Euforia kelulusan sekolah dengan mencorat-coret baju seragam sekolah dan konvoi keliling kota masih terjadi. Saat kelulusan SMA sederajat belum lama ini, hampir di berbagai daerah kompak anak-anak berseragam putih abu-abu konvoi sepeda motor dengan baju seragam penuh cat semprot. Bahkan ada pula yang menyemprot rambutnya aneka warna.

Walau kelulusan kali ini tak lagi ditentukan nilai Ujian Nasional, namun berhasil lulus sekolah seolah pencapaian yang luar biasa sehingga perlu aksi corat-coret baju seragam sebagai ungkapan kegembiraan. Dinas Pendidikan, kepolisian yang mengimbau agar jangan melakukan konvoi saat pengumuman kelulusan hanya dianggap angin lalu. Mereka tetap saja konvoi. Terpaksa aparat kepolisian mengawal mereka agar tidak terjadi keributan atau perbuatan anarki yang mengganggu ketertiban umum.

Bagi masyarakat awam ada yang bertanya-tanya, itukah hasil dari pendidikan selama sekolah? Memang tak begitu merugikan orang lain, namun aksi corat-coret baju seragam tak mengindahkan etika, kesopanan sebagai seorang pelajar. Apalagi peserta konvoi kebanyakan tanpa mengenakan helm, artinya melabrak tata tertib berlalu lintas secara terang-terangan. Bukankah menimba ilmu di sekolah bertujuan supaya kita menjadi manusia yang terdidik?

Ingat semboyan dari Ki Hajar Dewantara, ‘Ing Ngarso Sun Tulodo. Ing Madyo Mbangun Karso. Tut Wuri Handayani’ yang artinya: ‘Di depan menjadi teladan. ‘Di tengah membangun semangat. Di belakang memberi dorongan’

Adakah pelajar zaman sekarang yang mengerti makna tersebut? Melihat berbagai aksi corat-coret baju seragam saat kelulusan sepertinya sangat jauh dari semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Mungkin saja yang mereka kejar selama ini prioritaskan nilai ujian, maka mereka belajar mati-matian agar memperoleh nilai yang bagus. Selama tiga tahun dari hari ke hari yang selalu terpatri dalam pikiran bagaimana agar ujian harus mendapat nilai bagus. Sehingga begitu dinyatakan lulus bagai lepas dari cengkeraman PR dan materi mata pelajaran yang menumpuk.

Bisa jadi aksi corat-coret baju seragam saat kelulusan tak kunjung hilang karena telah mentradisi. Kakak-kakak kelas mereka pun melakukan hal yang sama ketika kelulusan, bagi mereka menyaksikannya suatu hal yang sangat menyenangkan, maka mereka mengikuti tradisi corat-copret tersebut. Hanya saja, tak sedikit dari mereka yang kebablasan. Seperti dalam sebuah foto di media sosial bendera merah-putih turut pula dicorat-coret, lalu video yang menunjukkan pelajar putri melakukan tarian vulgar, bahkan rok panjang disobek hingga sepaha.

Meski kasus sepele akan tetapi kita patut prihatin, kenapa setiap pengumuman kelulusan sekolah untuk SMA dan SMP khususnya diwarnai corat-coret segaram sekolah dan konvoi. Barangkali pihak sekolah perlu menerapkan strategi atau aturan untuk mencegah mereka bercorat-coret ria ketika pengumuman kelulusan. Dengan mengundang mereka ke sekolah beserta orangtua, misalnya untuk menyumbang seragam sekolah ke panti asuhan, lalu setelah pengumuman  kelulusan, memanjatkan doa yang dipimpin ustaz sebagai ungkapan rasa syukur selanjutnya gelar pawai kelulusan sekolah.

Intinya budaya kelulusan dengan corat-coret seragam harus disetop karena tak mencitrakan kaum terdidik. Masih bayak cara dalam mengungkapkan kegembiraan kelulusan yang lebih positif. Dan ketegasan dinas terkait maupun sekolah sangat diperlukan terkait pelarangan corat-coret baju seragam sekolah saat kelulusan. (ekadila@satelitpost.com)