Membaca buku sejatinya bukan suatu hal yang sulit untuk dilaksanakan. Orang hanya perlu duduk atau mungkin berdiri dengan tenang, lantas membuka buku yang ada di genggaman dan menyimak isinya secara saksama. Kegiatan sederhana yang sangat mampu mengubah segala aspek kehidupan menjadi lebih baik. Tapi sayangnya, sesederhana itu pun masih saja ada masalah berupa kemunculan beragam alasan yang sifatnya menyulitkan.

 

Seperti yang kita tahu bahwa belakangan Indonesia sedang gencar-gencarnya mengampanyekan budaya melek literasi, terkhusus perihal membaca buku, demi generasi bumi pertiwi yang lebih maju baik dari segi adab maupun ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, kita semua patut mengapresiasi perjuangan dari segenap jajaran penggiat literasi Indonesia yang telah sudi meluangkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan materi mereka guna turut membantu mengentaskan kemiskinan wawasan serta pola pikir masyarakat di negeri ini.

 

Namun pada dasarnya, segigih apa pun usaha para penggiat literasi untuk menumbuhkan minat baca kepada masyarakat luas, tetaplah tidak akan berarti apabila tak ada kesadaran internal dari dalam batin masyarakat itu sendiri. Seperti yang telah saya sampaikan di awal bahwa selalu saja ada masalah yang hadir merintangi gerak baca bangsa kita.

 

Sudah bukan rahasia ketika kita sulit menemukan orang Indonesia yang mau membaca buku di ruang publik. Saya yakin, hal tersebut terjadi bukan disebabkan oleh keengganan mereka untuk membaca, melainkan lebih menuju ke rasa khawatir terhadap pendapat orang-orang di sekitarnya nanti. Entah dari mana lahirnya, julukan sok pintar; sok beda; sok tahu; sok kritis; serta berbagai macam julukan lain yang lebih condong ke arah cibiran tersebut seakan sering terlontar dari mulut-mulut kebanyakan warga bangsa kita kepada orang yang kebetulan mau membaca di tengah kerumunan, katakanlah di sela-sela menikmati perjalanan dalam alat transportasi umum.

 

Dari situ dapat kita saksikan, bahwa problema sangat serius pada pergerakan literasi yang saat ini masih terjadi adalah mengenai sebuah kecacatan pola pikir. Tentang bagaimana perilaku minoritas melek literasi malah cenderung dianggap seperti aib yang patut dinistakan oleh mayoritas pembenci buku. Jika sudah begitu, minat baca orang yang sebetulnya tinggi bakal ditenggelamkan oleh rasa tidak enak hati atau takut dicaci. Lalu jadilah, Indonesia akan kembali dicap sebagai negara dengan peringkat minat baca paling rendah di muka dunia sebab membaca di sini menjadi suatu hal yang seolah terhina.

 

Alasan lain yang tak kalah memuakkan – terutama di era kapitalisme ini – adalah kebanyakan masyarakat khususnya kelas pekerja yang beropini bahwa membaca buku tidak akan memberi segudang uang guna membeli makanan sehari-hari, jadi membaca buku tidaklah boleh dikatakan penting selain cuma membuang waktu. Pendapat yang sesungguhnya sangat keliru, mengingat manfaat membaca buku bahkan jauh lebih besar ketimbang sekadar memperoleh uang.

 

Membaca buku, setidaknya merupakan suatu kebutuhan krusial manusia hidup alih-alih dilabeli sebagai tindakan mencari muka semata. Mengapa bisa dianggap sebagai tindakan mencari muka? Tentu saya akan berpendapat bahwa anggapan semacam itu muncul sebab orang-orang Indonesia memang telah sejak lama tampak malas membaca. Coba saja jika masyarakat bangsa kita sudah menjadikan membaca buku sebagai kegemaran yang menyenangkan dari dulu, pasti sekarang cap-cap buruk kepada kaum minor yang sadar literasi tidak akan bertebaran secara massif dan menyakitkan.

 

Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh seberapa jauh dan luas pemikiran para penduduknya. Semakin terbuka pikiran seseorang, semakin bijak dan pandai pulalah ia bersikap. Bila direnungkan lagi, buku tentunya memiliki andil besar dalam memperluas wawasan serta pemikiran para pembacanya yang akan berimbas pada kemajuan suatu bangsa.

 

Membaca buku membuat para pembaca mampu memahami tentang mengapa dan bagaimana suatu perbedaan dapat terjadi; menjadikan orang sanggup berpikir kritis dan tidak mudah terhasut oleh informasi yang belum jelas kebenarannya; membuat manusia bisa melihat satu permasalahan dari berbagai sudut pandang hingga amarah tidak akan mudah tersulut; memberi peluang bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri atas ilmu yang telah dibaca; serta ujungnya adalah mutu sebuah bangsa bakal menjadi lebih baik seiring dengan kian berkembangnya peradaban dan ilmu segenap lini masyarakat di dalamnya.

 

Maka, sebagai insan yang diberi akal sehat oleh Tuhan, hendaknya kita semua mampu berpikir lebih jernih. Bahwa tidak etis jika kegiatan membaca buku yang seharusnya mampu diterapkan sebagai gaya hidup justru dianggap tabu. Semua orang berhak membaca buku, terlepas dari seperti apa pun jenis status sosialnya di mata masyarakat. Sebab seperti yang telah saya sampaikan di atas bahwa membaca buku memberi sangat banyak manfaat baik bagi diri sendiri, orang lain, serta negara sehingga sayang apabila tidak dilakukan. Membaca sama sekali bukanlah suatu langkah untuk menyombongkan diri. Lebih dari itu, layaknya asupan makanan, tindakan membaca buku harus dibiasakan setiap hari. Karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang generasi di dalamnya gemar membaca.(*)