Sri Wahyuni AKS MSi, Ketua KPU Purbalingga

Kata “bersyukur” adalah kalimat singkat nan ringan. Tapi tak mudah untuk mewujudkannya. Hal itu tidak dipungkiri oleh Sri Wahyuni AKS MSi. Bukan perkaran mudah ketika dia mencoba untuk mensyukuri nikmat hidup yang ada pada dirinya.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Purbalingga ini berpendapat. Bentuk mensyukuri karunia Tuhan, bisa menerapkannya dengan berbagi terhadap sesama. Baginya, karena berbagi apa yang dia punya, bisa menjadi obat untuk menangkal munculnya rasa iri.

“Sebisa mungkin, hidup saya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar perempuan yang akrab disapa Yuni.

Selain karena dasar manusia sebagai makhluk sosial, rasa ingin berbagi juga muncul dari sebuah pengalaman hidupnya. Waktu itu, sekitar tahun 2005, kala Yuni masih menjadi pekerja sosial masyarakat (PSM). Saat itu, dia berkeliling ke desa-desa untuk mendata masyarakat penerima bantuan pemerintah. Sebuah peristiwa yang dia jumpai membuat tertegun.

“Waktu itu di Purbayasa, saya melihat seorang difabel yang kakinya tidak sempurna. Jadi kakinya mengecil sedang merangkak menuju sungai. Padahal medannya curam dan berbatu,” katanya.

Setelah didekati, diajak ngobrol, dan medengar kisah difabel tersebut semakin membuat hati Yuni terenyuh. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun, dengan kondisi seperti itu, orang tersebut hidup sebatang kara. Setiap hari dia merangkak turun naik ke sungai, untuk melakukan aktivitas mandi dan sebagainya.

Sejak saat itu dirinya bertekad untuk mendedikasikan diri untuk membantu sesama. Terutama memperhatikan orang-orang difabel. Tentu dia tidak bisa lakukan seorang diri. Dia mencoba mengajak teman dan relasinya. Tapi itu juga bukan usaha yang mudah. Berbagai halangan itu tidak menyurutkan niat baik Yuni.

Dia yakin, niat baik akan selalu mendapatkan petunjuk. Beberapa orang yang ia kenal pun mau bergabung untuk melakukan kegiatan sosial. Sebagian waktu Yuni, ia dedikasikan untuk kegiatan sosial. Di antaranya, dia juga lama menekuni aktivitas sebagai pembina di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI).

“Karena sejak peristiwa itu, saya berfikir, harus ada orang yang bergerak dan bisa menggerakan masyarakat. Sehingga bisa menggugah perhatian dari berbagai elemen termasuk pemerintah,” katanya.

Perjuangannya tidak sampai di situ. Membangkitkan semangat para penyandang disabilitas itu juga tidak mudah. Karena memiliki kurangan fisik, menjadikan kaum difabel cenderung kurang bersosialisasi. Dampaknya, perasaan orang tersebut sangat sensitif. Dalam memberikan pemahaman tentu harus pandai-pandai menyiasati.

“Ketika mau ada perkumpulan, awalnya saya harus jempur satu per satu. Ketika memberikan motivasi, perlu hati-hati karena mereka cenderung lebih sensitif. Tapi Alhamdulillah beberapa binaan sekarang sudah banyak yang mandiri,” ujarnya.

Pada tanggal 16 Februari tahun 2016, kepedulian Yuni mulai meluas. Tidak hanya pada kaum difabel saja, namun juga pada persoalan mendasar pembangunan manusia. Di antaranya ketertinggalan, kesenjangan, pengangguran, dan kemiskinan. Yuni bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Pilar.

Yuni mengatakan, Yayasan Pilar adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat independen, nirlaba, dan non partisan. Satu di antara misinya adalah penguatan dan pendampingan komunitas guna mewujudkan kemandirian melalui pendekatan pemberdayaan.

“Jadi Yayasan Pilar ini tidak hanya mengurusi kaum difabel saja, namun masalah sosial lainnya. Tapi di dalamnya termasuk kaum difabel,” ujarnya.

Kembali pada perihal syukur dan mensyukuri hidup. Berkerumun dengan orang-orang yang memiliki kekurangan. Baik dari kekurangan fisik, dan ekonomi, menjadi upah yang tak ternilai bagi Yuni. Karena, dari situlah dia bisa terus dan terus belajar tentang rasa syukur.

“Pelajaran yang tidak ternilai, sangat memberi manfaat bagi hidup saya, betapa ‘mlempem’ jika saya dengan kondisi yang normal, kehidupan yang cukup, tapi masih mengeluh. Memang benar, kita harus lebih banyak menunduk agar tahu dimana kaki kita berpijak,” ujarnya.(min)

Mengaktualisasi Diri Melalui Organisasi

Sebagai kaum wanita, Sri Wahyuni ingin menampik persepsi bahwa wanita hanya sebatas urusan kasur, dapur, dan sumur. Dia ingin menunjukkan bahwa wanita juga bisa melakukan peran lebih dari urusan rumah saja. Selain dari aspek pendidikan, Yuni juga gigih mengaktualisasi diri melalui organisasi.

Sebelum disibukan oleh tanggung jawab sebagai Ketua Yayasan Pilar, perempuan kelahiran Jakarta 9 September 1975 ini sudah aktif di organisasi Karang Taruna Kabupaten Purbalingga. Di dalam organisasi, Yuni berusaha mendapatkan ilmu dan pengalaman yang tidak ia dapatkan dari pendidikan formal yang dilakoni.

“Belajar di pendidikan formal itu perlu, pada lingkungan non formal, banyak ilmu dan pengalaman yang bisa bermanfaat untuk kehidupan. Alasan itu yang membuat saya suka bergaul dalam organisasi atau kelompok-kelompok masyarakat. Di situ juga kita bisa memberikan kontribusi jadi hidup lebih bermanfaat,” kata istri Khamaludin ini.

Selain mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman di dalam kelompok/organisasi, Yuni juga ingin menunjukkan banyak hal yang bisa dilakukan oleh wanita. Tidak hanya sebatas urusan rumah tangga. Dibanyak hal, peran wanita sangat dibutuhkan keberadaanya.(min)

BAGIKAN