Yuspita Palupi Redaktur SatelitPost

Sebuah pepatah bijak berkata, kuasai bahasa maka engkau akan kuasai dunia. Secara sederhana pepatah ini dimaknai agar setiap individu mengembangkan kemampuan dirinya dengan berbagai macam bahasa. Tak sebatas pada bahasa ibu, tapi juga bahasa asing.

Di Indonesia kita mengenal beragam bahasa ibu. Mengingat banyaknya suku yang ada di negara ini. Namun ada satu bahasa pemersatu yang menyatukan semua bahasa ibu. Yakni bahasa Indonesia.

Menarik kesimpulan dari pepatah di atas, penguasaan bahasa asing di era kekinian adalah sebuah kemestian. Beragam bahasa asing mulai dari Inggris, Arab, Jerman, Prancis, Cina, dan lain-lain dipastikan akan memberikan kemanfaatkan. Tak semata di bidang pendidikan tapi juga sosial ekonomi.

Ambil contoh satu bahasa asing yang paling sering dikenalkan di Indonesia adalah bahasa Inggris. Di dunia, bahasa Inggris telah diakui sebagai bahasa internasional. Bahasa Inggris menempati posisi khusus di hampir 75 negara dan hampir digunakan dalam percakapan atau komunikasi yang dilakukan di lebih dari 100 negara. Bahasa ini digunakan dalam hubungan komunikasi untuk bisnis, olahraga, pendidikan, ilmju pengetahuan, publishing, hingga diplomatik antar negara. Masyarakat yang berasal dari beragam latar belakang geografi, agama, dan budaya telah disatukan oleh suatu bahasa internasional tersebut yang disepakati untuk digunakan dalam berkomunikasi satu sama lain.

Di Indonesia pengenalan bahasa Inggris di jenjang pendidikan saat anak-anak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Itu terjadi kisaran tahun 90-an. Saat itu pendidikan bahasa Inggris di SMP dimulai dari taraf yang sangat dasar. Bahasa Inggris masuk dalam porsi muatan lokal dalam kurikulum pendidikan saat itu.

Seiring berjalannya waktu, pengenalan bahasa Inggris mulai dilakukan di jenjang sekolah dasar. Namun masih terbatas pada murid kelas 4 ke atas. Pengenalan dasar  seperti huruf, warna, kosakata benda-benda sekitar diperkenalkan.

Kini di era milenial, bahasa Inggris bahkan telah dikenalkan sejak taman kanak-kanak. Terlebih di sekolah yang berstatus internasional. Penggunaan bahasa Inggris menjadi sebuah “menu” utama.

Pengenalan dan penguasaan bahasa asing dipandang sebagai sebuah modal penting dalam mengahadapi era persaingan dunia yang kian ketat. Terlebih dengan adanya pasar bebas yang telah diberlakukan.

Ironisnya, mulai tahun pelajaran 2018 sejumlah sekolah dasar di Purbalingga dan Cilacap sepakat untuk meniadakan pembelajaran bahasa Inggris. Alasannya merujuk pada Kurikulum 2013 (Kurtilas) yang saat ini sedang ditarget untuk bisa diterapkan secara menyeluruh di seluruh sekolah dan jenjang.

Dimana dalam Kurtilas, keberadaan bahasa asing (bahasa Inggris dan Mandarin, red) hanya masuk dalam muatan lokal. Artinya, sekolah tidak diwajibkan untuk memasukannya dalam pembelajaran di kelas.

Ironi. Yang boleh saja disebut sebagai kemunduran. Di saat banyak orang berlomba untuk  bisa menguasai lebih dari satu bahasa asing, pembelajaran atau pengenalan bahasa asing di tanah air justru “dibatasi”.

Bukan bermaksud memandang remeh keberadaan bahasa ibu. Tetap saja bahasa ibu adalah identitas yang melekat pada setiap warga negara Indonesia. Yang terlahir di bumi pertiwi. Tapi membatasi pembelajaran hanya karena takut bahasa ibu terlupa, itu adalah ketakutan yang berlebihan.(yuspita@satelitpost.com)