Tujuan belajar tidaklah meraup ilmu sebanyaknya, melainkan menata cara berpikir dan mengubah perilaku. Demikian pesan yang saya sampaikan secara konsisten kepada para mahasiswa di tiap akhir perkuliahan. Jika orientasinya ilmu kognitif saja, maka akan lahir generasi yang tidak berbudi dan beradab. Pandai tapi tidak memiliki kesalehan intelektual.

Oleh Hamidulloh Ibda
Ketua Program Studi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung,
Pengurus Bidang Penjaminan Mutu Perkumpulan Dosen PGMI Korwil Jateng-DIY

Kematian Ahmad Budi Cahyono, Guru SMAN 1 Torjung, Sampang, Madura, setelah dianiaya muridnya, masih menyisakan ironi dan luka. Pendidikan kita yang masih mengutamakan ilmu kognitif, menjadikan para pelajar kehilangan budi dan adab. Ironisnya, budi dalam tata nilai yang hilang itu berdampak pada hilangnya nyawa Pak Budi.

Guru honorer yang mengampu mata pelajaran Seni Rupa di kelas IX itu hanya tinggal nama. Diktum “pahlawan tanpa tanda jasa” tampaknya benar adanya. Perginya Pak Budi, tidak lain karena hilangnya budi, adab, dan etika pelajar kepada gurunya di era sekarang.

Kasus kematian guru akibat kekerasan tidak hanya kali ini. Tahun 2016, Tatang Wiganda guru olahraga SMA Yayasan Atikan Sunda (YAS) Bandung tewas akibat dibunuh orangtua siswa (Poskotanews.com, 22/8/2016). Kemudian, Dasrul guru SMK 2 Makassar juga dianiaya orangtua murid. Lantaran ingin mendisiplinkan siswanya yang nakal, namun Dasrul justru mendapatkan bogem mentah dari siswa dan orangtuanya hingga tulang hidungnya patah (Detik.com, 21/10/2017).

Kasus serupa, tentu akan terus terjadi jika tidak ada perubahan sistem, kurikulum, dan kembali pada paradigma “memuliakan guru”. Sebab, setegas apapun guru, pasti mereka demi untuk kebaikan. Mana ada guru yang mencelakakan muridnya sendiri?

Saya masih ingat, waktu dulu sekolah di MI-MA kurun 1996-2007. Saya sering terkena hukuman fisik sampai non-fisik. Mulai dari membersihkan kamar mandi, dipukul dengan duding (bambu), lari, berpidato, meminta maaf di tiap kelas, membaca selawat, bahkan berdiri di depan sekolah sampai waktu istirahat.

Bagi saya, hal itu wajar, dan justru membekas sampai saat ini bahwa pembelajaran zaman dulu bermanfaat di zaman sekarang. Saya tidak bisa membayangkan jika dulu tidak mendapat hukuman seperti itu. Orangtua saya pun mendukung tindakan itu karena jika di sekolah, maka urusannya adalah dengan guru. Baik, buruk, benar, dan salahnya pelajar, semua menjadi tanggung jawab guru ketika pada jam sekolah.

Artinya, nilai budi dan adab sangat diutamakan pelajar zaman dulu meskipun itu pada pelajar nakal. Akan tetapi, pemandangan itu berbeda di era sekarang. Jangankan dipukul memakai duding, ditegur saja, banyak pelajar melawan guru dan fakta terjadi sampai mencekik leher yang mengakibatkan nyawa melayang.

1. Hilangnya Budi dan Adab

Lembaga pendidikan formal kita yang terlalu berkiblat pada barat, membuka kran kebebasan dan tafsir Hak Asasi Manusia (HAM) secara berlebihan. Sangat wajar jika saat ini guru melakukan yang seharusnya dilakukan menjadi dilema bahkan bisa berujung bui dan kematian. Pola seperti ini menjadikan pendidikan formal gersang etika dan menghilangkan budi, serta adab dalam belajar.

Pola pendidikan yang menelan mentah HAM, demokrasi, kesetaraan antara guru-murid, menjadikan guru tidak ada “marwahnya”. Guru dianggap sejajar dengan murid sehingga mereka menganggap guru sama seperti buruh, petugas, karyawan, dan hanya bertugas laiknya pelayan.

Paradigma ini menjadikan sekolah formal jauh dari nilai-nilai luhur dan hilangnya kemesraan antara guru dan murid karena mereka telah diputus tali kasih sayangnya lewat kebijakan-kebijakan. Maka pelaku pendidikan perlu memetakan lagi metode penghormatan pada guru.

Karel A. Steenbrink (1986) memetakan di antara pesantren, madrasah, sekolah, hanya pesantren yang paling menonjol aspek spiritual dan emosionalnya. Sementara madrasah dan sekolah karena sudah berkonversi modern, kompetensi yang dikejar hanya aspek intelektual. Dalam ranah pembelajaran, hanya pesantren yang konsisten mengutamakan capaian afektif dan psikomotorik daripada kognitif saja.

