Pandu Adi Winata SST
Statistisi Muda BPS Purbalingga

Setahun terakhir berita tentang kenaikan harga tiket kerap menghiasi media massa. Para penumpang pesawat mengeluhkan lonjakan harga yang sangat signifikan. Perlu diketahui bahwa tidak semua penumpang pesawat berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Padahal kebutuhan akan transportasi yang cepat dan nyaman, amat dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat. Lebih-lebih bila negara di mana masyarakat itu tinggal, mempunyai wilayah yang luas seperti negara kita, Indonesia.

Wilayah Indonesia yang membentang luas dari sabang sampai merauke, tentunya menjadikan dinamika kehidupan semakin beragam. Sempitnya lapangan kerja di kampung halaman misalnya, membuat sebagian orang pergi merantau ke luar daerah hingga ke luar pulau untuk mencari nafkah. Ada orang Jawa yang merantau di Papua. Ada orang Bugis merantau ke Sumatra dan lain sebagainya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Penduduk 2010, menunjukkan sebuah wilayah bisa ditinggali oleh penduduk dengan beragam suku. Sebagai contoh di Jawa Tengah, ada 4.412 masyarakat suku Bugis yang tinggal. Sedangkan masyarakat Batak yang tinggal di Provinsi Papua ada 16.243 orang, lalu di DKI Jakarta ada 36.913 orang Minahasa. Fakta tersebut menunjukkan keberagaman suku yang tinggal dalam sebuah provinsi.

Dan ketika tiba moment penting seperti hari raya, biasanya sebagian dari para perantau antar provinsi bahkan antar pulau itu, akan sejenak menjenguk kampung halaman mereka, yang dalam bahasa keseharian kita, sering disebut mudik. Tentu saja kegiatan mudiknya membutuhkan sarana transportasi seperti pesawat terbang, untuk memangkas waktu perjalanan. Dengan pesawat terbang, jarak ribuan kilometer terasa dekat, bahkan konon dunia serasa sempit.

Namun dengan lonjakan harga tiket pesawat yang cukup signifikan hingga mencapai 70 persen, membuat masyarakat harus merogoh tabungan lebih dalam untuk bisa menebusnya. Uang yang sudah ditabung beberapa bulan lamanya harus rela terpakai. Akibatnya yang diprediksipun terjadi. Ada penurunan jumlah penumpang pesawat terbang. Ironinya harga tiket pesawat dari luar negeri ke tanah air atau sebaliknya malah lebih murah.

Berdasarkan data statistik transportasi yang dikeluarkan BPS, penumpang yang berangkat pada penerbangan domestik di Bandara Soekarno Hatta di bulan April 2018 sebanyak 1.949.487 penumpang. Di bulan yang sama tahun 2019, jumlah penumpang turun lebih dari setengah juta penumpang menjadi 1.403.186. Jika dibandingkan antara bulan Februari 2019 dan Maret 2019, jumlah seluruh penumpang domestik di tanah air, menurun dari 6,03 juta menjadi 5,66 juta penumpang, itu artinya turun sebesar 6,26 persen.

Di Jawa Tengah sendiri jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara komersial dari Jawa Tengah pada April 2019 secara keseluruhan, turun 8,51 persen dibanding Maret 2019 yang tercatat sebanyak 217.500 orang. Jika dibandingkan antara bulan April dan Mei 2019, terjadi penurunan juga, jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara komersial dari Jawa Tengah pada Mei 2019 secara keseluruhan sebanyak 155.141 orang, turun 25,42 persen dibanding April yang tercatat sebanyak 208. 026 orang.

Tingkat okupansi (hunian hotel) pun juga turut terpengaruh. Di bulan Januari dan Februari 2018, tingkat okupansi pada hotel berbintang di Jawa Tengah masing-masing sebesar 44,85 persen dan 44,28 persen. Di bulan yang sama tahun 2019, tingkat okupansinya menurun menjadi 42,49 persen dan 44,17 persen.

Jumlah  keberangkatan penumpang angkutan laut melalui pelabuhan laut Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Jepara dan Karimunjawa pada April 2019 sebanyak 30.695 orang, naik 18,42 persen dibandingkan Maret yang berjumlah25.920 orang. Sedangkan jumlah kedatangan penumpang angkutan laut pada April 2019 tercatat sebanyak 27.602 orang, naik 11,99 persen dibandingkan Maret yang sebanyak 24.646 orang.

