan mesin. Sedangkan kita menggunakan tenaga manusia yang tentunya high cost.

Industri bulu mata di Purbalingga boleh dibilang tengah mengalami kelesuan. Jika tak disikapi dengan benar, akan berdampak pada kelangsungan industri tersebut di kemudian hari.

Persaingan era globalisasi dan ekonomi digital menuntut para pelaku industri tanah air untuk lebih “gila” dalam berinovasi. Persaingan bebas menuntut produk-produk yang dihasilkan juga memiliki nilai tambah yang kompetitif. Bisakah kita melakukannya? Kita harus bisa!!(yuspita@satelitpost.com)