Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

Dalam sepekan terakhir, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) masih menjadi topik paling banyak diperbincangkan.

Betapa tidak, banyak yang menilai surat sakti ini begitu ampuh kalahkan prestasi anak pandai dan hancurkan harapan para juara menembus sekolah para idola.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di awal tahun ajaran baru banyak orang yang mendadak ingin diakui sebagai orang miskin. Dengan berbagai cara, mereka mengurus surat miskin agar anak-anaknya bisa diterima di sekolah yang diinginkan.

Padahal, SKTM ini patutnya dimiliki mereka yang betul-betul kurang beruntung karena banyak hal. Mulai dari orang tuanya tak punya pekerjaan, susah memenuhi kebutuhan makan, tidak memiliki hunian layak, hingga tak bisa menyekolahkan anak-anaknya.

SKTM memang boleh digunakan oleh mereka yang ingin pintar, tapi tak punya uang. Atau juga oleh mereka yang butuh pendidikan, tapi jauh tak terjangkau. Intinya, SKTM ini diperuntukkan bagi mereka yang hidup penuh kekurangan.

Merasa dikalahkan oleh secarik surat sakti itu, lantas banyak yang protes “kenapa yang miskin bisa langsung diterima, padahal nilainya rendah?” Mereka mungkin sedang lupa berempati pada calon-calon murid yang hidupnya memang terhimpit. Mereka-mereka yang ruang geraknya sempit, dan pilihan hidupnya sangat terbatas.

Jalur masuk dengan surat miskin, di mana murid-murid yang betulan miskin bisa langsung diterima tanpa peduli seperti apa capaian akademik dan tingkat kecerdasannya ini, diharapkan bisa menjadi satu jalan keluar bagi anak-anak yang memang kurang pintar dan kurang mampu. Sasaran penerapan aturan ini, sebetulnya memang untuk anak-anak yang sebelumnya boro-boro memikirkan sekolah karena berbagai alasan tadi.

Tentu saja, ini memang tidak akan bisa langsung menjadi solusi bagi anak-anak yang masalah hidupnya sangat kompleks itu.

Tapi setidaknya kebijakan penggunaan SKTM ini, menjadi setitik harapan yang muncul dalam kegelapan hidup mereka.

Jika dilihat dari sudut pandang berbeda, permasalahannya bukan pada penerapan kebijakan penggunaan SKTM-nya. Tetapi lebih pada penerbitan dan penyalahgunaan SKTM oleh mereka yang mentalnya kekurangan alias bermental miskin. Karena tidak hanya bisa disebut curang, tapi sebetulnya jahat.

Kelakuan mengurus surat miskin itu, sama saja mengambil hak anak-anak yang memang membutuhkan.

Untungnya sudah banyak daerah dan sekolah yang mulai tegas dengan memberikan sanksi, jika ada yang ketahuan menggunakan surat miskin palsu.

Di SMAN 5 Purwokerto misalnya, dari 83 pendaftar dengan SKTM, 11 di antaranya akhirnya sadar dan mengundurkan diri.

Jumlah itu ditambah dengan hasil survei pihak sekolah, tim verivikator mendapati empat orang pendaftar yang dianggap menyalahgunakan SKTM.

Sebelumnya di SMAN Wangon, tak kurang dari 60 pendaftar dengan SKTM yang juga menarik berkasnya dan mengundurkan diri. Langkah serupa juga diambil oleh 54 orang dari 244 pendaftar di SMAN Jatilawang dan dua calon siswa dari 130 pendaftar di SMAN Ajibarang.

SKTM bisa menjadi pahlawan bagi mereka yang memang membutuhkan, tapi juga menjadi noda bagi dunia pendidikan bila tak objektif.

Jadi kalau tidak miskin, jangan mengaku miskin. Jangan rebut kuota 20 persen untuk warga miskin yang juga ingin mencicipi pendidikan di sekolah negeri.

Pihak-pihak yang berwenang mengeluarkan surat miskin, sebaiknya juga melakukan verifikasi dan tidak diobral murah. Proses yang lebih terbuka, harapannya juga ikut menumbuhkan mentalitas malu miskin. ([email protected])