Eka Dilla Kurniawan, Asisten Redaktur SatelitPost

Pekan ini kita dikejutkan oleh pernyataan La Nyalla, mantan Ketua PSSI yang mengaku kecewa tak masuk bursa cagub Jawa Timur oleh partainya karena merasa keberatan harus setor uang Rp 40 Miliar untuk mendapatkan rekomendasi.

Angka Rp 40 Miliar tentu bukan uang yang kecil bagi masyarakat, apalagi wong cilik yang ibarat memperoleh rezeki Rp 30 ribu sehari setelah banting tulang bekerja saja sudah sangat Alhamdulillah. Lha kok untuk maju sebagai pemimpin harus setor Rp 40 Miliar. Oleh kalangan politisi itu bisa jadi sebagai modal untuk membiayai kampanye, sosialisasi, membayar saksi di semua TPS dan lain sebagainya.

Namun hal yang menarik dibahas yakni sangat jarang ada bacalon gubernur, bupati, legislatif atau presiden sekalipun yang membeberkan seperti La Nyalla. Meski kebenaran kabar tersebut masih abu-abu, sebab bisa pula itu sebagai bentuk kekecewaan tak terpilih oleh partai yang dibelanya. Maklum, ranah politik tak selamanya putih akan terkatakan putih, hitam terkatakan hitam.

Yang akan ditekankan di sini bukan bahasan itu semata, namun kejujuran berpolitik. Bahwa kejujuran berpolitik inilah yang sangat diharapkan masyarakat kepada para politisi. Termasuk cagub, cabup, caleg maupun capres.

Mungkin saja banyak yang sama bernasib dengan dia, tak peroleh rekomendasi gara-gara terganjal finansial akan tetapi tetap tersimpan di hati. Mungkin pula yang sukses dapat rekomendasi karena punya finansial yang kuat. Kita sebagai orang awam tahunya cagub, cabup, caleg, capres adalah orang-orang pintar, berpendidikan, kader partai tanpa harus setor uang bermiliar-miliar.

Kejujuran dalam berpolitik mutlak memang memerlukan keberanian. Ketika dibujuk agar mau menerima uang suap berani ditolak, ketika ada proyek APBN/APBD berani tidak memanfaatkan untuk memperkaya diri. Kendati oleh sebagian kalangan politisi, kejujuran dalam berpolitik dianggapnya ‘sok suci’.

Sejauh ini secara kasat mata suatu kepercayaan, anggapan (dogma) bahwa aktivitas politik selalu berlandaskan pada ketidakjujuran jika ingin menjadi pemenang. Seolah-olah tak yakin kalau kejujuran akan membawa kemenangan. Maka berbuat curanglah, bermanuver sekalipun yang dihembuskan adalah kabar hoax demi nafsu politiknya. Padahal  untuk menjalankan ketidakjujuran itu juga kadang butuh biaya yang tinggi, ditengarai dengan masih maraknya money politic setiap musim kampanye pemilu tiba. Bukankah ketika bertarung dalam pemilu harus fair?

Ditarik ke ranah Pilkada Banyumas khususnya, semoga para cabup dan cawabup yang akan bertarung melakukan secara fair. Jujur dalam berpolitik akan menciptakan demokrasi yang sehat.  Ketika jadi memimpin akan menjalankan sesuai tugas dan fungsi. Bersih dari korupsi.  Tak terbebani oleh dana kampanye yang telah dikeluarkan bermiliar-miliar. Bila terbebani takutnya timbul niat korupsi. Parah bukan?

Untuk itu hentikanlah kepalsuan dan kebohongan oleh pemangku negeri ini atau yang tengah proses menuju tahta pemangku negeri ini. Kepalsuan, kebohongan, pencitraan yang terpelihara tak bakal bangkit bangsa dan negara tercinta ini dari keterpurukan. Percayalah, yang berbuat jujur bakal memperoleh simpatik masyarakat. Mendulang suara dengan mudah. (messidonna45@yahoo.com)