Agam Wisesa, Pemilik Kita Wisuda

Semasa kuliah, Agam Wisesa selalu takjub dengan perputaran uang pada saat perayaan wisuda. Terutama di kampusnya, karena termasuk universitas terbesar di kota ini. Bagi Agam, peluang bisnisnya muncul manakala melihat perayaan wisuda yang identik dengan toga.

“Belum banyak yang melihat bisnis ini, dulu tiap wisuda saya selalu bertanya-tanya berapa perputaran uang dari berbagai bisnis untuk perlengkapan wisuda. Pikiran pertama, jasa sewa toga,” katanya.

Sejak awal, Agam memilih menjahit terlebih dahulu baju dan toga wisuda. Dimulai dari 10 baju dan toga, Agam cukup kesulitan mencari penjahit yang cocok.

“Banyak penjahit yang mulur pengerjaannya,” katanya.

Setelah memiliki 10 baju toga, Agam langsung menyewakannya untuk teman-teman sekelasnya.

“Saya belum lulus, tapi sudah punya baju dan toga. Sejak awal, niatnya untuk dijual atau disewakan,” ujar Agam.

Sejak 2014, Agam memantapkan bisnis sewa toga dengan membuka Kita Wisuda. Berawal promosi mulut ke mulut, hingga saat ini Agam berhasil mendistribusikan produknya ke 51 kota di Indonesia, bahkan hingga luar negeri.

Perlengkapan wisuda yang dimilikinya, sudah semakin lengkap. Jika dulu hanya baju dan toga, saat ini sudah ada medali, slempang, plakat, bahkan merambah ke pernak-pernik seputar hadiah wisuda.

“Bertahap semua perlengkapan wisudanya, sekarang sudah ada 300 yang ready. Cita-cita punya 1.000 toga,” ujar Agam.

Bagi Agam, menjalani bisnis memang butuh keuletan dan fokus. Banyak penawaran untuk menyediakan perlengkapan lain di luar wisuda, tapi Agam terpaksa menolaknya.

“Pernah ada yang minta dijahitin baju seragam, tapi karena tidak ada hubungannya dengan wisuda tentu saya tolak. Kami hanya mencoba fokus dan konsisten,” ujar pria asli Cirebon ini.

Saat ini, Agam ingin menjadikan bisnis perlengkapan wisuda yang dimilikinya sebagai pusat perlengkapan wisuda terlengkap. Bukan hanya untuk wisudawan di perguruan tinggi, namun Kita Wisuda menyediakan perlengkapan wisuda untuk anak sekolahan.

“Intinya saya mau fokus mengejar aset. Aset difokuskan sampai mantap produksinya, maka akan mendatangkan omset. Karena pikiran saya bukan mengejar omset, tapi membangun aset,” katanya. (cr)