Obat PCC

APA itu PCC. Orang menyebutnya sebagai obat. Tapi dari Pusat Penyelidik (Pusdik) Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (RI) tidak mengakui tablet jenis PCC sebagai satu jenis obat.

Pusdik BPOM menyebutkan dengan tegas, jika PCC secara fisik memang berbentuk dan memiliki kandungan seperti obat. Tablet PCC ini dinyatakan sebagai produk ilegal yang tidak terdaftar di BPOM.

PCC merupakan kepanjangan dari Paracetamol Cafein Carisoprodol. Kandungan Carisoprodol inilah yang tergolong dalam obat keras berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan No 6171/A/SK/73 tanggal 27 Juni 1973 tentang Tambahan Obat Keras Nomor Satu dan Nomor Dua. Dan Carisoprodol ini izin edarnya secara resmi telah dicabut oleh BPOM sejak 2013. Karena merujuk pada tingginya angka penyalahgunan zat aktif ini.

Di Tanah Air, kasus penyalahgunaan obat ini terjadi belum lama ini di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Puluhan pelajar tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menjadi korbannya. Mereka kejang-kejang usai menenggak minuman yang sebelumnya telah dicampuri tablet PCC. Dua di antaranya bahkan meregang nyawa. Saking banyaknya korban yang berjatuhan, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menyebutkan kasus anak kejang-kejang itu masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Apa yang terjadi di Kendari menyebar dengan cepat. Melalai jejaring sosial Facebook, Group WhatApps,BBM dan layanan pesan singkat lainnya. Semua berkabar, agar seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena peredaraan narkoba jenis baru sudah masuk ke Tanah Air.

Tapi temuan pabrik yang memproduksi PCC di Pabuaran pada Selasa (19/9) oleh Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri bersama dengan Polres Banyumas bak petir di siang bolong. Sungguh publik dibuat kaget sekaget-kagetnya. Temuan itu menunjukkan betapa “dekatnya” kita dengan keberadaan pil setan tersebut.

 

Dari temuan tim kepolisian, diduga dalam semalam pabrik tersebut memproduksi ratusan butir PCC. Mengingat pabrik itu sudah beroperasi selama enam bulan maka sudah ada jutaan pil PCC yang diproduksi.

Lari kemana? Disebutkan pil-pil ilegal tersebut dipasarkan ke Surabaya. Tapi yakinkah Banyumas dan sekitarnya aman dari peredaran pil PCC? Benarkah Banyumas Raya dalam status clean dari peredaran PCC. Ini yang menjadi PR bersama. Mengingat sasaran peredaran pil ini justru di kalangan pelajar (berkaca dari kasus yang terjadi di Kendari), sangat penting bila Dinas Pendidikan se-Eks Karesidenan Banyumas (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara) merapatkan barisan. Melakukan pengawasan dan secepatnya menggelar langkah-langkah preventif agar tak ada lagi siswa yang menjadi korban PCC seperti di Kendari.

Peringatan BNN benar adanya, jika para oknum sindikat narkoba saat ini tengah gencar-gencarnya meracuni generasi masa depan Indonesia yang saat ini masih di usia anak-anak mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jangan sampai kecolongan!

Saya sebagai orangtua bergidik membayangkan apa yang bisa terjadi pada anak saya atau mungkin anak-anak Anda. Pengawasan dan perhatian dari orangtua, juga tak kalah pentingnya. Keluarga adalah benteng pertama sebelum anak bersentuhan dengan dunia luar. Jika di ring pertama saja sudah lolos, maka bukan tidak mungkin anak-anak kita akan dengan mudah menjadi korban selanjutnya. Ingatlah mereka adalah harta kita, mereka adalah harapan akan kelangsungan negeri ini. Karena mereka generasi penerus bangsa.(yuspita_palupi@yahoo.com)