Kontruksi ini semakin tampak dalam perubahan kurikulum. Contohkan saja Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diubah menjadi Kurikulum 2013 yang semua harus serba saintifik. Semua learning outcome diwajibkan berbasis pendekatan saintifik yang meliputi lima ciri, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan.

Dalam revisi Kurikulum 2013 tahun 2016-2017, ditambah lagi dengan penguatan pada beberapa aspek. Pertama, penguatan pendidikan karakter. Kedua, penguasaan literasi. Ketiga, penguatan berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Kemudian, penguasaan literasi ditekankan pada literasi Abad 21 yang terangkum dalam akronim 4C, meliputi creativecritical thinking, communicative, dan collaborative.

Pola kurikulum yang seperti ini sangat berdampak pada pembelajaran yang memburu ilmu dan melupakan budi serta adab. Apakah ini salah seratus persen? Tentu tidak. Meski kurikulum mengamatkan hal itu, namun guru harus bisa menyiasatinya. Artinya, karakter, moral, etika, akhlak, jauh lebih penting daripada mengejar ilmu kognitif saja.

Pola pendidikan perlu menerapkan falsafah Jawa seperti tembang macapat pocung. Dalam tembang itu, dinyatakan ngelmu iku kalakone kanthi laku//lekase lawan kas//tegese kas nyantosani//setya budaya pangekese dur angkara. Artinya, ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan, dimulai dengan kemauan, kemauan yang menguatkan, ketulusan budi dan usaha penakluk kejahatan.

Substansi dari ilmu jika disimpulkan adalah pada perilaku, bukan teori saja. Jika pola ini diterapkan, maka tidak ada lagi kasus murid marah, membalas, atau melaporkan guru kepada polisi. Sebab, hasil “jeweran” guru itu hakikatnya adalah tabungan masa depan dan tidak akan pernah rugi jika kita bisa memaknainya. Perlakukan guru seperti menjewer, menegur, itu sah-sah saja asal tahu batasnya. Mengapa demikian? Sebab, tidak ada guru yang melukai dan mencelakakan murid-muridnya. Jika mencelakakan, tampaknya mereka pura-pura menjadi guru.

2. Memuliakan Guru

Dalam pesantren, semuar santri pasti pernah belajar kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Imam Al-Zarnuji. Dalam kitab itu, Zarnuji menulis ada enam syarat mencari ilmu. Mulai dari dakaa’in (cerdas), khirsin (giat belajar), wastibarin (sabar), bulgotin (ada bekal), irsadi ustazin (petunjuk guru), tuli zamani (lama waktunya).

Petunjuk guru ini dalam praktik pendidikan modern tidak hanya membimbing, namun harus dimaknai guru adalah sahabat, orangtua kedua yang sangat terhormat. Jika tidak ada adab, maka perlakukan murid kepada guru pasti “tidak beradab”.

Pad Bab 4 dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Zarnuji juga memberikan contoh cara mengagungkan ilmu dan ahli ilmu. Pertama, murid tidak memperoleh ilmu dan manfaat, kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu. Ahli ilmu di sini adalah guru yang alim, bisa guru dan ditiru.

Kedua, memuliakan guru dengan cara tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya. Kemudian, tidak banyak bicara, tidak bertanya saat guru sedang jemu, menjaga waktu belajar, taat perintahnya, serta menghormati keluarganya.

Jangankan mencekik leher guru, berkata-kata kasar dengan keluarga guru saja sebenarnya kita tidak boleh jika ingin mendapatkan ilmu berkah. Namun karena pola pendidikan formal kita berorientasi ilmu kognitif, maka pola ajaran budi dan adab di kitab Ta’lim al-Muta’allim ini dianggap jadul, old, bahulak, dan feodal. Padahal, jika ajaran di atas diterapkan dalam pendidikan formal, maka tidak akan terjadi kekerasan terhadap guru.

Jika orientasinya ilmu tanpa ada usaha memuliakan ahli ilmu, guru, buku, hal itu justru suul adab dengan ilmu itu sendiri. Melihat berbagai kasus di Indonesia yang sungguh tidak manusiawi terhadap guru, tampaknya ajaran Imam Al-Zarnuji urgen diterapkan. Sebab, sebanyak apapun ilmu yang didapat jika murid tidak memuliakan guru, maka ilmu tersebut pasti tidak berkah.

Lalu, apa guna banyak ilmu tinggi jika tidak ada keberkahan? Maka rumusnya, memuliakan guru, keluarganya, buku, dan tempat belajar adalah cara mendapatkan ilmu berkah. Jika tidak ada budi dan adab belajar, apa gunanya kita belajar?(*)