RD Ag Dwiyantoro
Imam Gereja St Yosep Purwokerto

Seorang suci, Atanasius namanya, pengumpul serpihan-serpihan tulisan Kitab Suci yang tiap hari menghabiskan waktunya untuk mempelajari ajaran Tuhan lalu menyusunnya menjadi kumpulan kitab, mendapatkan suatu bandel sabda Tuhan. Itu menjadi buku kuno yang ditemukan dan nilainya amat berharga. Waktu itu ditaksir seharga 250 dinar. Sekarang satu dinar setara dengan upah kerja sehari.

Suatu hari dia kedatangan tamu seorang rahib. Ia menjumpainya namun ia tertarik begitu melihat buku kuno alkitab tersebut. Setelah sejenak bercakap-cakap dengan Atanasius, rahib ini meminta waktu untuk berdoa. Ia menuju ruang tempat menyimpan kitab kuno tersebut.  Atanasius juga melanjutkan dengan aktivitasnya menerima konsultasi tamu lain. Rahib tadi pergi dengan membawa kitab kuno tersebut. Atanasius sebenarnya mengetahui kelakuan rahib tersebut tetapi karena sumpahnya daripada menambah dosa maka ia tidak mengejar rahib tersebut untuk mengembalikan kitab kuno yang diambilnya.

Rahib kemudian pergi ke kota mencari pembeli benda-benda kuno. Dengan diam-diam ia mengeluarkan kitab kuno tersebut. Lalu menunjukkan kepada seorang pembeli yang menaruh minat padanya. “Benda apakah yang kau bawa itu? Kelihatan engkau ingin segera menjualnya!” sapa calon pembeli. Rahib pun kaget karena seakan-akan calon pembeli tersebut mengetahui bahwa barang yang dibawanya adalah barang berharga.  Padahal sebenarnya karena terbiasa dengan tingkah laku orang saja ia bisa menebak suasana hati penjual benda-benda kuno.

“Sudahlah, dikeluarkan saja! Itu pasti benda yang amat berharga!” pinta calon pembeli sekali lagi. Memang dengan agak takut-takut rahib mengeluarkan buku kuno tersebut. “Nah benar kan? Yang aku duga!” Rahib semakin tidak bisa berkomentar apa-apa. Seperti tercekat tenggorokannya sehingga susah untuk bersuara.

“Berapa harga yang kautawarkan?” sang calon pembeli langsung pada pokok tawaran. Seakan tidak ingin berlama-lama, calon pembeli ini. Namun itu justru menimbulkan perasaan tidak enak dalam diri rahib. “200 dinar” jawab si rahib. “Oh ya? Aku mau melihatnya apakah buku ini layak dengan harga seperti kau sebutkan,” balas calon pembeli.

Entah ke mana, dengan membawa buku yang dilihatnya itu ia pergi untuk beberapa waktu. Sang Rahib memang mulai bertanya-tanya apakah calon pembeli bisa dipercaya. Jangan-jangan buku dibawa pergi, dan seterusnya. Namun ia mendengar dari beberapa orang yang mengatakan bahwa calon pembeli itu terkenal teliti dan jujur. Ia termasuk yang lurus jalannya dan dihormati oleh para penjual karena memang berani memberi harga tinggi untuk barang bernilai. Itu juga sudah dirasakannya ketika memulai pembicaraan. Baginya pertanyaan lugas seolah tahu semua apa yang dibawa dan ingin dilakukan, sudah langsung dapat ditebak, menunjukkan betapa matang pengalaman calon pembeli tersebut.

“Maaf, karena waktu sejenak ini saya pergi. Maaf juga bila menimbulkan syak prasangka tertentu tentang kelakuan saya.” Sambil menunjukkan buku kuno tersebut, calon pembeli ini berujar, “Saya sudah menanyakan kepada Atanasius, ahli kitab, bahwa kitab ini sesuai dengan harga yang kamu sebutkan. Menurut Atanasius, harganya 200 dinar!”

“Oh ya? Anda bertanya pada Atanisius?” Dengan sedikit khawatir si rahib ini mencoba ingin tahu lebih lanjut. “Lalu apa yang dia katakana?” “Dia katakan kitab ini harganya 200 dinar seperti yang Anda sebutkan!” jawab calon pembeli. Sudah mulai grogi ia berkata, “Apakah ada hal lain selain soal harga itu yang dikatakannya?” desak si rahib.

“Tidak ada!” Si rahib akhirnya memutuskan untuk tidak menjual buku kuno tersebut. Ia mengambil kembali buku dan kemudian bergegas meninggalkan kota untuk kembali ke rumah Atanasius. “Guru, maafkan aku! Ini buku yang kuambil. Sekarang kuserahkan kembali! Mohon berkenan menerimanya.” Atanasius hanya tersenyum. “Guru, mohon terima buku ini. Sebab kalau tidak diterima, saya punya beban besar!” “Tidak, anakku! Buku ini untukmu!” jawab Atanasius.

