ILUSTRASI

Oleh : Thomas Sutasman

Pendidik di SMP Pius Cilacap

 

Kehidupan guru tidaklah berbanding senilai dengan sebutannya sebagai guru. Banyak yang sungguh menghidupi panngilannya sebagai guru dengan berbagai cara, namun ada pula yang sekedar mencari penghidupan dengan menjadi guru. Banyak guru yang bersusah payah atau berjuang untuk menjadi guru yang semakin baik, semakin kompeten. Mereka yang terus berjuang akan menjadi guru yang mencapai kepenuhan dirinya. Akibatnya, siswa akan merasakan dampaknya dan tentunya pembelajarannya pun akan berkualitas. Guru tidak sekedar memberikan setengah dirinya, namun memberikan diri sepenuhnya untuk siswa.

Mengapa demikian? Guru yang terus menerus  menghidupi pangilannya mempunyai gairah yang luar biasa untuk menumbuhkembangkan siswa. Mendidik bukan transfer ilmu saja. Mendidik adalah keseluruhan dirinya untuk mengembangkan dirinya sendiri (guru) dan juga mengembangkan orang lain (siswa). Kegairahan dalam mendidik itu disokong dan dibentuk dengan spiritualitas guru.

Spiritualitas  berasal dari kata Latin spiritus, yang artinya “napas, nyawa, roh, jiwa, kesadaran diri, sikap. Menurut Suparno, dalam buku Spiritualitas  Guru (2019), spiritualitas sebagai kesadaran mendalam seseorang yang didasari oleh relasinya dengan Tuhan dan yang mendasari seluruh pikiran dan tindakannya dalam hidup sehari-hari. Bila berkenaan dengan spiritualitas guru, maka guru mempunyai kesadaran, keyakinan mendalam dalam dirinya yang memberikan semangat  dan mendasari pemikiran dan tindakannya dalam mendidik siswa. Spiritualitas menjadi semacam roh dalam diri guru yang menyemangati dan menggerakkan caranya mendidik siswa sebagai seorang guru, sehingga para guru mampu melaksanakan perutusan dan panggilannya sebagai seorang pendidik yang efektif. Tentunya, semangat atau kesadaran itu didasari dan dilandasi oleh relasi guru tersebut dengan Tuhan dan agama yang dianutnya.

Spiritualitas guru mewujud dalam dalam kesadarannya bahwa mendidik adalah panggilan hidup. Panggilan hidup berarti pekerjaan itu mengembangkan orang lain menjadi pribadi yang lebih utuh dan lebih sempurna, atau lebih manusiawi. Selain itu, pekerjaan itu semakin memanusiawikan dirinya sendiri. Wujud lainnya adalah kesadaran bahwa mendidik merupakan panggilan dari Tuhan sendiri, kesadaran mendalam akan kebutuhan dan perkembangan bangsa negara, sentuhan guru yang sungguh mendalam, terpakau oleh situasi anak-anak yang terlantar, dan adanya semangat melayani, membantu, dan berbagi.

Guru yang mempunyai spiritualitas mendalam sangat berdampak pada kinerja guru. Guru selalu bergembira, bersemangat, dan sungguh-sungguh dalam tugasnya mendidik. Siswa menjadi perhatian utama, ia mencintai siswanya, sehingga relasi antara pendidik dengan siswa sangat akrab. Ditopang oleh kompetensi yang mendasari guru, ia akan mengajar secara professional, menyenangkan, mau terus belajar, dan mampu bersinergi dengan pihak lain.

Kesadaran diri menjadi guru tidak tidak mencari upah.  Dengan kesadaran tersebut, guru akan selalu bergairah dalam melaksanakan tugas dan panggilannya. Tentunya dengan spiritualitas yang tinggi, kinerja guru akan meningkat pada cara mendidik siswa, berkomunikasi dengan siswa, dan membantu siswa berkembang maju. Selain itu, spiritualitas guru yang tinggi akan berdampak pada kedisiplinan, kreativitas, dan kegembiraan guru saat menyertai dan mendidikl siswa. Dengan demikian, sangatlah penting bahwa  guru harus selalu  meningkatkan  spiritualitasnya.  Yang sering terlupakan oleh guru adalah refleksi tentang tugasnya. Padahal dengan refleksi, guru mampu menggali inti keguruannya dan merenungkan kedalaman tugasnya.

Guru yang bergairah pastinya membawa suasana sekolah  yang bergairah pula. Sekolah menampilkan diri melalui iklan yang memikat, yakni melalui guru yang bergairah.  Prestasi siswa dan prestasi sekolah pun akan mengikutinya. Intinya, guru yang bergairah membawa kualitas pembelajaran dan kualitas mendidik siswa.  Ini terjadi bila guru sudah selesai dengan dirinya sendiri. (*)