Bertepuk Dada

Yuspita Anjar Palupi Redaktur SatelitPost

Dalam Kabinet kerja Jokowi, ada dua menteri wanita yang kerap hangat dibicarakan oleh publik ataupun netizen. Tak hanya dari sepak terjang dan kebijakan yang dikeluarkan. Tapi juga dari capaian prestasi  bahkan sampai fesyen mereka.

Tak percaya? Lihat saja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dia sudah mencuri perhatian publik bahkan sejak awal penetapannya sebagai “penjaga laut” oleh Presiden Jokowi pada 26 Oktober 2014 lalu.

Gaya bicara, gaya berbusana, latar belakang pendidikan, bahkan sampai rajah di kakinya pun menjadi sorotan. Kini, wanita kelahiran Pengandaran, 15 Januari 1965 itu lebih familiar di dalam ingatan masyarakat dengan kebijakan penenggelaman kapal asing yang kedapatan mencuri ikan di perairan Indonesia.

Tak hanya Susi, menteri wanita yang kerap dibicarakan oleh netizen adalah Sri Mulyani. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia yang didaulat menjadi Menteri Keuangan di Kabinet Kerja ini juga menggelitik komentar di tengah masyarakat.

Kecerdasan dan kemampuan intelektualnya tak perlu diragukan. Pengakuan dunia akan kapabilitasnya nampak dari jabatan Direktur Pelaksana Bank Dunia yang pernah diembannya. Hingga menjadikan wanita yang akrab disapa Ani ini menjadi wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan bergengsi tersebut.

Kemarin, kembali dunia memberian pengakuan kepada sepak terjangnya di bidang ekonomi. Wanita kelahiran Bandar Lampung ini diganjar penghargaan sebagai Best Minister in the World Award atau Penghargaan Menteri Terbaik di Dunia dalam acara World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan itu diberikan langsung oleh pemimpin Dubai, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum.

Disebutkan, jika penobatan Ani sebagai Menteri Terbaik dilakukan melalui proses seleksi ketat oleh oleh lembaga independen Ernst & Young dan diselenggarakan oleh World Government Summit. Ani, menjadi wanita Asia pertama dan satu-satunya yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Sebagai warga negara Indonesia kita patut berbangga. Tapi tidak ketika kita melihat pantulan bayangan kita di dalam cermin. Angka kemiskinan di tanah air, masih sangat memprihatinkan. Meski pemerintah berkoar berhasil menurunkan presentase penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Kenyataannya masih banyak warga miskin. Masih banyak warga yang berebut kalau ada operasi pasar murah digelar. Masih banyak warga yang rela antre berjam-jam demi mendapatkan dana bantuan dari pemerintah. Masih banyak warga yang “takut” untuk berobat ke rumah sakit, karena khawatir tak bisa membayar. Banyak anak yang memilih putus sekolah dan bekerja menjadi penderes, buruh pabrik, atau bekerja di luar negeri.

Daya beli masyarakat makin lama makin nyungsep. Harga kebutuhan pokok jeglak-jeglek tak terkendali. Bisa sewaktu-waktu naik secara drastis. Berbagai momen hari raya keagamaan dijadikan kambing hitam. Pun begitu dengan cuaca yang menyebabkan gagal panen.

Laporan terbaru dari LSM Oxfam dan forum LSM internasional untuk pengembangan Indonesia INFID menyatakan kendati jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun dari 40 persen menjadi 8 persen sejak tahun 2000, manfaat dari pertumbuhan ekonomi tidak tersebar secara merata. Ketimpangan kian kentara terjadi di tanah air. Bukan melulu soal harta kekayaan. Tapi juga terkait akses pendidikan dan kesehatan. Masih bisakah kita bertepuk dada?(yuspita@satelitpost)