Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyatakan sepanjang tahun 2017 tercatat ada sebanyak 514 laporan kasus pornografi. Kemudian di awal tahun 2018 masyarakat digegerkan dengan pemberitaan kasus pencabulan 25 anak dan video porno yang melibatkan anak yang sedang duduk di sekolah dasar. Selain itu di era sekarang era milenial, era di mana teknologi tidak bisa terbendung mengakibatkan akses dan beredarnya video porno sangat mudah dan cepat. Era milenial secara garis besar para pelajar dan pemudanya selalu memegang gajet, tentunya video porno sangat mudah untuk dikonsumsi oleh mereka. Hal tersebut tentunya sangat mengerikan bagi tumbuh kembangnya anak kita. lantas faktor apa saja yang menyebakan anak mudah terlibat dalam kasus pornografi?

Teguh Wiyono MPdI
Dosen di Universitas Terbuka Purwokerto pada Fakultas Pendidikan

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar gerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainya melalui berbagai media bentuk media komunikasi dan pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan di masyarakat. Atau pornografi sering disebut dengan penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksualitas manusia secara terbuka dengan tujuan membangkitkan birahi (gairah seksual),

Faktor penyebab seseorang melakukan tindakan pornografi di antarnya lemahnya keimanan. Pada dasarnya keimanan adalah landasan seseorang dalam menjalankan kehidupan, yang berhak penuh atas pendidikan agama anak adalah dari keluarga, sekolah dan lingkungan. Kedua, kemiskinan. Kemiskinan telah memaksa banyak keluarga untuk merencanakan strategi penopang kehidupan mereka termasuk menjual moral anaknya untuk bekerja sebagai pelaku pornografi. Ketiga, keinginan cepat kaya (materialistik). Keinginan untuk memiliki materi dan standar yang lebih tinggi memicu terjadinya pelacuran. Keempat, faktor budaya, dapat berkontribusi terhadap terjadinya pornografi, seperti budaya cyberporno, memasang foto porno, dan lainya. Kelima, lemahnya penegakan hukum dalam mengawasi beredarnya cyberporno, dan kegiatan prostitusi. Keenam. Kurangnya pengawasan, pendidikan, dan pembinaan dari orangtua/guru kepada anaknya tentang penggunaan sarana tekhnologi, seperti handphone, dan internet yang tidak terkontrol. Ketujuh, murahnya biyaya untuk dapat mengonsumsi bahkan memiliki foto-foto atau video porno melalui situs yang ada di internet.

Ciri-ciri anak yang sudah terindikasi dengan pornografi, yaitu; suka menyendiri, bicara tidak melihat lawan bicara, prestasi di sekolah menurun, suka berbicara kotor, berperilaku menyimpang, suka berhayal tentang pornografi, dan suka menonton film porno dan jika dihentikan akan mengamuk, menjadi pendiam, dan suka melawan.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Dr Donal Hilton Jr selaku ahli bedah otak Amerika Serikat, mengungkapkan pornografi sesungguhnya merupakan penyakit, karena mengubah struktur dan fungsi otak atau dengan kata lain merusak jaringan otak. Bagian yang paling rusak adalah prefrontal cortex, yakni jaringan di mana anak tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan yang tanpa memikiran dapaknya. Selain itu, otak juga tidak bisa berperan eksekutif sebagai pengendali implus-implus. Bagian inilah yang membedakan manusia dengan binatang, ketika seseorang kecanduan pornografi sikap dan perbuatanya akan menyerupai binatang yang tidak memiliki rasa malu.

Lantas solusnya seperti apa untuk menanggulangi agar anak kita bisa terhidar dari aksi pornografi?, Solusinya adalah dengan penanaman pendidikan menutup aurat sebagai sarana pencegah pornografi. Pendidikan menutup aurat adalah suatu penanaman kepada anak kita atau saudara kita, untuk menutup sesuatu anggota badan yang tidak boleh ditampakkan dan diperlihatkan oleh lelaki atau perempuan atau kepada orang lain, karena dapat menimbulkan aib, malu, dan menimbulkan keburukan. Menutup aurat yang baik adalah dengan menggunakan pakaian yang tidak memperlihatkan bentuk tubuh yang menarik bagi lawan jenis, tidak tembus pandang, desainya tidak terlalu menarik perhatian, dan yang tidak kalah penting adalah nyaman digunakan. Untuk laki-laki tutuplah bagian pusar sampai ke lulut, sedangkan untuk perempuan hanya boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan.

Tanamkan Rasa Malu

Cara mendidik anak agar mau menutup aurat adalah dengan (1) memberikan contoh kepada anak tentang tata cara menutup aurat yang baik dan benar. (2) pilihkan lingkungan yang baik, sebisa mungkin memilihkan teman yang terbiasa dengan berpaikan yang tertutup dan sopan. (3) tidak memaksa, dengan cara perlahan-lahan untuk membujuk berpakaian yang menutup aurat. (4) tanamkan rasa malu pada anak, jangan biasakan anak meskipuan masih kecil bertelanjang. (5) tanamkan jiwa maskulinitas (sikap laki-laki) pada anak laki-laki dan jiwa feminitas (sikap keperempuanan) pada anak perempuan. (6) memisahkan tempat tidur. (7) melarang membuka aurat di hadapan anak-anak yang sudah mumayyiz (dewasa). (8) mendidik menjaga kebersihan kelamin. (9) mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. (10) medidik anak agar tidak melakukan khalwat (berduaan tanpa muhrim). (11) mendidik anak bersuci dari ihtilam (laki-laki dewasa) dan haid

Mari kita bersama-sama perintahkan anak dan anggota keluarga kita untuk menutup aurat atau menutupi anggota tubuh tertentu bukan beralasan karena anggota tubuh kita kurang bagus atau jelek, namun lebih mengarah kepada keburukan yang akan ditimbulkan seperti pelecehan pornografi dan menghancurkan masa depan generasi pemuda kita.(*)

BAGIKAN