Penulis dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Peradaban Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh seorang sahabat asal Yogyakarta, “Apa sih penerbit yang paling terkenal di Purwokerto?”. Saya terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Jujur saja, saya tidak menemukan “file” nama penerbit yang paling terkenal di Purwokerto. Setelah diam sejenak, lalu saya jawab “Nggak tahu loh, Mas.” Jawab saya sambil cengengesan. “Lho, di Purwokerto kan banyak kampus? Sambungnya. Saya pun terdiam.

Ketidaktahuan saya tentang keberadaan penerbit populer di kota Purwokerto memang bisa didebat. Yang saya tahu, memang ada beberapa penerbit buku di “kota mendoan” ini, yang diantaranya bernaung di bawah lembaga kampus, dan ada beberapa penerbit lain. Namun, untuk menjawab penerbit populer yang dikenal masyarakat (akademis) di Purwokerto dan kota-kota lainnya, jujur saja, saya belum menemukan referensi.

Kota-kota pendidikan di Indonesia, semisal Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan lainnya mempunyai penerbit, yang menjadi icon kota pendidikan tersebut. Penerbit buku memang menjadi mitra para akademisi dalam mendokumentasikan dan mendistribusikan ide dan pemikirannya. Dengan kata lain, penerbit dan dunia pendidikan menjadi hal yang tak terpisahkan. Keduanya saling membutuhkan untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.

Purwokerto, dengan segala sumber daya yang ada, sejatinya mempunyai potensi untuk menjadi kota pendidikan, seperti halnya Yogyakarta. Seperti yang kita tahu, ada beberapa kampus besar di Purwokerto, yang menjadi kampus rujukan mahasiswa dari luar kota, bahkan luar pulau. Hal tersebut tentunya menjadi nilai tambah bagi kota Purwokerto. Begitu melimpahnya para akademisi, dosen, peneliti, guru, dan mahasiswa, yang seyogyanya bisa menumbukan industri penerbitan buku di Purwokerto.

Potret penerbitan buku

Dalam dunia penerbitan, ada lima unsur yang saling keterkaitan satu sama lain, yaitu penulis, penerbit, percetakan, distributor, dan toko buku. Kelima unsur tersebut mempunyai posisi yang sama penting dan strategis dalam industri penerbitan buku. Penulis menjadi yang pertama, karena ia lah yang memproduksi tulisan atau naskah, dengan proses kreatif menjadi seorang penulis tentunya.

Kemudian, naskah mentah dari penulis tersebut, diedit dan dilayout oleh penerbit menjadi naskah buku siap cetak. Tidak lupa penerbit mengurus ISBN (International Standard Book Number) ke Perpustakaan Nasional (perpusnas) untuk setiap buku yang diterbitkannya.

Setelah naskah siap, kemudian dicetak. Nah, kalo percetakan (buku) di Purwokerto, memang ada beberapa alternatif pilihan. Setelah buku dicetak, kemudian didistribusikan oleh distributor ke seluruh toko buku (tentunya ada ketentuan dan persyaratannya), sehingga akhirnya berada di tangan pembaca. Ya, itulah gambaran ringkas dunia penerbitan buku.

Melihat fenomena tersebut, sejatinya industri penerbitan buku bisa tumbuh subur di kota ini. Kenapa? Paling tidak ada dua alasannya, Pertama, penulis –sebagai salah satu unsur dalam penerbitan- yang sangat melimpah. Tentunya hal ini bisa kita lihat dari banyaknya dosen di beberapa kampus yang tersebar di Purwokerto, dengan bidangnya masing-masing. Selain itu, ada juga guru, dan juga mahasiswa-mahasiswa. Dengan demikian, penerbit tidak merasa kesusahan dalam mencari naskah yang berkualitas.

Kedua, adanya pembaca yang melimpah di Purwokerto. Siapa itu? Ya, mereka adalah civitas akademika, seperti dosen, guru, peneliti, mahasiswa-mahasiswi yang sedang menuntut ilmu, dan masyarakat pada umumnya. Ada berapa ribu atau mungkin bahkan puluhan ribu mahasiwa di Purwokerto, yang tersebar di beberapa kampus. Jelas ini adalah modal sosial yang melimpah.