Nampak nyata bahwa kenaikan harga tiket pesawat, berpengaruh pada sektor lain seperti perhotelan dan pariwisata domestik. Jika harga tiket  penerbangan domestik terlalu tinggi, konsumen yang ingin berlibur akan mengalihkan tujuannya ke luar negeri, karena faktor harga tiket pesawat ke luar negeri yang lebih murah tentunya. Imbasnya, sektor pariwisata domestik akan lesu. Biaya perjalanan bisnis dan tarif pengiriman barang melalui udara akan membengkak, yang pada akhirnya akan berdampak pada harga jual produk konsumen.

Kenaikan yang terkesan tiba-tiba dan tanpa ”improvisasi” berarti dari maskapai dalam hal pelayanan kepada penumpang, menyisakan beragam pertanyaan. Kemana larinya kenaikan margin yang didapatkan oleh maskapai? Bahkan free bagasi yang selama ini didapat oleh penumpang pesawat sebanyak 20 kg, oleh sebagian maskapai dipangkas bahkan ditiadakan.

 

Dampaknya di Purbalingga

Dalam struktur ekonomi, sub sektor angkutan udara turut berperan dalam menggerakkan perekonomian. Di Jawa Tengah, sub sektor angkutan udara memang memegang peranan dalam perekonomian hanya sebesar 0,21 persen pada tahun 2018. Namun pertumbuhannya mencapai 8,87 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan totalnya yang mencapai 5,32 persen. Di Purbalingga, sub sektor angkutan udara memang belum tercatat dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), karena kegiatannya secara komersil memang belum nampak. Namun sesaat lagi Purbalingga akan memasuki era baru sebagai wilayah yang mempunyai bandar udara.

Sebagai masyarakat Purbalingga, tentu saja ada kebanggaan ketika Bandar Udara Jenderal Besar Soedirman (BJBS) di desa Wirasana, Kecamatan Wirasaba, akan dibangun lebih luas dan difungsikan sebagai bandar udara komersil. Pembangunan sudah mulai dilakukan pada awal 2019 dan ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2020. Pembangunan serta pengembangan tersebut meliputi runway seluas 30×1.600 meter, terminal penumpang baru dan area parkir penumpang, hingga pengembangan terminal kargo.

Yang ada di benak masyarakat, mungkin nanti akan banyak ”berseliweran” taksi maupun mobil-mobil pribadi yang akan melakukan antar jemput penumpang. Masyarakat di sekitar bandara akan terkena dampak positif secara ekonomi dengan dibangunnya bandara komersil. Sektor transportasi darat akan semakin menggeliat, muncul lapangan pekerjaan baru yang akan menyerap tenaga kerja di Purbalingga. Sehingga pengangguran Purbalingga yang masih berada pada angka 5,33 persen dapat ditekan.

Kehadiran BJBS inipun diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa Tengah bagian barat hingga selatan seperti Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Kebumen.Harapan-harapan itu tentu ingin terealisasi. Namun dengan lonjakan harga tiket pesawat, tentu saja kita harap-harap cemas akan kondisi tersebut. Sangat disayangkan jika sub sektor angkutan udara yang diharapkan dapat mendongkrak perekonomian wilayah Purbalingga dan sekitarnya justru tidak bertaji ketika ada ”badai” kenaikan tiket pesawat yang cukup tajam.

Tindakan pemerintah sudah tepat ketika memutuskan untuk menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat antara 12% sampai 16%. Tarif baru ini berlaku efektif sejak ditandatanganinya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) pada 15 Mei 2019. Meskipun demikian tarif tiket pesawat tidak serta merta turun. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang merupakan “perwakilan” dari pihak konsumen, tidak ketinggalan untuk turut “berteriak” mendesak diturunkannya harga tiket pesawat. Kita tentu berharap harga tiket pesawat berada pada posisi yang “sehat” sehingga tercapai win-win solution. “Sehat” bagi konsumen sehingga masih terjangkau harganya, juga “sehat” bagi maskapai, sehingga tarif yang dipatok masih memberikan keuntungan bagi maskapai. (*)