ilustrasi opini nasionalisme

Oleh: HASAN TRIYAKFI
Guru SDN 1 Pajerukan, Kalibagor. Penikmat Sepakbola

Juara English Premier League (EPL) musim 2017/2018, Manchester City baru saja memainkan laga terakhirnya musim ini pada Minggu (13/5). Laga melawan Southampton yang berkesudahan 0-1 untuk kemenangan The Citizen itu sekaligus menjadi penegasan atas kedigdayaan sang jawara musim ini. Tak tanggung-tanggung, pada laga itu City berhasil mempertajam tiga rekor prestisius yang telah dipecahkan pada laga sebelumnya.

            Gol tunggal yang dicetak Gabriel Jesusmenjadikan City sebagai tim tersubur sepanjang sejarah dalam semusim EPL dengan catatan 106 gol. City juga menjadi tim pertama dalam sejarah EPL yang sanggup mengumpulkan 3 digit poin dalam semusim dengan 100 poin. Kemenangan itu juga menjadi kemenangan ke 32 yang berhasil diraih City musim ini. Jumlah itu menjadi kemenangan terbanyak dalam semusim gelaran EPL. Belum lagi rekor-rekor minor seperti selisih gol terbanyak dengan +79 gol, selisih poin terbanyak dengan peringkat kedua dengan 19 poin, kemenangan tandang terbanyak dengan 16 kemenangan, maupun rekor-rekor individual yang berhasil diraih pemain dan pelatih The Citizen (Bola.net 14/05/2018).

Bahkan jika ditarik lebih jauh, sebelum musim berakhir The Citizen juga berhasil menyamai rekor sang tetangga Manchester United sebagai tim tercepat menjadi kampiun EPL dengan 5 laga tersisa. Pada pertengahan musim City juga berhasil menorehkan rekor kemenangan beruntun terbanyak sepanjang sejarah EPL dengan 18 kemenangan beruntun (Kompas.com 31/12/2017).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa yang menyebabkan Manchester City bisa tampil begitu dominan musim ini?

Berawal dari Filosofi

Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan Manchester City sejauh ini. Investasi besar yang dilakukan sang pemilik klub dengan membeli pemain-pemain berkualitas di beberapa jendela transfer terakhir bisa dikatakan memegang peranan vital. Namun, ada satu hal penting yang menurut penulis bisa jadi merupakan faktor kunci keberhasilan City. Hal itu adalah filosofi sepakbola yang dibawa dan dipegang teguh oleh sang pelatih, Joseph Guardiola.

Pep Guardiola memang dikenal sebagai pelatih yang meyakini filosofi sepakbolanya sendiri. Yaitu filosofi sepakbola menyerang yang mengandalkan penguasaaan bola dan umpan pendek dari kaki ke kaki. Para penikmat bola sering menyebutnya dengan tiki-taka. Guardiola begitu meyakini filosofi tiki-taka ini sebagai cara terbaik bagaimana sepakbola dimainkan.

Awal kedatangannya di City, tak sedikit yang meragukan tiki-taka akan bisa diterapkan di sepakbola Inggris. Karena sepakbola Inggris memang sangat berbeda dengan sepakbola di Liga Spanyol maupun Liga Jerman, dua kompetisi yang telah ditaklukkan Guardiola sebelumnya. Banyak pengamat sepakbola, mantan pemain, pandit, bahkan media Inggris yang memang terkenal kejam merasa skeptis. Banyak yang menyarankan Guardiola untuk mau berkompromi dengan melakukan penyesuaian tiki-taka dengan sepakbola Inggris.

Kekhawatiran berbagai pihak akan tidak cocoknya filosofi tiki-taka dengan sepakbola Inggris memang akhirnya menjadi kenyataan. Akhir musim kompetisi 2016/2017 Manchester City hanya sanggup finish di urutan ketiga EPL. Tak satupun tropi yang diraih. Musim itu menjadi musim pertama sang entrenador merasakan nihil gelar sepanjang karir kepelatihannya.

Alih-alih mendengarkan perkatan para pengkritiknya, Guardiola justru keukeuh mempertahankan filosofi yang diyakininya. Guardiola memilih untuk tetap teguh dan terus berusaha meyakinkan pemaintentang filosofi sepakbolanya.

