Eka Dilla Kurniawan, Asisten Redaktur SatelitPost

Pemilihan presiden masih lama, tapi sudah mulai riuh dengan berbagai pendapat, opini, bahkan isu. Meski baru Jokowi yang sudah siap maju kembali nyapres namun yang pro dan kontra atas kepemimpinan Jokowi sebagai capres sudah ramai diperbincangkan bahkan diperdebatkan.

Pendapat tentang utang luar negeri misalnya, yang pro mengatakan utang Indonesia masih aman sedangkan yang kontra mengatakan utang di era Jokowi sudah mengkhawatirkan. Lengkap dengan argumen masing-masing.

Kita tahu di Kabupaten Banyumas akan melaksanakan Pilkada 2018 dengan dua pasang calon, Mardjoko-Ifan dan Achmad Husein-Sadewo. Kita bayangkan kedua kubu akan saling menunjukkan keunggulan program dan janji-janji ke masyarakat. Selain itu juga dua kubu akan ‘saling serang’ dengan melontarkan kekurangan-kekurangan yang ada sebagaimana dinamika politik level Pilpres. Pro-kontra  akan mewarnai pesta demokrasi dan menjadi bumbu suhu politik makin gayeng.

Namun hingga kini sejak masa kampanye berlangsung mungkin ada yang bertanya-tanya kok sepertinya sunyi senyap dari hingar-bingar isu politik antardua kubu? Meski memang Pilkada damai harus kita anut bersama, tapi kesenyapan jelang Pilkada serasa sayur kurang garam.

Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED), Indaru Setyo Nurprojo melihat dinamika Pilkada Banyumas 2018 tahun ini terbilang lebih sepi dibanding gelaran sebelumnya di tahun 2013 yakni aspek finansial dari masing-masing kubu.

Aturan yang ketat dari KPU, sehingga membatasi ruang gerak pasangan calon. Seperti halnya, terkait jumlah dan ukuran APK dan penggunaan dana kampanye. Selain itu kedua paslon sama-sama pernah memimpin Kabupaten Banyumas, boleh jadi sangat memahami melanggar sedikit saja bisa berakibat fatal. Maka lebih baik bermain penuh kehati-hatian.

Hanya saja, belum tampaknya dinamika politik, perang ide, program mengelola Kabupaten Banyumas ke depan akan bagaimana, membuat Pilkada jadi kurang greget, jangan-jangan bisa berimbas menurunnya jumlah partisipasi pemilih. Antusiasme warga saat tiap paslon berkampanye juga terlihat tak sesemarak biasanya.

Masa kampanye masih beberapa bulan lagi. Jurkam nasional yang telah disiapkan masing kubu belum ‘turun gunung’. Kita harapkan bersama, makin dekatnya waktu pencoblosan 27 Juni 2018 mendatang, Pilkada akan makin greget. Para rokoh nasional yang berperan sebagai jurkam akan menambah semarak Pilkada. Mampu menggerakkan masyarakat bersemangat partisipasi nyoblos.

Ya, walau terkesan sepi, terlebih hanya dua pasangan calon dimana keduanya sama-sama pernah memimpin Kabupaten Banyumas, tentu kita sudah bisa merasakan perubahan apa saja selama kepemimpinan Mardjoko dan Achmad Husein. Keduanya pastilah punya niat tulus bisa memimpin Kabupaten Banyumas lebih baik lagi. Tetaplah gunakan hak pilih. Jangan Golput. (ekadila@satelitpost.com)

BAGIKAN