Toko buku di Purwokerto

Lalu permasalahannya dimana? Kenapa industri penerbitan di Purwokerto masih “loyo”. Padahal, penulis tidak kekurangan dan pembaca pun melimpah.

Ada fenomana unik untuk menjawab pertanyaan itu. Coba anda perhatikan, ada berapa toko buku di Purwokerto? Dan, dalam sepuluh tahun terakhir ini, toko buku di Purwokerto apakah mengalami penambahan atau penurunan? Padahal, toko buku mempunyai peran yang strategis dalam memarketkan buku, karena toko buku lah yang bersentuhan langsung dengan pembeli.

Ada salah satu kawan berujar, “Sekarang ‘kan zamannya online, tinggal pesan, buku dikirim, nggak harus susah-susah ke toko buku”. Betul sekali apa yang dikatakan kawan tadi, sekarang memang zamannya internet, dimana hal itu merubah pola pikir dan perilaku manusia dewasa ini. Tidak harus susah-susah kita nyari makan, makanan itu sendiri yang datang, ibaratnya seperti itu.

Namun, saya kurang sepakat kalau minimnya toko buku di Purwokerto, dikarenakan para pembaca lebih suka membeli buku di toko online. Kenapa? Coba kita lihat budaya membaca di kota Yogyakarta. Toko buku online pasti banyak di sana, tapi apakah adanya toko buku online di Yogyakarta “menghilangkan” toko buku? Saya rasa tidak. Toko buku di Yogyakarta masih eksis sampai saat ini. Dengan demikian, toko buku dan toko buku online bukan untuk dipertentangkan dan tidak saling untuk meniadakan. Karena biasanya, toko buku “nyata” itu mempunyai toko buku online juga untuk lebih memasarkan bukunya ke pelosok nusantara, bahkan dunia.

Menyoal budaya membaca

Buku adalah jendela dunia. Ya, kita sangat akrab dengan pepatah lawas tersebut. Biasanya tertempel di perpusatakaan-perpustakaan, yang menandakan bahwa, dengan membaca buku kita akan memahami dan mengerti seluk-beluk dunia. Kuncinya adalah membaca.

Lalu bagaimana dengan budaya membaca di Purwokerto? Ini saya rasa pertanyaan yang harus dijawab. Sehebat dan sebagus apa pun sebuah buku, apabila tidak dibaca, sama saja omong kosong. Adanya puluhan bahkan ratusan penerbit pun, tidak mempunyai pengaruh jika masyarakatnya memang tidak mempunyai budaya membaca.

Anis Baswedan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan yang sekarang jadi gubernur jakarta, dalam salah satu kesempatan pernah berujar, bahwa “masyarakat Indonesia itu, sebenarnya minat bacanya ada, tapi daya bacanya yang lemah”. Hal itu bisa kita lihat dari kemauan dan kemampuan masyarakat untuk membaca status-status di media sosial. itu menandakan mereka mempunyai minat baca. Namun, jika status-status tersebut lumayan panjang, besar kemungkinan akan berlalu begitu saja, karena daya bacanya yang belum kuat.

Tradisi membaca di kota Purwokerto memang masih menjadi pekerjaan bersama. Harus ada kerja sama antara pihak-pihak yang saling terkait untuk membuat terobosan-terobosan alternatif untuk merangsang budaya membaca. Dinas pendidikan, kampus-kampus, dan sekolah-sekolah, harus mempunyai program-program yang tersusun sistematis untuk membudayakan membaca.

Di sisi lain, kesadaran personal juga menjadi penting. Ini tugas kita sebagai makhluk yang berfikir. Dimana harapannya, kesadaran personal tersebut mengarah kepada kesadaran sosial, yang pada akhirnya berujung pada gerakan sosial untuk memahami pentingnya membaca.

Tidak menutup kemungkinan, jika tradisi membaca di Purwokerto sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang mendarah daging, industri penerbit di Purwokerto bisa tumbuh subur. Dengan demikian, industri perbukuan bisa menjadi salah satu industri kreatif di Purwokerto. Ayo, budayakan membaca! (*)