ILUSTRASI

 

Oleh : Ahmad Katsiri Agung

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Fakultas Agama Islam, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Semester 3

 

Dewasa ini, pemahaman seseorang terhadap kelompok tertentu belum mencapai batas pengetahuan yang seharusnya dicapai, sehingga mudah menilai dengan perasaan sendiri bukan dengan ilmu pengetahuan yang akhirnya akan damai. Di kalangan masyarakat hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun karena faktor keturunan atau kurangnya wawasan yang didapat. Dalam mencapai tujuan tertentu, menurut saya merupakan sesuatu yang wajar apabila menempuh misi yang berbeda tetapi visinya sama. Misalnya dalam ilmu matematika, 5 + 5 apa bedanya dengan 9 + 1, yang pada akhirnya hasilnya 10. Dengan demikian, semua orang pasti memiliki tujuan yang baik walaupun dengan jalan yang berbeda.

Di Indonesia ada 2 Organisasi besar Islam yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Tentunya kedua organisasi ini memiliki tujuan yang sama, namun saja memiliki jalan yang berbeda. Disatu sisi, dari kalangan NU kemudian belum mengetahui Muhammadiyah sebenarnya, pasti akan muncul suatu argumen bahwa NU yang paling benar, dan sebaliknya dari kalangan Muhammadiyah kemudian belum mengetahui NU lebih jelasnya, pasti akan menilai bahwa Muhammadiyah yang paling sejalan dengan ajaran Islam. Kedua pencetus organisasi ini yaitu KH. Hasyim Asy’ari (Tokoh NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Tokoh Muhammadiyah), merupakan Ulama besar dan memiliki peran penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia pada masanya. Sesuatu yang mustahil apabila kedua tokoh tersebut memiliki tujuan yang berbeda.

Di kalangan NU misalnya, adanya tahlilan, haul, syukuran, dan peringatan hari besar Islam, pasti memiliki dasar yang kuat sehingga mungkin dianggap berbeda oleh kalangan Muhammadiyah. Sedangkan dikalangan Muhammadiyah yang tetap menjaga kemurnian beragama dan menghindari penyimpangan-penyimpangan terhadap syariat Islam, tentunya memiliki dasar yang kuat sehingga mungkin dianggap berbeda oleh kalangan Nahdliyyin.

Penulis prihatin dengan kondisi sekarang yang saling menyalahkan satu sama lain, sedangkan pencetus kedua organisasi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu Islam sebagai rahmatan lil’alamin yang dilindungi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sikap beragama dan bernegara sangat penting bagi semua kalangan. Dengan kondisi Negara yang terkenal akan Kebhinekaan ini tentunya harus saling menghormati agama lainnya selain agama Islam demi menjaga keamanan dan kenyamanan dalam beribadah oleh kaum beragama.

Penulis pernah membaca buku yang berjudul “Sejarah Peradaban Islam” yang ditulis oleh Dr. Badri Yatim, M.A. pada bagian pendahuluan halaman 3, dijelaskan bahwa “Agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, maka agama Islam adalah Wahyu dari Tuhan”. Dengan demikian, manusia dapat melahirkan kebudayaan melalui cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya. Sedangkan tradisi yang dilakukan oleh kalangan NU seperti, Yasinan pada malam jum’at, Maulid Nabi dll, bukan merupakan budaya ikut-ikutan akan tetapi perintah dari ajaran Islam yakni, merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Karena ibadah terbagi dua, yaitu ibadah yang ditentukan waktunya dan tidak ditentukan waktunya (bisa kapan saja). Yasinan pada malam jumat merupakan ibadah yang tidak ditentukan waktunya, sehingga sejalan dengan syariat islam. Kemudian Maulid Nabi yang Memang tidak ada perintah untuk melaksanakannya, tetapi didalam penyelenggaraan Maulid Nabi merupakan perintah Allah didalam Al-Qur’an yakni, diawali dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Nasehat Agama, Silaturrahim, dan terakhir sedekah, sehingga tidak ada yang bertentangan dalam perintah Allah didalam Al-Qur’an.

Sedangkan Muhammadiyah yang berpegang teguh kepada perintah Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah,menunjukkan sikap seorang muslim dalam beragama untuk menghindari dari penyimpangan terhadap Syariat Islam. Organisasi ini juga fokus dalam bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Sosial. Sehingga  akan tercipta sumber daya manusia yang berintelektual muslim dan memiliki peran penting dalam masyarakat dan negara.

Jika dilihat dari sejarah, kedua organisasi ini sangat memiliki peran penting dalam Bangsa ini. Sebelum adanya pendidikan bagi rakyat pribumi, pendidikan kolonial yang didirikan oleh belanda merupakan lembaga yang dikhususkan bagi kalangan ningrat atau yang memiliki harta seperti anak seorang camat atau lurah. Sehingga menimbulkan sikap tidak sama rata yang dirasakan kaum pribumi yang kurang mampu. Kh Hasyim Asy’ari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama dan Kh Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah pada saat itu telah selesai menimba ilmu di Timur tengah, tetapi Kh Ahmad Dahlan melanjutkan pendidikannya ke Mekkah dan meminta kepada Kh Hasyim Asy’ari untuk kembali ke Indonesia dan segera mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum pribumi. Dan pada saat itulah ketika kembali ke tanah air Kh Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis Islami atas musyawarah dengan Kh Ahmad Dahlan sebelumnya. Namun, berbagai tekanan dari kolonial belanda dirasakan oleh Kh Hasyim Asy’ari karena mereka para kolonial Belanda merasa tersaingi oleh lembaga pendidikan yang baru berdiri ini. Kemudian ketika Kh Ahmad Dahlan kembali ke Indonesia setelah menimba ilmu di Mekkah, beliau memadukan aspek-aspek keagamaan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dengan aspek-aspek keduniawian yang dikembangkan pendidikan kolonial.

Dengan demikian, kiranya tidak perlu mempermasalahkan perbedaan pendapat yang mestinya sudah selesai. Agar tidak terjebak pada kondisi yang dapat menghambat kita untuk mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi sekarang ini. Untuk itu marilah kita satukan cara pandang bahwa Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, serta marilah kita rapatkan barisan agar tidak mudah terpecah belah dari segala kepentingan yang tidak bertanggung jawab.(*)