Oleh: Hendi SS MTh Dosen Exegesis PB STT Soteria Purwokerto
Oleh: Hendi SS MTh
Dosen Exegesis PB
STT Soteria Purwokerto
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. Etika Kristen mengacu pada tujuan akhir setiap orang percaya yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Theosis). Landasan etika orang percaya adalah Kristus untuk mencapai keselamatan sebagai tujuan hidup manusia.
Dimulai dari lahir baru, bertumbuh dalam kedewasaan, dan menjadi sempurna seperti Kristus. Kita terus berupaya untuk menjadi sempurna seperti Kristus melalui sinergi antara iman dan anugerah Allah. Sinergi adalah kekuatan etika orang percaya. Iman menghasilkan perbuatan-perbuatan baik melalui anugerah atau energi ilahi yang bekerja di dalam hati kita. Anugerah disalurkan oleh Roh Kudus melalui Kristus yang berinteraksi dengan hati kita dalam doa dan berjaga-jaga. Etika adalah produk dari doa di dalam hati di mana jiwa roh kita berjumpa dengan Kristus di dalam Roh Kudus.
Kita melakukan pekerjaan/ perbuatan baik/ beretika baik karena kita ingin menjadi serupa dengan Kristus (Efe 2:10; 1 Yoh 3:2-3). Manusia tidak bisa menghindari relasi atau hubungan baik dengan Allah, sesama, dan ciptaan lainnya. Karena Allah Trinitas (Bapa, Putera, Roh Kudus) adalah Allah yang kasih dan terang maka manusia yang adalah ciptaan menurut gambar Allah adalah manusia yang punya sifat kasih dan terang. Karena kasih sifatnya menjangkau keluar dan terang sifatnya memancar ke sekitar maka manusia juga menjangkau dan memancar kasih dan terang keluar dari dirinya. Memancar dan menjadi terang itulah etika orang percaya. Menjangkau atau relasi kasih itulah buah etika kita orang beriman (Kol 3:12-14; 1 Kor 13:1-4; Gal 5:22). Kasih menjadi semacam air yang mengisi berbagai wadah kehidupan kita. Kasih dah terang adalah reflektor gambar Allah di dalam diri manusia. Kasih dan terang terwujud dalam 2 bentuk perbuatan yaitu melakukan kebajikan yang menjadi benih dari iman yang hidup dan melawan atau mematikan nafsu kedagingan yang menjadi benih dosa.
Kita sedang berjuang melawan dosa dan melakukan kebajikan. Dua hal itu berjalan simultan bukan terpisah. Di saat kita bermurah hati dalam sedekah di saat itu juga kita sedang berjuang melawan nafsu serakah dan keegoisan di dalam diri kita. Itulah etika kita yang terwujud dalam praktik askesis melawan nafsu daging dan praksis atau virtues seperti murah hati dan penguasaan diri (2 Pet 1:5-8). Iman harus ditambah dengan virtues sehingga menghasilkan iman yang hidup.
Etika kita juga tidak bisa lepas dari pengalaman dan tulisan Bapa-bapa gereja. Mereka menjadi guru untuk menuntun kita pada Kristus. Kita memerlukan tulisan-tulisan Bapa-bapa gereja untuk pengetahuan etika kita.
Jika etika yang kita miliki mengacu pada keselamatan maka etika kita dimulai dari pertobatan dan lahir baru untuk masuk dalam Kerajaan Surga (Mat 4:17). Kita bertobat agar masuk ke dalam Kerajaan Surga. Etika kita adalah etika Kerajaan Surga. Kerajaan Surga sudah dekat artinya Firman Allah sudah menjadi manusia untuk membawa kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya.
Dalam Matius 11:20-24, Yesus mengancam kota-kota yang tidak bertobat walaupun mereka sendiri sudah melihat dan menyaksikan mukjizat yang Yesus perbuat tetapi mereka tidak bertobat. Di sini ajakan untuk bertobat selalu diresponi dengan pilihan bukan paksaan.
Fakta bahwa semua orang akan dihakimi, tetapi yang bertobat akan mendapat hukuman lebih ringan daripada yang tidak (Mat 12:36). Etika kita kelak pasti akan dipertangungjawabkan. Karena itu perlunya pertobatan. Bapa Gereja St. Basil the Great menyatakan pertobatan mendatangkan pengampunan dosa (Mat 9:6; Mat 18:18-19). Pertobatan terus menerus membuat kita menyadari bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini bernilai di dalam Kerajaan Surga atau kekekalan. Dalam Yohanes 5:28-29 menegaskan bahwa orang yang berbuat jahat akan dihukum tetapi orang baik akan dibangkitkan dan memperoleh hidup (St. Basil the Great, On Christian Ethics).
Dalam Roma 2:4-6, Allah menuntun kita pada pertobatan, tetapi ada juga yang mengeraskan hati untuk bertobat dan Allah akan menghukum pada hari penghakiman-Nya. Dia membalas sesuai dengan perbuatan kita. Surat Kolose 1:3 mengingatkan kepada kita untuk mencari perkara yang di atas atau hal-hal yang menyangkut Kerajaan Surga yang bernilai kekal.
Marilah kita mengerjakan etika kita dengan menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang telah ditebus oleh Allah yang Pengasih sehingga kasih Allah yang besar itu menjadi dasar kita dalam beretika. Marilah kita menyadari bahwa hidup ini sementara dan setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Marilah kita hidup kudus sehingga semakin hari kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.(*)