Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost

Bom meledak di tiga gereja di Surabaya, Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereka Kristen Indonesia, dan Gereja Pentakosta Pusat, Minggu (13/5). Bom bunuh diri ini merenggut belasan nyawa, termasuk pelaku pemboman. Duka mendalam kami sampaikan untuk korban aksi keji di Minggu yang sendu ini.

Polisi menduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja ini satu keluarga. Bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya. Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno. Kemudian tidak lama bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Menurut Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, pelaku yang menyerang di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang menggendarai Mobil Avanza adalah kepala keluarga yang bernama Dita. Dita melakukan serangan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil yang dikemudikannya ke Gereja Pantekosta.

Namun sebelum melakukan aksinya, Dita terlebih dahulu mengantar isteri dan dua anak perempuannya di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Isterinya yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Kemudian anaknya Fadilasari (12) tahun dan Pamela Rizkita (9).

Di lokasi ledakan ketiga di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pelakuanya adalah dua laki-laki yang juga merupakan putra dari Dita. Masing-masing bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman(16).

Kita telah sepakat sebagai bangsa yang terlahir bineka, perbedaan bukanlah persoalan. Perbedaan adalah kekayaan, anugerah, rahmat dari Yang Maha Kuasa. Kita sudah selesai menghadapi persoalan perbedaan, baik itu agama, suku, ras maupun budaya. Jika kemudian ada tindakan menyakiti pemeluk agama lain dengan mengatasnamakan agamanya sendiri, maka jelas itu tindakan yang didesain untuk membenturkan satu sama lain.

Ahli agama juga berkali-kali menjelaskan bahwa agama tidak mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuan mulia beragama. Sebaliknya, agama mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Maka apabila ada kekejian atas nama agama, maka dipastikan ada kesalahan dalam menginterpretasi teks agama. Atau, lebih jauh, ada yang dengan sengaja menanamkan tafsir sesat itu pada pikiran pemeluk agama yang rapuh, sehingga tega berbuat jauh melampaui batas-batas kemanusiaan.

Jika melihat gereja-gereja sebagai sasarannya, semakin jelas aksi bom bunuh diri ini mengandung unsur provokasi. Dalang serangan bom bunuh diri ingin mengadu domba sesama warga negara. Otak penyerangan ingin memanfaatkan perbedaan untuk menyulut kebencian antarpemeluk agama. Kebencian yang kemudian memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, untuk melawan aksi keji ini, sudah semestinya kita tidak membiarkan apa yang mereka inginkan terwujud. Yakni denganĀ  mempererat jalinan kebangsaan, memperkuat persatuan.(afgan@satelitpost.com)