Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Kholil Rokhman

Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Di India, ada kabar tak mengenakkan mampir di whatsapp, sebuah jejaring yang mengemuka akhir-akhir ini. Di whatsapp itu, ada kabar jika ada orang yang berkeliaran dituduh menculik anak dan menjual organ manusia.

Tak jelas siapa yang dituduh. Hanya saja, semua orang sudah mulai waspada tingkat tinggi. Curiga menggelayuti banyak orang. Lalu, ada orang yang sangat reaksioner atas pesan whatsapp yang tak bisa dibuktikan kebenarannya tersebut.

Imbasnya, orang-orang yang reaksiner itu memutuskan main hakim sendiri. Setiap orang yang dicurigai sebagai anggota komplotan penculik anak dan penjual organ manusia, dihabisi. Mereka yang dituduh membabi buta itu tewas, tanpa persidangan, tanpa pembuktian. Semua berawal dari prasangka yang mencuat dari pesan yang tak jelas kebenarannya. Belakangan, 10 orang yang main hakim sendiri itu ditangkap, diproses kepolisian setempat pada Selasa (7/8).

Teknologi menjadi alat yang memudahkan orang untuk berkomunikasi. Melalui telepon genggam, banyak informasi yang bisa didapatkan. Namun, informasi yang muncul di telepon genggam kita, tak serta-merta harus disebar ke teman-teman.

Bayangkan saja, jika ada informasi muncul di pesan whatsapp, soal penculik dengan foto orangnya, pencuri dengan foto orangnya, sementara tak ada penjelasan yang rinci apakah benar foto itu adalah fakta. Lalu, dengan segera kita menyebarkan informasi itu ke banyak orang.

Bayangkan saja, jika orang yang kita tuduh itu tak bersalah. Dia hanya orang biasa yang kena fitnah yang disebar melalui telepon genggam. Betapa runyamnya jika kehidupan kita dipenuhi dengan informasi yang tak jelas kebenarannya. Lalu, masing-masing dari kita sudah curiga.

Antartetangga bisa curiga, antarteman bisa curiga, antarorang baik pun bisa curiga. Jika kecurigaan itu meletup di tengah kita yang dirundung masalah, bisa jadi petaka. Beberapa hari belakangan, ada juga informasi soal bakso yang terbuat dari daging celeng di Kalibagor. Informasi itu merayap cepat di telepon genggam.

Masing-masing dari kita kemudian khawatir luar biasa. Tak salah memang, tapi apa benar bahwa informasi soal bakso yang terbuat dari daging celeng itu benar adanya. Apakah benar, orang yang kita tuduh itu benar-benar menjual bakso yang terbuat dari daging celeng?

Maka, tarik napas dalam-dalam jika mendapatkan informasi negatif. Telaah sejauh-jauhnya, sedalam-dalamnya. Jika kemudian kita tak bisa mengonfirmasi kebenaran dari informasi itu, lebih baik tak menggerakkan jari untuk mengirim pesan itu ke orang lain.

Orang-orang yang tak mengerti kejadian sesungguhnya, memang lebih baik diam. Dunia akan bermasalah jika orang yang tak tahu, ikut bereaksi melebihi mereka yang tahu. Dunia juga akan bermasalah jika orang yang tahu memilih diam untuk informasi yang dia tahu.

Sadar diri akan sebuah informasi menjadi sangat penting. Tak akan menjadi pandai jika orang hanya membagi informasi yang tak jelas sumbernya. Tak akan menjadi berakhlak, orang yang membagi informasi yang dia tak tahu kebenarannya. Maka, jangan racuni kehidupan bermasyarakat dengan informasi sampah yang bisa mencelakakan kita semua. Cerita dari India di awal tulisan sudah bisa jadi cermin bagi kita, bahwa kita memang harus cerdas menggunakan telepon genggam kita. (kholil@satelitpost.com)