KHUTBAH IDUL FITRI 1440
Oleh: Dr. Anjar Nugroho

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله ُأَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُللهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً.
الحَمْدُللهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلىَ الَّذِى جَعَلَ مُحَمَّدً اِمَامًا لَّنَا وَلِسَائِرِ البَشَر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ لِيَنْفِذَهُمْ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَيُنَجِّيهِمْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة.
أَمَّا بَعْدُ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى القُرْآنِ الكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Jama’ah shalat ‘Ied rahimakumullah
Gema takbir memngumandang di seluruh dunia. Menandakan umat Islam memasuki bulan Syawwal, setelah sebulan melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Maka sudah sepatutnya puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat dan karunia serta hidayah-Nya, sehingga iman dan Islam kita semakin kuat dan kokoh sampai hari ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin otentik kita, panutan kita, Nabiullah Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga dan sahabat-sahabat Beliau. Islam yang sampai kepada kita adalah jerih payah perjuangan beliau-beliau. Tugas kita selanjutnya merawat Islam itu dalam diri kita dan secara pelan tapi konsisten kita syi’arkan kepada lingkungan masing-masing kita. Insya Allah Islam akan semakin berjaya di masa-masa yang akan datang.

Hadirin, jama’ah shalat ‘Ied yang berbahagia
Dalam kesempatan khutbah idul fitri kali ini, ijinkan khatib menyampaikan tausiyah dan hikmah kepada seluruh kaum muslimin yang mendengarkan khutbah ini, khususnya tentu kepada diri khatib sendiri. Mudah-mudahan Allah senanatiasa membimbing kita untuk menjadi manusia beriman dengan sesungguhnya dan manusia bertaqwa yang bisa menjadi teladan baik bagi sesama, dan menaburkan rahmat Islam kepada seluruh alam.
Ramadhan kita kita lalui. Puasa dan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan telah kita lakukan. Entah pada level apa ibadah itu kita jalani, apakah level awwam, khas, atau khawasul khawas, kita berupaya untuk melaksanakan ibadah itu seikhlas mungkin, berikutnya kita pasrahkan secara total kepada Allah, pahala dan rahmat yang akan Dia berikan.
Pasca Ramadhan kita memasuki bulan Syawwal, yang di awal bulan ini ada hari Raya Idul Fitri, sebuah perayaan kegembiraan dan kebahagiaan. Dalam tradisi di Indonesia, Idul Fitri dimanfaatkan untuk silaturrahmi kepada sanak keluarga dan para sahabat serta teman sambil saling mengucapkan selamat Idul Fitri dan saling maaf memaafkan. Jika Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, maka Syawwal dengan Idul Fitrinya adalah waktu untuk menjalin silaturrahmi/silaturahim dengan sesama. Paling tidak dalam Q.S. an-Nsa’ ayat 1 kita menemukan rujukan bagaimana kita harus menjalin silaturrahmi itu:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. an-Nisa’: 1)

Jama’ah shalat ‘Ied yahdikumullah
Apakah kita telah sungguh-sungguh dalam melaksanakan silaturrahmi? Apakah kita telah betul-betul tulus dalam saling maaf-memaafkan? Ini pertanyaan mendasar untuk evaluasi diri sehingga makna Idul Fitri yang identik dengan silaturrahmi tidak semata-mata ritual sosial formalitas belaka. Seperti halnya upacara-upacara atau kegiatan-kegiatan yang lain yang lebih mengutamakan bentuk formal tapi sangat kering dengan substansi dan makna. Sudah silaturrahmi, sudah saling memaafkan secara lisan, tetapi dalam hati masih ada dendam, masih menyimpan kebencian, masih iri hati yang pada akhirnya seperti tidak pernah silaturrahmi dan saling memaafkan. Relasi/hubungan masih seperti hari-hari yang lalu. Suka menyakiti orang lain, gemar memfitnah, rajin menjelek-jelekkan dan menyalahkan orang lain yang seolah-olah dirinya yang paling benar dan bersih. Padahal Allah telah berfirman dalam Q.S. an-Najm: 32

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (Q.S. an-Najm: 32)

Mengapa kita masih merasa benar dan selalu orang lain yang salah? Analisis seorang ahli psikologi sosial, Les Giblin, dalam bukunya The Art of deaking With People, menyatakan bahwa seseorang akan cenderung menyalahkan orang lain karena ia masih belum mampu mengatasi ketidakpuasan yang menyakitkan diri sendiri. Orang tersebut, yang berarti juga kita termasuk di dalamnya, ada masalah dalam dirinya. Ia merasa masih banyak hal-hal yang belum terpenuhi, padahal karunia Allah telah melimpah keadanya. Ini adalah masalah kesyukuran. Rumus sederhanya, semakin kita banyak bersyukur, hati kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan, dan jika hati sudah bahagia maka relasi sosial kita akan semakin baik, akan selalu berpandangan positif kepada orang lain. Bukankan Allah telah memberi pelajaran untuk selalu berpikiran berpositif dalam Q.S. al-Hujarat: 12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Hujarat: 12)

Jama’ah shalat ‘Ied rahimakumullah
Meminta maaf dan memberi maaf membutuhkan ketulusan, tulus karena sadar bahwa manusia tidak bisa terlepas dari salah dan khilaf. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang tampil sempurna tanpa salah termasuk diri kita. Maka jika ada orang lain yang salah kepada kita, tidak ada alasan untuk tidak memaafkan, karena pada sisi yang lain kita juga pernah salah kepada orang lain. Memaafkan orang lain adalah jalan kita untuk menghapus dosa-dosa kita kepada orang lain. Permohonan maaf kita kepada orang lain adalah bentuk kejujuran kita bahwa kita adalah manusia yang penuh dengan salah. Meminta maaf atau memberi maaf tidak berarti akan merendahkan harga diri kita, justru akan mendudukkan kita pada sisi yang lebih mulia. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S. asy-Syura: 43

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.(Q.S. asy-Syura: 43)
Insya Allah, jika kita mampu membina hubungan dengan sesama secara baik, maka kita akan semakin dekat dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Berbagai penelitian membuktikan bahwa jika kita bisa membina hubungan dengan orang lain, berrati kita telah menempuh 85% dari perjalanan menuju kesuksesan dalam bisnis, pekerjaan atau profesi yang lain, dan sekitar 95% dari perjalanan menuju kebahagiaan pribadi. Jika sukses dan bahagia dapat kita peroleh, maka itu adalah jalan mudah untuk menuju kebahagiaan yang kekal abadi di akherat kelak.
Di akhir ujung khutbah ini marilah kita berdoa ke hadirat Allah, semoga seluruh amal kita di bulan Ramadhan diterima dan kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْهُمْ كَمَارَبَّوْنَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.

اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمَ ْتَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ آتِناَ فِىالدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.