R Raharjo Yusuf Wibisono, demikian nama lengkap sosok yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banyumas. Pria yang akrab disapa Yusuf  ini mengaku dirinya sangat bersyukur ditugaskan di Banyumas Jawa Tengah, mengawali promosi sebagai Kajari. “Saya bersyukur ditugaskan di Banyumas karena bisa bergaul dan tambah saudara,” kata pria kelahiran Tulungagung.

Seribu kawan rasanya kurang, seorang musuh terlalu banyak. Ternyata, petuah emas Sayidina Ali itu menjadi salah satu prinsip Yusuf dalam menjalani kehidupan. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini tumbuh dan dibesarkan di Semarang. Putra pasangan M Alie Machfudz Mashurie-Siti Solechah ini menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di Kota Semarang. Yusuf muda menempuh studi pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) hingga lulus tahun 1996.

Ditanya soal cita-cita, Yusuf mengisahkan pengalaman semasa kecil: mengejar layang-layang. “Meraih cita-cita itu ibarat mengejar layang-layang. Untuk mendapatkannya perlu kerja keras dan usaha maksimal. Kisah ini saya ceritakan kepada anak-anak sebagai motivasi,” kata penyuka sayur asem dan sambel trasi ini.

Seusai kuliah, pria yang pernah ingin jadi dokter ini sempat ikut dan lolos tes di Departemen Keuangan. Tak lama berselang, sang ayah memintanya mengikuti tes di Kejaksaan. Anjuran itu pun dilakoninya dengan senang hati. Singkat kisah, ia lolos tes di Kejaksaan dan peluang kerja di Departemen Keuangan ia tinggalkan.

Karir di jajaran Korps Adhyaksa dimulai dengan penugasan dirinya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak kurang dari enam setengah tahun suami Andy Emmy Mappanyompa ini bertugas di NTB. Bahkan kedua anaknya, Moch Louis F Damarjati dan Islamadinah Auliya Ghayanti, lahir di Mataram.

Setelah beberapa kali menjalani rotasi dan mutasi tugas, per 9 Oktober 2017 sosok berzodiak Taurus ini mendapat amanah sebagai Kajari Banyumas, menggantikan pendahulunya Nova Ellida Saragih yang mutasi ke Batang.

Pesan sang ayah menjadi bekal tersendiri bagi Yusuf dalam perjalanan hidup, di manapun dan apapun posisinya. “Bapak saya berpesan kepada kami agar tidak mengambil hak orang lain. Amanah beliau saya pegang kuat-kuat demi mendapatkan keberkahan hidup,” kata bapak dua anak ini.

Di lingkungan kerja, Yusuf dikenal sosok yang komunikatif, supel, dan murah senyum. “Saya sangat nyaman dan senang bekerja dengan beliau,” kata Heru (39), salah seorang pekerja di kantor setempat. (*)

Sukses Karir dan Keluarga

Bagi seorang Yusuf, sukses keluarga adalah hal utama. Urutan berikut adalah sukses karir. Betapapun, menurutnya, orang bekerja dan berkarir ujung-ujungnya adalah untuk keluarga. Maka, anak buahnya yang berasal dari luar kota dimintanya menengok keluarga minimal dua minggu sekali. “Sebagai pimpinan, saya wajib mengingatkan mereka. Masalah diikuti atau tidak, kewajiban saya sudah gugur,” kata pria yang gemar musik dan nonton bioskop ini.

Ditanya soal obsesi, berikut jawabnya. “Obsesi saya cukup sederhana. Sukses keluarga dan sukses karir. Tolok ukurnya sederhana, anak saya bebas dari narkoba,” ujarnya.

Terkait dengan pendidikan anak-anak, ia punya pandangan tersendiri. Menurutnya, zaman dirinya sekolah dulu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. “Dulu saya bisa memanfaatkan buku kakak saya. Orang tua tak pernah bingung dengan urusan sekolah anak-anaknya. Bahkan, saya mendaftar SMP dan SMA pun sendiri, tak didampingi orang tua,” kenang alumnus SD Negeri Gebangsari Genuk, Semarang.

Lain dulu lain sekarang. Kini orang tua amat terlibat dalam urusan pendidikan anak-anak. “Anak yang ujian saja, malah orang tua yang deg-degan,” kata mantan Koordinator Kejati Jateng itu.

Agar anak-anak punya kendali, menurutnya, bekal ilmu agama sangatlah penting. Untuk itu, ia mendatangkan guru ngaji untuk anak-anaknya. Di lingkungan keluarga, pria kelahiran 1972 ini menerapkan kesepakatan 1821. Yakni, mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB semua anggota keluarga wajib mematikan TV dan tidak mengoperasikan handphone. (*)