Akhirnya Kitab itu diletakkan kembali di tempatnya. Si Rahib pun menyerahkan diri untuk tinggal bersama Atanasius dan menjadi muridnya. Ia membantu pekerjaan Atanasius mengumpulkan tulisan-tulisan kuno tersebut.  (anonymstory).

Si rahib mencuri tetapi Atanasius tidak mempersoalkannya.  Kasih dan perhatiannya membuat si rahib mengakui kekeliruannya sendiri. Kasih yang besar mengubah jalan hidup orang. Tanpa perintah atau suara permohonan, rahib berubah sendiri. Memang bagi si rahib, permohonan maaf yang diajukannya, disadari setelah mengakui perbuatannya. Ia memohon maaf atas kesalahan  yang telah dibuatnya ketika mengambil buku yang bukan haknya. Ia menebus kesalahannya dengan mau tinggal dan membantu Atanasius merawat benda-benda berharga.  Kasih itu mengubah segala-galanya. Kasih mengubah dosa menjadi suci. Kasih menghapus cacat cela, menjadi murni dan tulus. Kasih menghalau perbuatan dan pikiran nakal atau jahat dan egois.

Pada tanggal 13 Mei 1981 pernah terjadi upaya pembunuhan yang menimpa seorang paus. Dalam perjalanan kunjungan, seorang muda bernama Mehmet Ali Aqca mencoba menembak Paus Yohanes Paulus II.  Paus jatuh terkapar. Beruntung tidak sampai meninggal dunia. Beliau masih dilindungi. Sang penembak kemudian dipenjara.  Namun begitu kondisi sudah pulih, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi penjara dan mengatakan kepada Mehmet Ali bahwa beliau telah memaafkan dan mengampuninya. Tanpa diminta beliau datang ke penjara dan langsung mengampuni sang penembak. Tidak membutuhkan inisiatif untuk mengakui kesalahan yang dibuatkan baru kemudian memberikan maaf.

Dalam keadaan masyarakat sekarang, meminta maaf bukan perkara sederhana. Kendala gensi atau jaga nama baik dan wibawa sering menghalangi untuk meminta maaf dan tentu pula memberi maaf. Seorang ayah atau ibu bisa enggan memohon maaf kepada anaknya sebab nanti kalau dia meminta maaf namanya wibawanya akan jatuh. Anak tidak respek lagi. Seorang mertua kepada anak mantu juga bisa diam-diaman saling menunggu untuk meminta maaf. Tidak mau dilihat cacat atau salah, itu menjadi factor yang menghalangi kesediaan untuk meminta dan memberi maaf.

Atau seorang anak juga bisa enggan untuk mengaku salah pada orang tuanya misalnya telah bermain tidak tahu waktu. Ia akan mengatakan mengerjakan tugas di tempat teman, dsb atau bila belanja keperluan rumah tidak tercukupi karena sebenarnya ia gunakan untuk jajan, dsb. Bahkan bisa cenderung agresif menyerang bila hal demikian berlawanan dengan keinginannya.

Untuk dapat meminta dan memberi maaf butuh ketulusan dan kekuatan dari karunia Tuhan sendiri. Tanpa itu terasa akan lebih berat lagi. Apa yang disampaikan dalam sabdaNya menegaskan bahwa memberi maaf menjadi tugas siapa saja tanpa peduli.  Memberi maaf tanpa menunggu orang meminta maaf, merupakan keutamaan yang diperjuangkan. Dalam ajaran tentang Doa Bapa Kami, Yesus Al-Masih menegaskan pesannya: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Di sini kita memohon kepada Tuhan akan memaafkan dan mengampuni kesalahan yang sering kita buat  seperti kita juga mengampuni mereka yang bersalah bahkan ketika mereka tidak meminta maaf lebih dahulu atau menyatakan salahnya kepada kita.

Atau  seperti yang dipanjatkan Yesus Al-Masih pada saat tergantung di kayu salib. “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Yesus memintakan ampun atau maaf atas segala tandakan orang yang memusuhinya tanpa orang-orang tersebut mengakui kesalahan mereka sendiri. Yesus langsung meminta kepada Bapa.

Meminta maaf dan memberi maaf dapat kita lakukan untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita tidak menuntut “beres’ suatu hitungan seperti “hutang piutang’  sehingga kita baru memberikan maaf bila orang meminta dan mengakui kesalahannya. Kita melakukan untuk kepentingan kita sendiri sebab dengan cara demikian kita dibenarkan di hadapan Tuhan.

Sebagai makhuk rohani, tindakan meminta maaf diusahakan bukan tergantung pada wibawa atau gengsi atau juga memberi maaf bukan pada ada tidaknya pernyataan salah dari sesama, melainkan keutamaan berbagi. Keutamaan demikian menghidupkan cara damai di antara umat beriman. Tidak saling curiga dan cemas melainkan lebih banyak menjadi rahim kasih sehingga banyak yang tersentuh dan mendapat berkat. Soter@bdtoro