Ilistrasi.DOK

 

Oleh: Dr Sobrun Jamil SPdI MA

Staf Fakultas FTIK IAIN Purwokerto

 

Tulisan ini berkelindaan dengan fenomena “fiksi” ala Rocky Gerung yang semakin hari semakin menarik untuk dibahas. Berawal dari ungkapan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa Kitab Suci itu fiksi  pada acara Indonesia Lawyers Club atau ILC menjadi bola panas yang menyejukkan bahkan bisa menjadi bola panas yang sangat membakar. Loh kok malah bola panas yang menyejukkan? Mungkin itu bagi yang pro dengan celotehan Rocky Gerung meskipun itu membuat panas hati tetapi setelah dikaji dengan menadalam, ungkapan Rocky ini sangat banyak benarnya sehingga menjadi menyejukkan nalar akali manusia.

Tapi bagi bagi sebagian orang hal ini menjadi hal yang harus diusut tuntas karena merupakan penghinaan terhadap kitab suci. Bagi orang yang kontra, mereka dengan domain keagamaan masing-masing mengartikan bahwa ungkapan Rocky senada dengan ucapan “Alquran adalah fiksi” atau Alkitab adalah Fiksi atau Weda adalah Fiksi atau yang lain sebagaianya. Wah suatu hal yang harus dilawan kalau bisa malah dimasukkan ke dalam penjara karena itu merupakan bagian pencemaran kitab suci atau kalau bisa dihilangkan sosok yang berfikiran demikian alias dibunuh. Bahkan pada akhirnya benar juga Rocky Gerung dilaporkan oleh konstituen yang kontra dengan delik penghinaan atau penodaan agama, meskipun hal tersebut masih dalam tahap pelaporan.

Bagi saya kegaduhan fiksi Rocky Gerung menjadi hal yang menarik dan mencoba untuk berceloteh mengenai hal ini. Satu hal yang perlu dicermati dari ungkapan Rocky Gerung adalah “fiksi”, fiksi ialah sebuah gambaran nyata yang belum terjadi paling tidak sampai dengan keyakinan yang dianut oleh seseorang, tetapi hal itu tetap ada namun entah kapan terjadi. Oleh sebab itu fiksi menjadi semacam piranti spiritualitas seseorang terhadap Tuhannya untuk mengikuti, meninggalkan ataupun memikirkan apa yang ada di dalam kitab suci tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya kepada konteks yang disebut dengan eskatologi atau ilmu yang berkenaan dengan keakhiratan. Ya eskatologi merupakan ilmu yang berkenaan dengan keakhiratan yang dalam Islam berekorespondensi dengan rukun iman yaitu iman kepada akhirat.

Lalu apakah yang dinyatakan oleh Rocky Gerung berlawanan dengan konteks keimanan? Bagi saya hal itu tidak demikian adanya. Satu hal yang ditegaskan pertama kali oleh RG adalah bahwa fiksi dalam konteks filosofi dia adalah sebuah power atau energi positif yang mengajak manusia untuk mencapai sesuatu yang ada di dalam kitab suci, suatu cara berfikir sistemik dan radik sehingga memperoleh kebenaran yang sesungguhnya.

Dalam Islam sendiri sebenarnya, simbolisasi  dalam beberapa hal yang berkenaan dengan dunia, alam, manusia, binatang sudah termaktub di dalam kitab suci Alquran. Berkenaan dengan simbol orang beriman (mukmin) dan orang Islam (muslim) misalnya, dalam beberapa ayat dijelaskan dengan beberapa kategori karakteristik yang saling mengisi dan saling bersinergi sehingga harus benar-benar dikaji lebih seksama dan komprehensif. Begitu juga halnya dengan konteks kafir, musyrik, munafik, Alquran menukilkan beberapa karakteristik simbolis baik secara metafor, kiasan, penyebutan langsung namanya atau pun fragmentasi tokoh yang saling mengembangkan sehingga mengerucut kepada apa yang disimbolkan tersebut.

Dalam aspek penyebutan orang yang baik atau pun yang jahat, Alquran juga menghadirkan konsep simbolis yang bisa jadi fiksi. Ashabul kahfi (penghuni gua) bisa menjadi bagian dari contoh dari simbolisasi orang baik di mana ada beberapa pemuda yang karena ketakutan dengan raja lalim yang melarangnya mengikuti agama tauhid kemudian lari dan bersembunyi di dalam gua kemudian tertidur selama tiga abad lebih sehingga terbangun di suatu hari, tetapi kenyataannya mereka sudah berada pada abad yang berebeda dengan abad di mana mereka lari. Bahkan lebih lanjut seekor anjing yang notabenenanya hewan najis konon masuk ke dalam surga. Ini sekali lagi menjadi semacam ‘fiksi” yang memang tidak bisa dibantah oleh  siapapun dalam kontek aqidah dan agama. Namun bagaimana kalau dijelaskan secara faktual? Ini menjadi semacam cerita intuitif spiritual yang menjadi power bagi orang untuk selalu beribadah bagaimanapun keadaannya.

Fir’aun atau Pharao misalnya menjadi simbol fiksi akan kejahatan seorang raja lalim yang mengaku dirinya menjadi Tuhan karena ditakdirkan Allah tidak sakit, lalu karena perbuatannya Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka meskipun katanya dia mau mengakui keesaan Allah tatkala mau tenggelam di Laut Merah karena mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Bahkan meskipun sosok Fir’aun sudah tidak ada atau mati tetapi dalam kehidupan nyata sekarang, penyebutan orang jahat dan zalim selalu disematkan kepada Fir’aun. Lalu apakah yang disebut sebagai konsekuensi logis dari kejahatan yang dibuatnya disebut dengan Fir’aun yang dikisahkan di dalam Alquran? Sekali lagi ini fiksi atau metavisi bagi orang jahat di zaman sekarang yang diarahkan kepada perbuatan jahat sosok Fir’aun.

Bahkan surga juga memberi fragmentasi mengenai taman di mana mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kekal di dalamnya. Bagaimanakah atau kaifiyah sungai mengalir tidak dapat difaktualkan dengan konteks kekinian namun dapat dibuatkan semacam sketsa awal mengenai sungai yang mengalir. Abstraksi sungai mengalir seandainya dikejawantahkan saat ini tentunya akan menjadi absurditas pemikiran dan keyakinan, sehingga  hal ini bagi saya menjadi bagian dari fiksi yang menjadi power bagi umat Islam untuk dapat meminum air surga yang menyejukkan bagi peminumnya tersebut, namun tentunya harus memiliki prasyarat dan ketentuan yang berlaku sebagaimana digambarkan di dalam Alquran untuk memasuki surga.

Inilah beberapa konteks fiksi yang dapat penulis paparkan dalam tulisan ini. Intinya apa yang diungkapan oleh Rocky Gerung sehingga membuat kegaduhan baik dalam konteks kebahasaan ataupun termonologis mengenai fiksi selalu berkaitan erat dengan eskatologis atau ilmu keakhiratan. Fiksi versi Rocky Gerung seharusnya menjadi power dan daya bagi siapapun juga untuk dapat berfikir filosofis dengan tetap berpegang pada nilai keagamaan  dan keyakinan yang dimilikinya. Wallahu a’lam bishowab.(*)