Jalan

Jalan rusak adalah petaka. Jalan lubang, khususnya, bisa menjerat pengendara terjatuh. Jika tak hati-hati maka, kecelakaan pun terjadi.

Sudah tak terhitung orang celaka karena jalan berlubang. Mereka sebagian tak mengetahui jika ada jalan berlubang.

Kenapa pengendara tak mengetahui jika ada jalan berlubang? Bisa jadi karena malam hari yang gelap membuat pengendara tak tahu ada lubang. Bisa jadi karena genangan menutup lubang hingga pengendara tak tahu ada lubang.

Protes, sindiran, dan langkah masyarakat kadang terlihat pada masalah jalan berlubang. Mereka memilih menempatkan pohon di jalan berlubang itu. Selain sebagai bentuk protes dan sindiran, langkah itu membantu pengendara sehingga tahu jika pohon berdiri di jalan adalah tanda bahwa jalan itu berlubang.

Jika makin banyak berlubang, maka bisa jadi makin banyak pohon muncul di jalanan. Jika itu marak maka akan jadi pemandangan yang getir. Sebab, lama-kelamaan akan sulit dibedakan mana jalan dan mana kebun atau sawah.

Pernah ada juga yang protes dengan membuat ‘lomba’ mencari ikan di jalan yang berlubang. Saking luasnya jalan berlubang, sehingga bisa diisi air jadi kubangan. Lalu diisi ikan dan diburu ramai-ramai. Langkah ini adalah kritik keras warga pada pemerintah.

Setelah jalan berlubang, jika pemerintah tanggap, maka jalan pun dibuat mulus. Jalan-jalan berlubang tak ada lagi. Selesai masalah? Tidak juga. Perilaku tak waras kadang muncul di jalan mulus. Tak peduli jalan yang ‘kecil’, asalkan sudah mulus, maka ngebut pun jadi hobi.

Hobi ngebut, tapi tak pada tempatnya. Misalnya, ngebut di jalan mulus di gang. Hingga kemudian, pernah ada tulisan di gang sebuah daerah, “ngebut benjut”. Tulisan itu adalah protes keras pada pengendara yang tak tahu terima kasih setelah jalan sudah mulus.

Di jalan raya yang relatif kecil, perilaku ngebut pun sering terlihat. Tak peduli jalannya kecil, asal jalan mulus, maka ngebut pun seperti kewajiban. Tak peduli misalnya di tepi jalan itu banyak anak sekolah yang melintas. Tak peduli juga jika di area jalan itu, pengendara harusnya berjalan lebih pelan. Pokoknya ngebut.

Maka tak heran jika ada kecelakaan terjadi di jalan mulus. Kecelakaan kendaraan menabrak orang di area ramai lalu lintas. Jalan mulus di jalan kecil atau area ramai, bagi sebagian pengendara tidak disyukuri dengan semestinya. Mereka tak memilih mengurangi kecepatan di jalan mulus yang kecil atau jalan mulus di area ramai lalu lintas.

Belum lagi jika jalan mulus itu tak memiliki trotoar di tepinya. Tak ada ruang bagi pejalan kaki. Imbasnya, pejalan kaki ikut menggunakan badan jalan. Potensi tabrakan pun makin besar jika di jalan tak bertrotar itu ngebut-ngebutan terjadi.

Tugas pemerintah adalah memuluskan jalan. Tugas warga adalah menjaga dan memperlakukan jalan itu sepantasnya. Jika jalan kecil walaupun sudah mulus, maka ngebut bukan pilihan. Jika jalan itu ramai anak walaupun jalan sudah mulus, maka ngebut juga bukan pilihan.

Protes pada pemerintah karena jalan rusak diperbolehkan. Namun, setelah jalan mulus, mari bercermin sebentar untuk lebih beradab menggunakan jalan. Sebab, jalan adalah milik bersama, milik banyak orang, bukan milik nenek moyang segelintir orang. (kholil@satelitpost.com)