Figur

Figur sentral jadi potret partai politik di Indonesia. Sebagian besar partai memberi ‘takhta’ pada figur sentral untuk jadi pemimpin dan penentu kebijakan partai yang krusial.

PDI Perjuangan memiliki figur sentral pada Megawati Soekarnoputri. Partai Gerindra memiliki Prabowo Subianto. Partai NasDem memiliki Surya Paloh. PKB memiliki Muhaimin Iskandar. Perindo memiliki Hary Tanoesudibjo. Tak ketinggalan, Partai Demokrat memiliki Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Target besarnya adalah 2024 atau 2029, kala Agus benar-benar matang di perpolitikan, kala Agus 51 tahun.

Kholil Rokhman
Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Figur sentral, selain sebagai pemutus kebijakan penting, juga sebagai penarik suara saat pemilihan umum berlangsung, baik di masa pemilu legislatif, pemilu presiden, atau pemilu kepala daerah. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, figur-figur sentral itu makin menua. Partai pun harus memikirkan regenerasi.

Di masa kini, upaya regenerasi yang agak tertata sepertinya sedang disiapkan SBY. Dia sepertinya pelan-pelan akan memberi tongkat estafet pada sang anak, Agus Harimurti Yudhoyono. Bahkan, SBY memberi jalan pada Agus saat sang anak masih sangat muda, 38 tahun. Itu terjadi kala Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Agus memang kalah, tapi statemen ksatrianya yang mengakui kekalahan menaikkan kepopulerannya.

Tak lama setelahnya, Agus mulai menjalin komunikasi dengan Presiden Joko Widodo. Kala itu jelang Agus meresmikan lembaga The Yudhoyono Institute, dia menyambangi Jokowi. Komunikasi SBY dengan Jokowi juga terjadi sebelumnya. Komunikasi yang kemudian menenggelamkan berita soal tagihan Antasari Azhar pada SBY. Saat itu, Antasari meminta SBY terbuka terkait kasus pembunuhan yang pernah menjerat Antasari.

Pelan tapi pasti, SBY terus menata relasi yang baik dengan Jokowi. Bahkan, saat SBY menyindir PDIP terkait dugaan kriminalisasi pada Syaharie Jaang jelang Pilkada Kalimantan Timur, SBY tak ikut menyerang Jokowi. SBY dengan lihai mengatakan bahwa Jokowi sebagai presiden pasti bisa mengeliminir politik kotor di pilkada.

SBY pun mulai menata relasi dengan PDIP. Partai Demokrat dan PDIP yang jarang akur, akhirnya bersatu di Pilkada Jawa Tengah mengusung Ganjar Pranowo. Setelahnya, Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan mengungkapkan bahwa kebersamaan di Jateng bisa berlanjut di Pilpres 2019.

Di sisi lain, saat pilkada serentak 2018, SBY pun memasang Agus sebagai juru kampanye. Sepertinya SBY memang sedang memasang calon penggantinya di Partai Demokrat, yakni putranya sendiri. Di sisi lain, SBY paham bahwa Jokowi adalah figur yang masih kuat di Pilpres 2019. SBY juga tahu bahwa ada bagusnya Demokrat berjalan beriringan dengan PDIP. Sebab, PDIP lah yang ‘memiliki’ Jokowi.

Mungkin, ini yang akan terjadi pada saat 2019. Demokrat mendukung Jokowi, masuk pemerintahan. Selain itu, AHY memiliki posisi kuat di peta perpolitikan dan kenegaraan setelah Pilpres 2019. Target besarnya adalah 2024 atau 2029, kala Agus benar-benar matang di perpolitikan, kala Agus 51 tahun. Mungkin seperti itu. (kholil_rokhman@yahoo.com)

BAGIKAN