Jodoh, rezeki dan kematian mungkin saja telah digariskan. Tak ada seorangpun yang tahu. Tidak pula bisa ditawar. Semua telah dicatat dalam buku catatan kehidupan seseorang. Begitu lebih kurang yang sebagian kita pahami sebagai umat beragama. Namun dalam konteks yang lain, ada ruang yang masih bisa diperdebatkan. Apa itu?

Sebut saja pada kasus kematian seorang mahasiswa IT Telkom Purwokerto, Mohammad Aldi Prayogi. Pemuda berusia 18 tahun ini meninggal dunia setelah tenggelam terseret pusaran Curug Bayan, Minggu (2/12/2018). Sebelum tragedi itu terjadi, ia tengah asyik berswafoto mengabadikan momen indah di sebuah curug. Nahas, ia tergelincir dan jatuh di tengah pusaran curug. Ia tak sanggup melepaskan diri dari belitan jeram Curug Bayan. Begitupun kawan-kwannya.

Semua berduka atas kepergian almarhum pada usia yang masih belia. Kita semua memanjatkan doa untuk ananda yang telah memenuhi takdirnya. Namun duka kita mungkin bisa lebih berarti ketika kita maknai untuk mencegah tragedi serupa terulang. Sebab, pada sisi yang lain, pada tragedi itu bisa jadi ada tanggung jawab bersama, khususnya pengelola obyek wisata.

Kita sudah sering mendengar kasus kematian di obyek wisata. Tanpa perlu mengorek lebih dalam, kita semua sudah tahu. Kekhawatiran mucul ketika obyek wisata semakin menjamur di desa-desa. Hampir setiap desa mengembangkan potensi wisatanya berbarengan dengan kucuran dan desa yang nominalnya miliaran rupiah itu. Ada yang menjual panorama hijau perbukitan desa, tak sedikit pula yang menawarkan curug sebagai daya pikatnya. Pertanyaannya, sudahkah setiap pengelola obyek wisata itu memenuhi standar keamanan untuk wisatawannya?

Pemerintah daerah semestinya peka terhadap aspek keselamatan. Desa-desa wisata harus divaluasi secara menyeluruh. Pemerintah daerah harus menyusun standar keamanan dan keselamatan yang harus dipenuhi setiap obyek wisata di desa. Terpakan sistem pengawasan ketat untuk memastikan protokol keselamatan dipatuhi pengelola wisata. Di antaranya sanksi tegas jika ada yang terbukti lalai menerapkan prosedur keselamatan pengunjung.

Selama ini, pemerintah lebih peduli pada aspek ekonomi ketika berbicara desa wisata. Pelatihan yang diberikan berkutat pada manajemen keuangan dan pelayanan. Sementara faktor keselamatan pengunjung luput dari perhatian. Ketika insiden terjadi, semua gaduh tanpa tahu alur evaluasi karena belum tersistem sebelumnya. Pada akhirnya, tujuan ekonomi yang menjadi prioritas pun tak tercapai. Justru ranah ini menjadi yang paling terpukul karena terancam ditinggalkan karena gagal meyakinkan publik bahwa obyek wisata itu aman dikunjungi.

Mari berbenah bersama. Tak ada yang menghendaki ada korban jatuh lebih banyak di tempat wisata. Orang-orang berwisata untuk bergembira, bukan mendulang duka. Meskipun, duka dan suka pun sejatinya telah digariskan Yang Maha Kuasa.(afgan@satelitpost.com)