Jika dalam sebuah lagu ‘Perdamaian’ yang populer dibawakan grup Nasida Ria dan teraransemen ulang oleh grup band Gigi tersirat lirik ‘Banyak yang cinta damai, namun perang semakin ramai. Bingung. Bingung ku memikirnya’. Demikian gambaran hoaks yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari ini. Banyak yang cinta kejujuran tapi hoaks semakin ramai. Begitu kira-kira gambaran peradaban kita saat ini.

Polisi pun telah menangkap beberapa penyebar hoaks terkait bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Terakhir dan terheboh dari aktrivis Ratna Sarumpaet (RS). Saking besarnya resonansi yang ditimbulkan oleh hoaks mantan pegiat teater ini sejumlah tokoh mengusulkan 3 Oktober sebagai Hari Antihoaks Nasional.

Tanggal 3 Oktober itu adalah hari pengakuan dedengkot kelompok teater Satu Merah Panggung tersebut kalau ia bohong telah dianiaya oleh orang tak dikenal kepada publik. Sebelumnya beredar kabar ia habis dipukul orang tak dikenal dengan bukti foto mukanya babak belur tersebar di media sosial, yang ternyata baru saja operasi plastik.

Kalaulah memang pencanangan Hari Antihoaks Nasional mengambil momen tanggal 3 Oktober, adakah perasaan kepada RS dan keluarganya, anak cucunya kelak. Bentuk seperti apakah peringatan Hari Antihoaks Nasional? Tentu saja akan mengaitkan dengan konferensi pers RS meminta maaf atas ulah hoaksnya dan juga jumpa pers oleh capres-cawapres Prabowo-Sandi beserta tim yang meminta kepolisian menindak tegas pelaku pemukulan terhadap RS, tak tahunya termakan hoaks.

Sejak 3 Oktober sampai detik ini saja begitu merunyak cibiran, ejekan kepada para ‘korban’ hoaks RS di dinding media sosial. Lantas bagaimana kelak bila Hari Antihoaks Nasional  terwujud, lederkan-ledekan itu akan terus menggema, menimbulkan disintegrasi bangsa. Tentu tidak kita inginkan.

Gerakan antihoaks memang perlu. Pencanangan Hari Antihoaks Nasional juga perlu. Sebab peringatan Hari Antihoaks Nasional satu tujuannya mengingatkan kita jangan  berbuat hoaks, terutama di media sosial. Hanya pemilihan tanggalnya sepertinya kurang tepat jika mengambil momen 3 Oktober. Biarlah 3 Oktober sebagai bagian sejarah peristiwa hoaks yang mewarnai perjalanan politik tanah air.  Dan sebetulnya hoaks bisa kita hentikan dengan cara serentak pemerintah memblokir seluruh media sosial yang ada. Insyaallah kegaduhan hoaks yang kita benci akan jauh berkurang. (ekadila@satelitpost.com)