Oleh: Saeran Samsidi

Pemerhati Budaya

Setelah Hari Pahlawan, 10 November diperingati oleh rakyat Indonesia untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela dan mempertahankan NKRI. Ada pula pahlawan yang diperingati pada tanggal 25 November, yaitu Hari Guru Nasional. Hari untuk mengenang dan memeringati para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.

Mungkin karena risi atau sertifikasi gajinya jadi tinggi, sejak 2006 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diubah menjadi Pahlawan Bangsa Pembangun Insan Cendekia. Kini guru lebih happy dapurnya kebal-kebul. Kendaraannya bukan lagi diiit … diiit motor kredit, apalagi sepeda onthel, tapi diiiiitt …. diiit Avanza kredit. Makmur dah itu guru ASN anggota PGRI.

Yah, berkat UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 posisi dan kesejahteraan guru ditingkatkan. Para guru harus meraih sertifikasi guru dengan memiliki kompetensi guru untuk menunjukkan kualitas guru dalam mendidik dan mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru.

Ada  empat kompentensi guru yaitu, kompetensi pedagogik,  kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Agar guru benar-benar profesional mumpuni dalam mengajar dan mendidik. Lalu imbalannya adalah mendapat tunjangan profesi sebesar gaji pokok. Jan, mbleketaket pisan, mbok?

Pada ulang tahun guru (PGRI) yang ke-73 ini kita harus  mengelus dada dan perlu istighfar. Ketika kesejahteraan dan profesionalisme guru diperhatikan dan ditingkatkan oleh guru, ternyata guru menduhargai apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan para “Bapak Guru” zaman pergerakan.

Mari kita simak hasil survei nasional yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui proyek Convey Indonesia pada 2017. Pada Selasa (16/10), PPIM UIN  mengumumkan survei mengenai guru. Berjudul “Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru di Indonesia”, survei tersebut menegaskan bahwa sebagian besar guru di Indonesia memang memiliki kecenderungan intoleran dan radikal sehingga dapat memengaruhi tren intoleransi pada generasi muda.

Sebanyak 58,5 persen responden memiliki pandangan keagamaan yang radikal. Sementara sebanyak 34,3 persen responden cenderung memelihara pandangan intoleran terhadap kelompok agama non-Islam. Dalam survei tersebut disinggung pula bahwa guru-guru di Indonesia terindikasi berperan dalam tren intoleransi yang saat ini makin lekat dengan generasi muda Indonesia.Secara umum, menurut survei ini, jumlah guru di Indonesia yang memiliki opini intoleransi dan opini radikal cukup tinggi dengan persentase masing-masing sebesar 50,87 persen dan 40,14 persen dari total responden.

Sebanyak 56 persen guru tidak setuju bahwa non-muslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka. Lebih jauh, 21 persen guru menyatakan tidak setuju jika ada tetangga yang berbeda keyakinan mengadakan acara keagamaan di kediaman mereka. Inilah contoh-contoh opini intoleran yang ditunjukkan oleh survei tersebut.

Sebanyak 33 persen guru setuju untuk menganjurkan orang lain agar ikut berperang demi mewujudkan negara Islam. Sebanyak 29 persen guru juga menyatakan setuju untuk ikut berjihad di Filipina Selatan, Suriah, atau Irak demi mendirikan negara Islam. Dalam survei yang sama, pandangan seperti ini disebut opini radikal.

Yang menarik, 82,77 persen responden menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan masyarakat. Lalu 40,36 persen setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada di dalam alquran sehingga muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari barat.

Pengungkapan hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini telah diwartakan di berbagai media cetak ataupun online. Kepriwen jal? Medine mbok? Bagaimana dengan guru-guru di Banyumas? Pengalaman sebagai guru selama hampir 40 tahun saya menyerap pengalaman-pengalaman guru non-muslim para kolega saya.

Guru Matematika di SMPN yang bernuansa Islami didemo para murid karena tidak berhijab. Mungkin pihak sekolah tak menjelaskan bahwa ibu guru ini beribadah di Gereja Kristen Jawa. Suaminya, juga guru, mobilnya yang sedang diservis di bengkel dan diparkir di pinggir jalan dionggrak-onggrak anak-anak SD yang pulang sekolah karena di kaca depan mobilnya tergantung salib.

Ada teman guru SMAN yang pandai nyanyi dan kerap jadi derigen koor terpaksa harus menyesuaikan seragam lomba koor dengan berhijab. Di rumah dicopot jilbabnya, ketahuan muridnya lalu dirundung. Mungkin para siswa tidak tahu kalau itu ibu guru nonmusilm. Begitu pula teman guru SMPN yang pembina koor gereja ketika di rumahnya diadakan sembahyangan dengan nyanyi-nyanyi, sekelompok anak-anak tetangganya pada nonton. Ketika tahu bahwa itu nyanyian ibadat gereja Katolik, anak-anak lalu bubar sambil menutup telinganya. Kemudian, masih ingatkah heboh pro dan kontra tentang nyanyian anak soleh anak-anak TK di Banyumas?

Keadaan ini  mungkin berkaitan dengan peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” ini pernah saya pertanyakan pada Anis Bawesdan sebelum jadi Mendikbud dalam seminar di Aula FISIP Unsoed. Akan menjadi bom waktu, begitu jawaban Anis Bawesdan di hadapan para guru-guru yang mengharapkan beliau nanti jadi Mendikbud.

Di tengah keadaan ribuan guru wiyata bakti yang sudah ngabdi puluhan tahun pas giliran ada tes CPNS dieliminasi, gugur karena kelewat umur. Guru yang tewas  dianiaya sang murid seperti di Sampang dan guru SMK NU Kendal yang dijadikan bulan-bulanan siswanya serta guru SMK di Purwokerto yang harus masuk bui karena hendak mendisiplinkan siswanya.

Maka pada Hari Guru Nasional yang ke-73 ini para “guru zaman now” harus meneladani para bapak-bapak guru zaman pergerakan seperti Mohammad Syafei (pendiri INS Kayutanam), Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara (pendiri perguruan Taman Siswa), Surjopranoto (salah satu pendiri sekolah Arjuna), E.F.E. Douwes Dekker (pendiri perguruan Ksatriaan Institut)

Para penerusnya guru-guru jaman awal kemerdekaan  mendirikan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dalam Kongres Guru Indonesia, 25 November 1945 di Surakarta kemudian ditetapkan berdasarkan Keppres Nomor 70 Tahun 1994 dijadikan Hari Guru Nasional.

Bapak-bapak ini, “guru zaman old” yang dengan gigih tanpa pamrih berjuang  membangun karakter nasionalisme anak bangsa untuk meraih kemerdekaan mewujudkan NKRI. Kini malah banyak guru yang terbuai paham radikalisme dan intoleransi untuk menghancurkan NKRI. Ironi guru zaman now. Pelita yang meredup,  telah gugur toleransi guru kami.(*)