Melawan Hoaks

Kampanye antihoaks terus digelorakan. Bukan hanya kalangan aparat penegak hukum atau komunitas media, namun juga para pelajar dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini terus dilakukan karena tren penyebaran hoaks di media sosial tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Sebaliknya, justru diprediksi akan terus naik hingga gelaran pilkada, pileg dan pilpres tahun mendatang.

Prediksi itu memang terdengar optimistis melihat semangat gerakan perlawanan yang disuarakan lintas elemen. Namun dari survei, hoaks paling banyak adalah yang bermotif politik, selain SARA pada urutan kedua. Prediksi itu menjadi masuk akal karena agenda pemilihan umum serentak akan diselengarakan dalam kurun dua tahun ke depan.

Meskipun demikian, prediksi itu bisa diminimalisasi mengingat pemerintah dan kelompok yang berkepentingan telah mendapatkan pola penyebaran dan kapan momentum puncak pertumbuhan hoaks di media sosial. Yang tak kalah penting adalah antisipasi jangka panjang. Bangsa ini perlu menanamkan akar budaya ilmiah yang kokoh agar tak mudah diombang-ambing berita hoaks, apapun motif dan muatannya.

Budayawan Prie GS dalam sebuah forum diskusi, mengatakan, hoaks tumbuh subur dan berpengaruh terhadap masyarakat karena lemahnya tradisi ilmiah di negeri ini. Tradisi ilmiah ini dibangun dari kebiasaan membaca dan berdiskusi. Selama ini, masyarakat kita hanya mengenal budaya lisan, atau ngerumpi. Jika ini dibarengi dengan kebiasaan berpikir kritis yang diperoleh dari membaca dan berdiskusi, berita hoaks tak sedemikian parah merobek-robek ikatan tenun kebangsaan kita yang memang sangat beragam.

Inilah PR besar bangsa ini ke depan, menyiapkan generasi yang literer. Ini juga solusi jangka panjang yang harus dipersiapkan menghadapi tantangan era digital. Menanamkan budaya keilmuan, membiasakan membaca dan berdiskusi yang di antaranya bertujuan mengasah nalar kritis kita dan memperluas wawasan masyarakat Indonesia.

Di luar itu, negara juga harus hadir melindungi rakyatnya dari dampak negatif era digital. Internet memang mampu menghubungkan yang berjarak sehingga menjadi tak berjarak. Namun bak perdang bermata dua, internet juga mebawa sisi gelap, banjirnya informasi. Media sosial sebagai produk dari kemajuan teknologi digital menjadi kanal-kanal arus informasi yang kian hari tak terbendung.

Yang menarik perhatian, Facebook belum lama ini diketahui kebobolan data pribadi penggunanya. Dari 50 juta orang yang datanya dicuri itu, diduga satu juta lebih adalah dari Indonesia. Data itu diduga dijual untuk keuntungan korporasi agar penetrasi produknya mampu menjangkau segemen-segmen yang sangat spesifik di level indovidu. Di tangan pialang politik, data itu menjadi alat untuk menyemai propaganda dengan harapan akan menuai suara ketika pemungutan suara tiba. Pilpres Amerika Serikat diduga menjadi contoh bagaimana data para pengguna FB dikapitalisasi menjadi dukungan pada detik-detik menjelang pemungutan suara.

Sebagai ganjarannya, bos FB, Mark Zuckerberg, dicecar para senator pada sebuah sidang senat. Mark mengaku bersalah. Dia tergagap-gagap menjawab pertanyaan para senator yang begitu intimidatif. Mark setelah itu berjanji akan merekrut ribuan pekerja untuk melacak akun berita hoaks dan mamatikannya. Ia juga memfokuskan para programermya untuk merancang aplikasi yang mempu menangkal berita hoaks.

Untuk saatini, FB belum sanggup menciptakan aplikasi yang mampu mengidentifikasi berita bohong, yang menurut sebuah survei, lebih mudah tersebar di jejaring FB dibanding berita yang kredibel. Tak hanya kehilangan kepercayaan publik, Mark juga mengalami kerugian materi yang tak sedikit. Dikutip dari Kompas.com, harta Mark Zuckerberg turun 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,5 triliun dalam sehari.

Jika pemerintah tak cukup tanggap terhadap preseden ini, maka bukan hanya publik yang akan dirugikan. Bangsa dan negara juga terancam kehilangan kesempatan memiliki pemimpin yang dikehendaki rakyat. Sebagaimana yang diduga terjadi di Negeri Paman Sam, demokrasi dimanipulasi. Jika negara berada di tangan yang salah, lihatlah bagaimana AS menebar perang di berbgai penjuru dunia. (afgan@satelitpost.com)

BAGIKAN