Kegiatan pembangunan di berbagai sektor berdampak pada peningkatan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Ancaman akibat pembangunan yang berkelanjutan seperti menipisnya ketersediaan sumber daya air (kualitas dan kuantitas), hilangnya lahan-lahan produktif (untuk ketahanan pangan), hilangnya hutan dan kawasan lindung, hilangnya keanekaragaman hayati, lahan kritis, banjir, longsor, kekeringan dan meningkatnya ancaman terhadap dampak perubahan iklim.

Oleh :Widijati
Guru SMP Negeri 1 Punggelan

Berdasar penelitian IKLH tahun 2009-2011, sebaran Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia tiap provinsi  menyebutkan bahwa Provinsi Jawa Tengah tergolong dalam kategori rendah. Sebagai contoh di wilayah Banyumas dan Banjarnegara. Masalah utama di Banyumas adalah sampah yang belum terkelola dengan baik, limbah sungai dari batik, bau ternak, banjir dan longsor. Sedangkan di Banjarnegara tanah longsor, banjir, sampah belum terkelola dengan baik, pencemaran tanah dan sungai akibat limbah pestisida. Penyebabnya adalah perilaku warga masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan hidup. Perilaku masyarakat terhadap sampah berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013 adalah sebagai berikut: 50,1 persen membakar sampah,10,4 persen membuang sampah ke kali, parit, dan laut, 9,7 persen membuang sampah sembarangan, 3,9 persen menimbun sampah dalam tanah.

Menghadapi permasalahan seperti itu sekolah sebagi tempat pembentukan karakter bangsa butuh aksi nyata untuk memberikan kesadaran kepada siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dalam hal memberi kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan bisa melalui pendidikan formal seperti program adiwiyata, Program Green Campus, Eco Pesantren dan sebagainya.

Sekolah Adiwiyata

Adiwiyata berasal dari kata Adi berarti baik, besar, sempurna, ideal sedangkan Wiyata berarti tempat seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam kehidupan sosial. Adiwiyata: tempat yang ideal bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam kehidupan sosial (termasuk di bidang LH). Dari pengertian Adiwiyata maka sekolah mempunyai tekad  untuk mewujudkan warga sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup. Bukan hal yang mudah untuk mengubah perilaku siswa  apalagi dengan kemajuan teknologi seperti sekarang yang menyebabkan anak mempunyai sifat individu dan tidak peduli terhadap lingkungan. Tapi sekolah berusaha keras untuk menggiatkan anak-anak peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Peran pendidik sangat diperlukan dalam menyukseskan program ini yaitu dapat mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan karakter di SMPN 1 Punggelan mewujudkan generasi unggul yang bertakwa, berbudi, berprestasi dan peduli lingkungan. Kebersihan dan kesehatan mestinya menjadi budaya, kalau lingkunganya sehat siswa menjadi betah dalam belajar dan melaksanakan kegiatan positif lainya. Kegiatan bersih-bersih kelas dan lingkungan, menanam bunga dan pohon salah satu cara membudayakan perilaku ramah lingkungan hidup di lingkungan sekolah melalui proses pembelajaran dan pemberian teladan.

Empat aspek yang harus menjadi perhatian sekolah untuk dikelola dengan cermat dan benar apabila mengembangkan Program Adiwiyata antara lain kebijakan, kurikulum, kegiatan, dan sarana prasarana. Sehingga secara terencana pengelolaan aspek-aspek tersebut harus diarahkan pada indikator yang telah ditetapkan dalam program Adiwiyata.

Pertama  pengembangan kebijakan sekolah. Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka diperlukan model pengelolaan sekolah yang mendukung dilaksanakannya pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Program Adiwiyata yakni partisipatif dan berkelanjutan. Pengembangan kebijakan sekolah yang diperlukan untuk mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan tersebut antara lain visi dan misi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.  Kedua pengembangan kurikulum berbasis lingkungan.

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para peserta didik dapat dilakukan melalui kurikulum belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari seperti pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran, penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar.

Ketiga pengembangan kegiatan berbasis parsitipatif untuk mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, warga sekolah perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat di sekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkungannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh warga sekolah dalam pengembangan kegiatan berbasis partisipatif antara lain: menciptakan kegiatan ekstrakurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis partisipatif di sekolah, mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar, keempat pengelolaan dan atau pengembangan sarana pendukung sekolah, dalam mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan dibutuhkan sarana prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup.

Capaian akhir program Adiwiyata  diharapkan terbentuk karakter dalam seluruh warga sekolah yang berwawasan lingkungan yang menerapkan nilai-nilai cinta dan peduli lingkungan pada sekolahnya. Tidak ada hal yang sulit di lakukan jika dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil, dan dimulai saat ini juga.