Dedy Afrengki Asisten Redaktur SatelitPost

Indonesia harusnya sangat bersyukur dianugerahi anak-anak yang jumlahnya begitu besar. Sebab, kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, sangat bergantung pada anak-anak sebagai generasi penerus.

Berdasarkan publikasi Analisis Kemiskinan Anak dan Deprivasi Hak-Hak Dasar Anak di Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik, pada Survei Penduduk Antar Sensus tahun 2015 saja, jumlah penduduk Indonesia bertambah 33 persen menjadi 255,18 juta jiwa. Dan 33 persennya adalah anak (rentang usia 0-17 tahun) atau sekitar 83,99 juta jiwa.

Jadi sederhananya kalau diambil 10 orang sampling, ada tiga anak di antaranya. Sehingga seharusnya berdasarkan statistik itu, satu anak dilindungi dua orang dewasa.

Tapi yang terjadi belakangan ini, rasa-rasanya kita masih sangat lengah melindungi anak-anak di sekitar kita.

Sebagaimana disiarkan tribunnews, Senin (4/9) lalu, setidaknya 34 anak menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pemuda bernama RF, di Kecamatan Sungai Limau, Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, ada kasus lain yang juga menjadi perhatian publik. Tingginya kekerasan terhadap anak, terbukti dengan viralnya video hasil rekaman CCTV yang menggambarkan dugaan penganiayaan oleh oknum guru dari sebuah yayasan panti asuhan di Desa Hampalit, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan.

Pelaku yang kesehariannya bertugas sebagai guru bantu di sekolah tersebut, menganiaya dua orang muridnya menggunakan kayu hingga terjatuh ke lantai.

Tidak hanya kekerasan fisik, anak-anak Indonesia juga sangat rentan menjadi korban kekerasan verbal, mental, hingga pelecehan seksual.

Kasus yang menyeret Hasanudin (35), penjual cilok di Karanglewas yang memberikan bonus tontonan video porno kepada anak-anak supaya dagangannya laris, sudah cukup menjadi bahan evaluasi untuk kita.

Hingga saat ini, sudah tiga orang yang menjadi korbannya. Tidak menutupi kemungkinan, ada korban-korban lainnya dan saat ini polisi masih terus melakukan pendalaman.

Selain kasus-kasus kekerasan kepada anak, di antaranya juga ada kasus di mana anaklah yang menjadi pelaku kekerasan tersebut.

Seperti kasus yang menimpa seorang siswa di SDN Pekunden 1 Kota Kediri, akhir Januari lalu. Siswa tersebut menjadi korban penganiayaan teman-teman sekolahnya, hanya gara-gara melakukan gol bunuh diri saat bermain sepakbola.

Korban akhirnya lumpuh dan harus menjalani rawat inap di Ruang ICU RS Bhayangkara, Kediri akibat mengalami gangguan syaraf setelah kemaluannya ditendang teman-temannya. Miris.

Indonesia sebetulnya sudah berusaha sangat keras melindungi anak-anak, di antaranya dengan menerbitkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Sebagaimana tertuang dalam pasal 76E, bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul.

Bahkan, Indonesia sudah memiliki Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai amanat Undang-undang No 35 Tahun 2014 dan UU No 23 Tahun 2002.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan pribadi, di mana anak kami juga pernah menjadi korban kekerasan oleh temannya di sekolah. Sebagai orangtua dan bagian dari masyarakat, kita harus lebih peduli lagi dan mampu mengubah praktik budaya yang menerima, membenarkan, atau mengabaikan segala bentuk kekerasan.

Kita harus bisa melindungi dan bertindak tegas, terhadap perbuatan yang dapat membahayakan anak. Orangtua lebih baik repot sekarang, ketimbang menyesal di kemudian hari. (enki@satelitpost.com)

BAGIKAN