Oleh Teguh Wardoyo

PMG MADYA BMKG Cilacap

Terhitung mulai bulan Juni 2018 hingga saat ini, gelombang laut di perairan dan Samudra Selatan Jawa Tengah tergolong tinggi. Hal ini bisa terlihat dari hasil analisis gelombang yang terjadi dan banyaknya peringatan dini gelombang tinggi yang dikeluarkan oleh BMKG selama bulan Juni hingga Agustus 2018 ini. Puncak ketinggian gelombang terjadi pada tanggal 24 Juli 2018 lalu, ketinggian gelombang saat itu bisa mencapai lebih dari 6 meter di wilayah perairan selatan Jawa. Lebih khusus di selatan Jawa Tengah dan DIY. Dampak gelombang tinggi menimbulkan banyak kerugian. Baik berupa materiil maupun korban jiwa. Banyak tanggul beton jebol, seperti terjadi di pantai sekitar Cilacap, warung yang berada di sekitar pantai Selatan Cilacap hingga DIY hancur akibat gelombang tinggi ini.

Dampak lain yang juga dirasakan adalah tidak bisa melautnya para nelayan kecil.Karena terlalu besar risiko yang diambil apabila nekat melaut. Terutama risiko keselamatan jiwa. Tapi di sisi lain mereka juga memerlukan penghasilan untuk nafkah kehidupan sehari hari.

Angin timuran yang bertiup relatif kencang menjadi salah satu penyebab terjadinya gelombang tinggi.Kecepatan angin yang kencang ini terjadi karena saat ini sedang berlangsung musim dingin Australia dimana wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Tekanan udara di Australia cukup tinggi,  terbentuk antisiklon di daerah tersebut. Sedangkan di Asia mengalami musim panas, terdapat daerah tekanan rendah dan terbentuk siklon. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia dan rendah di Asia ini, menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia ke Asia melewati Indonesia. Semakin tinggi perbedaan tekanannya, kecenderungan kecepatan angin akan semakin kencang, sehingga berdampak semakin tinggi gelombangnya.

Selain angin timuran, ditengarai penyebab gelombang tinggi ini juga dipengaruhi oleh adanya swell atau alun dari Samudra Hindia Barat Australia yang menjalar hingga perairan selatan Jawa hingga Sumba dan perairan barat Sumatera.

Adanya angin timuran yang kuat dan swell dari Samudera Hindia Barat Australia ini yang menjadikan gelombang tinggi terjadi.

Data klimatologi gelombang menunjukan bahwa gelombang tinggi di Perairan Selatan Jateng dan DIY berpotensi terjadi selama 4 bulan, yaitu pada bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Puncak gelombang tinggi pada bulan Juli dan Agustus, yang juga merupakan puncak angin timuran. Berdasarkan hasil pengamatan untuk angin, kecepatan angin maksimum bisa mencapai lebih dari 25 knot. Ketinggian gelombang signifikan pada 4 bulan tersebut juga tinggi, berkisar antara 2,5 hingga 4 meter an, sedangkan gelombang maksimum bisa mencapai 4 hingga lebih dari 6 meter, artinya selama empat bulan tersebut kondisi perairan Selatan Jawa Tengah dan DIY kurang kondusif bahkan tidak kondusif untuk aktivitas kelautan.

Beberapa hal yang mungkin dapat diperhatikan terkait dengan angin dan gelombang terutama untuk keselamatan pelayaran, adalah bahwa untuk perahu nelayan waspada terhadap angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan ketinggian gelombang diatas 1.25 m, untuk kapal tongkang waspada terhadap angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 1.5 m. Kapal Fery waspada terhadap kecepatan angin lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2.5 m, sedangkan kapal ukuran besar seperti Kapal Kargo atau Kapal Pesiar waspada terhadap kecepatan angin lebih dari 27 knot serta ketinggian gelombang lebih dari 4.0 m.

Panen Ikan

Pada saat gelombang tinggi inilah sebenarnya ikan mulai bermunculan, atau boleh disebut mengalami masa panen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ratnawati at all.,2016, bahwa di pesisir selatan Jawa, konsentrasi chlorophyll-a musiman pada periode monsun barat, Desember Januari Februari  (0,34mg/m3) sedangkan pada periode monsun timur, Juni Juli Agustus  (0,89mg/m3). Analisis perhitungan ekman pumping rata-rata pada bulan April-November mencapai 3,51×10-6ms-1, dan maksimum pada periode Juni Juli Agustus  mencapai 4,9×10-6ms . Hal ini memberikan indikasi bahwa pada bulan Juni,Juli dan Agustus wilayah Perairan Selatan Jawa Tengah dan DIY, lebih banyak terdapat klorofil dan terjadi upwelling, sehingga banyak terdapat ikan. Dari beberapa nelayan tangkap yang berada disekitar Cilacap menyampaikan bahwa ikan laut lebih banyak pada bulan Juli dan Agustus ini.

 

Suatu Dilema

Pada bulan Juni, Juli, dan Agustus gelombang tinggi merupakan ancaman yang serius bagi keselamatan pelayaran dan aktivitas kelautan lainnya. Tetapi di sisi lain ketersediaan ikan lebih banyak dari bulan bulan yang lain, ini menjadi suatu dilema buat nelayan yang ada di pesisir selatan Jawa Tengah dan DIY. Melaut berbahaya tidak melaut juga tidak bisa mendapatkan nafkah.

Beberapa solusi ditawarkan. Di antaranya dengan tetap memprioritaskan keselamatan jiwa, menyimak informasi yang dikeluarkan oleh pihak  BMKG,  terkait dengan kondisi cuaca dan kondisi gelombang.

Nelayan juga disarankan tidak memaksakan ke laut apabila ada peringatan gelombang tinggi. Melakukan aktivitas bila kondisi cuaca dan kondisi gelombang kondusif.

Bagi nelayan kecil cermati kondisi gelombang, bila dipandang kondusif silahkan beraktivitas. Tetapi aktivitas yang menggunakan waktu yang singkat, sebagai contoh pergi pagi pulang sebelum malam hari dan melaut tidak terlalu jauh dari pantai karena akan sangat berbahaya. Tetap waspada, cermati cuaca dan gelombang, biar bagaimanapun keselamatan jiwa adalah yang paling utama.(*)