Sikap keras kepala Guardiola juga nampak dari keberaniannya untuk mendepak pemain yang dirasa tidak cocok dengan filosofinya. Contoh paling nyata tentu saja dalam kasus Joe hart. Kiper sekaligus kapten ketiga Manchester City yang telah bertahun-tahun menjadi andalan dan ikon klub. Atau jika ditarik lebih jauh lagi tentu penikmat sepakbola belum lupa dengan perseteruan Guardiola dengan pemain sekelas Ibrahimovic maupun Ronaldinho di Barcelona.

Mungkin cerita kesuksesan The Citizen musim ini akan lain jika Guardiola bukan orang yang memegang teguh filosofinya. Guardiola bisa saja menggadaikan filosofinya dengan melakukan penyesuaian dengan sepakbola Inggris. Atau mungkin dengan memilih bermain agak bertahan demi mengamankan poin. Tapi apa yang dilakukan Guardiola dan City? Mereka justru memilih semakin percaya akan filosofi sepakbolanya.

Pentingnya Filosofi

Filosofi secara sempit mempunyai makna yang sama dengan kata filsafat. Namun, secara lebih umum filosofi mengandung banyak makna. Misalnya Kattsoff memaknai filosofi sebagai kerangka berpikir kritis untuk mencari solusi atas segala permasalahan. Filosofi juga dapat dimaknai sebagai visi/misi, pedoman, suatu bentuk model pemikiran, maupun sesuatu yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran tentang sesuatu.

Definisi filosofi secara umum di ataslah yang penulis maksud di sini. Filosofi seorang Guardiola terhadap sepakbola dimaknai sebagai suatu pedoman, cara pandang, dan model pemikiran tentang bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan. Guardiola meyakini bahwa cara terbaik untuk memenangi suatu pertandingan sepakbola adalah dengan sebanyak mungkin menguasai dan mengalirkan bola dengan cepat. Keyakinan inilah yang ditularkan dan coba ditanamkan kepada seluruh pemain, segenap elemen di klub, bahkan kepada sang pemilik klub di manapun ia melatih.

Belajar dari Guardiola dan Manchester City, setiap dari kita haruslah memiliki filosofi hidup. Karena setiap filosofi individu akan dikembangkan dan akan mempengaruhi prilaku dan sikap individu tersebut. Orang yang tidak mempunyai filosofi dalam hidupnya ibarat layang-layang putus, yang tak tahu arah dan mudah terombang-ambing angin. Hidup tidak bertujuan, dan tidak punya sesuatu yang dijadikan pedoman.

Dalam dunia pendidikan contohnya. Lembaga pendidikan haruslah mampu menjadikan peserta didik sebagai individu yang filosofis. Artinya sedini mungkin siswa harus diajarkan untuk terbiasa berpikir kritis tentang segala hal. Minimal berfilsafat tentang dirinya sendiri. Kenapa dia dilahirkan, atau mungkin untuk apa dia hidup. Siswa yang sudah sejak dini diajarkan untuk berfilosofi diharapkan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang “menemukan” dirinya.

Jika filosofi dimaknai sebagai tujuan, visi, ataupun cita-cita, lembaga pendidikan juga harus mampu membuat peserta didik berani untuk bermimpi. Karena kata pepatah “semua berawal dari mimpi.” Seseorang yang memiliki mimpi/tujuan tentu akan menjadi terarah hidupnya. Seringkali kita temui seorang anak yang baru lulus dari jenjang SMA bingung dalam menentukan jurusan untuk kuliahnya. Yang akhirnya berujung pada pemilihan jurusan kuliah yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Ujungnya, setelah lulus kuliah justru menganggur karena merasa tidak cocok dengan bidang yang dijalani.

Permasalahan di atas tentu saja tidak akan terjadi jika seseorang memiliki filosofi dalam hidupnya. Seseorang yang berhasil memahami dirinya sendiri dengan terbiasa berpikir kritis dan memiliki visi dalam hidupnya tentu akan lebih sedikit peluang “tersesat”. Maka jelas sudah bagaimana pentingnya berfilosofi dalam hidup. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja. Dan mari, sejenak kita mengambil pelajaran dari Manchester City.

Hasan Triyakfi
Guru SDN 1 Pajerukan, Kalibagor. Penikmat Sepakbola