Yuspita Palupi Redaktur SatelitPost

Yuspita Palupi

Redaktur SatelitPost

Sebanyak 70 persen permukaan bumi ditutupi oleh air. Itu sebabnya moda transportasi air (laut, sungai, red) menempati posisi yang tak kalah penting dari moda transprtasi lainnya (darat dan udara, red).

Tak terkecuali di Indonesia yang dikenal dengan negara kepulauan terbesar di dunia. Banyak daerah (pulau-pulau kecil, red) di tanah air yang masih sangat bergantung pada moda tranportasi air. Meski tak menutup kemungkinan akses bisa dilakukan menggunakan moda transportasi udara. Tergantung dari kondisi geografis daerah layanan. Intinya, tidak ada satu modapun yang bisa berdiri sendiri, melainkan saling mengisi. Karena masing-masing moda mempunyai keunggulan di bidangnya masing-masing.

Ketika saya hidup di Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat moda transportasi darat (Pontianak-Melawi) terlayani oleh dua moda. Yakni moda transportasi darat (mobil dan bus)  dan moda transportasi sungai (menggunakan speedboat, red). Belum ada pesawat perintis yang bisa melayani. Meski di Kota Nanga Pinoh (kota kabupaten) ada fasilitas lapangan terbang (lapter) yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk pesawat perintis.

Tahun 2008, waktu tempuh yang dibutuhkan Pontianak-Melawi menggunakan bus sekitar 12 jam. Sementara itu, jika kita menggunakan jalur air (sungai, red) waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 8-9 jam.

Meski tergolong lebih singkat, peminat menggunkan jalur air memang tak banyak. Lebih banyak mereka yang “terburu-buru” dan berkantong tebal. Karena biaya yang dibutuhkan tentu saja jauh lebih mahal.

Kini, 10 tahun berselang. Seiring dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur, waktu tempuh Pontianak-Melawi menggunakan bus hanyalah berkisar 7-8 jam. Lalu bagaimanakah dengan moda tranportasi air?

Moda tersebut tak serta merta ditinggalkan oleh masyarakat Kalimantan Barat. Karena alasan kondisi geografis Kalimantan Barat yang banyak memiliki sungai-sungai besar membuat moda ini tetap menjadi primadona masyarakat setempat. Semisal untuk berkunjung ke lain kecamatan dalam satu kabupaten.

Tak hanya di Melawi, di Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, moda transportasi laut juga jadi andalan warga yang akan menuju perkampungan yang berada di Laguna Segara Anakan itu. Dan masih banyak daerah di tanah air yang tetap mengandalkan moda ini.

Tingginya animo masyarakat menggunakan moda tranportasi laut tercederai dengan dua peristiwa tenggelamnya kapal penyeberangan yang terjadi beruntun dalam dua terakhir.

Bulan Juni, KM Sinar Bangun tenggelam di utara Danau Toba, Sumatera Utara. Kapal feri berjenis ro-ro ini diketahui kelebihan muatan. Sehingga ketika dihempas angin kencang kapal tersebut kehilangan keseimbangan dan akhirnya membuat kapal yang mengangkut ratusan penumpang itu karam. Hingga kini bangkai kapal dan ratusan jasad penumpang masih berada di dasar danau yang berada di kedalaman 400 meter.

Belum juga rampung, awal Juli KM Lestari Maju yang melayani penyeberangan ke Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba ke Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Selayar tenggelam. Diduga kapal mengalami kebocoran pada lambung kapal. Tragedi ini menyebabkan puluhan korban meninggal dunia.

Dua kejadian yang beruntun membuat banyak pihak bertanya tentang regulasi transportasi laut di negara yang dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Bagaimana pengawasan dan sistem keamanan yang diterapkan oleh pemerintah.

Laiknya moda transportasi darat yang memberlakukan uji KIR, tentunya pemerintah juga memberlakukan hal yang sama terhadap semua kapal penyeberangan dan alat transportasi air yang digunakan masyarakat. Bukannya menutup mata dan menyerahkan semua pengawasan dan keamanan kepada penyelenggara penyeberangan. Dalam hal ini awak kapal ataupun pemilik kapal. Karena itu terlalu berisiko.

Berdasarkan sejumlah catatan sejarah tragedi kapal karam yang terjadi di tanah air, sebagian besar disebabkan oleh lemahnya pengawasan. Baik dari pemerintah ataupun jasa penyelenggara angkutan laut penumpang. Seringkali penyelenggara tak mengindahkan aturan keselamatan. Sehingga jor-joran dengan jumlah penumpang yang sudah overload. Setali tiga uang, masyarakat pengguna jasa juga kerap tak perduli. Ditambah dengan minimnya layanan penyeberangan yang tersedia. Kondisi ini menjadi blunder. Berkaca dari dua kejadian ini, semestinya pemerintah segera melakukan pembenahan dan evaluasi. Ke depan jangan ada lagi kejadian serupa. Cukup KMP Tampomas II, KM Digoel, KM Levina, KM Sinar Bangun, KM Lestari Maju menjadi pelajaran yang sangat berharga.(yuspita@satelitpost.com)