Di pertengahan bulan ini, seseorang yang diduga terlibat teroris melakukan perusakan dan  penyerangan terhadap para jemaat yang tengah melakukan ibadah di sebuah tempat ibadah di Yogyakarta. Sejumlah orang mengalami luka cukup serius. Pelaku berhasil dilumpuhkan setelah polisi menembakkan dua peluru ke kakinya.

Oleh Ahwan Saefuloh
Pemerhati Sosial

Media di dalam dan luar negeri sangat ramai memberitakan peristiwa penyerangan tersebut.  Tokoh-tokoh dengan berbagai latar belakang mengecamnya dan menganggap serangan itu sebagai perbuatan biadab (satuharapan.com, 13-2-2018).

Sedangkan di Tangerang, Banten, di awal bulan ini terjadi pengusiran seorang pemuka agama. Ia diusir karena dituduh menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah.

Kejadian-kejadian di atas-penyerangan di rumah ibadah atau pun pengusiran seorang pemuka agama-menunjukkan bahwa masih ada pihak-pihak yang mencoba mengoyak kerukunan antarumat beragama di negeri tercinta kita.

Kita berada di era kemajuan teknologi dan globalisasi. Globalisasi berdampak pada universalitas nilai (misalnya kemanusiaan, demokrasi, penghargaan terhadap HAM) dan memudarnya sekat antarkelompok, etnis atau pun golongan. Dalam konteks ini, idealnya kita bisa menerima perbedaan satu sama lain. Kenyataannya, kita masih menyaksikan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan toleransi antarumat beragama. Bahkan Agama kerap dijadikan legitimasi atau dasar tindakan untuk memojokkan, meremehkan bahkan menganiaya pihak lain.

Meski secara umum kehidupan keagamaan di negeri tercinta kita berlangsung damai dan rukun, namun sesekali tak terlepas dari fanatisme atau kurangnya toleransi, baik terhadap penganut agama lain maupun terhadap kelompok yang berbeda pandangan di dalam suatu agama.

Berikut ini adalah contoh lain mengenai agak buramnya toleransi masyarakat Indonesia di bidang sosial keagamaan: 1) keengganan mengakui keberadaan kelompok yang berbeda keyakinan; 2) sejumlah kelompok keagamaan masih menemui hambatan untuk mendirikan rumah ibadah; 3) masih cukup terlihat gerakan takfiri; 4) menyebut penganut paham yang berbeda dengan narasi besar sebagai aliran sesat.

Institusi sosial keagamaan yang termasuk kategori narasi besar pun tak jarang melakukan tindakan yang kontraproduktif terhadap spirit toleransi antarumat beragama, misalnya: 1) melakukan kekerasan simbolik. Contohnya menyebut orang-orang yang ada di suatu kelompok pemikiran sebagai ‘gerombolan’. Jika kosakata tersebut dialamatkan ke institusi keagamaan yang termasuk ‘narasi besar’ itu, ceritanya bisa lain dan panjang;  2) diam saja atau membiarkan ketika ada ormas keagamaan berdemo atau bertindak dengan cara-cara kekerasan, seperti memakai batu, memakai kotoran binatang, men-sweeping, dsb.

Yang Memperkeruh Toleransi

Dalam pandangan ahli sosiologi agama yang mempunyai latar belakang di bidang ilmu perbandingan agama, Dadang Kahmad (2011), setidaknya ada dua hal yang memperkeruh sikap dan perilaku toleransi antarumat beragama, yakni:

Pertama, klaim kebenaran, yakni menjastifikasi bahwa kelompok atau agama-nya lah yang paling benar. Tiap kelompok mengklaim telah memahami dan bahkan menjalankan secara murni ajaran-ajaran agama. Pada dataran ini, penganut agama menarik batas tegas antara ‘kelompok kita’ dengan ‘kelompok mereka’. Tiap kelompok saling mengklaim kemutlakan paham keagamaannya. Adanya klaim mutlak dapat dipahami jika diberlakukan secara internal, akan tetapi jika klaim kemutlakan ditujukan untuk pihak lain dan menghakiminya, itu sama artinya dengan memojokkan dan menempatkan kelompok keagamaan yang lain sebagai sesat dan perlu diluruskan. Maka yang terjadi pastilah konflik, yang seringkali mengambil bentuk kekerasan.

Kedua, standar ganda, yakni menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya dan untuk kelompok lain. Biasanya untuk dirinya diterapkan standar yang bersifat ideal dan normatif. Sedangkan terhadap kelompok atau agama lain diterapkan standar yang lebih bersifat realistis dan historis. Contoh standar ganda, agama sendiri yang paling benar karena berasal dari Tuhan sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia. Melalui standar ganda inilah muncul prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh suasana hubungan antarkelompok keagamaan atau antarumat beragama. Ada tidaknya keselamatan dalam kelompok atau agama lain, seringkali ditentukan oleh pandangan mengenai standar ganda kita.

Dalam kehidupan luas sekarang ini, tidak bisa dihindari hidup dengan orang yang berbeda, entah karena pandangan hidup, kebudayaan, atau pun keyakinan agama. Maka masyarakat perlu belajar bagaimana hidup dalam perbedaan.

Untuk konteks Indonesia, ada Sumpah Pemuda dan Pancasila yang bisa dijadikan dasar untuk merawat toleransi antarumat beragama. Yang terbaru, keputusan Mahkamah Konstitusi di bulan November 2017 yang mengakui keberadaan para penghayat kepercayaan merupakan bukti bahwa negara berusaha mewadahi keberagaman agama dan penghayat kepercayaan.

Toleransi antarumat beragama perlu kita rawat. Untuk merawat toleransi antarumat beragama ada banyak jalan. Selain menekan sikap klaim kebenaran dan standar ganda ke titik nol, dua usaha penting lainnya adalah sebagai berikut: a) untuk hubungan eksternal agama, penting dilakukan dialog antarumat beragama; b) untuk internal agama, diperlukan reinterpretasi pesan-pesan agama yang lebih menyentuh kemanusiaan universal. Dalam hal ini, peran para tokoh agama dan para cendekiawan lebih dikedepankan.

Sehari sesudah peristiwa perusakan dan  penyerangan terhadap para jemaat yang tengah melakukan ibadah di sebuah tempat ibadah di Yogyakarta, sejumlah orang dan ormas dari agama yang berbeda bergotong royong memperbaiki rumah ibadah yang rusak tersebut (SatelitPost, 14-2-2018). Menurut penulis, mereka adalah individu-individu yang mampu menekan sikap klaim kebenaran dan standar ganda ke titik nol. Hal-hal seperti itulah yang seharusnya perlu kita contoh karena mereka mencoba merawat toleransi antarumat beragama, suatu hal yang diidamkan oleh masyarakat beradab. (*)