Eri Setiawan

Pegiat pada Komunitas Penyair Institut

Dedalane guna lawan sekti

Kudu andhap asor

Wani ngalah luhur wekasane

Tumungkula yen dipun dukani

Bapang den simpangi

Ana catur mungkur

 

Kalimat filosofi berbahasa krama tersebut pernah ditujukan kepada Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir oleh ayahnya, Kebo Kenanga, sebagai nasihat. Hal itu tercantum dalam buku Babad Tanah Jawa yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tercantum juga di dalam tembang macapat; Mijil, seperti yang dikatakan oleh Suwardi Endraswara dalam bukunya. Kalimat tersebut bukanlah sekadar kalimat parikan atau nasihat biasa, melainkan sebuah pendidikan moral kehidupan yang teramat bernilai. Di mana manusia harus rendah hati, berani mengalah demi kebaikan, menundukkan kepala jika dimarahi orangtua, menghadapi segala hambatan yang melintang, dan menghindari hal-hal yang buruk supaya selamat dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Menjadi pribadi yang andhap asor atau rendah hati tentu saja merupakan kebaikan dan ketangguhan yang luar biasa. Orang-orang yang memiliki kepribadian seperti itu biasanya memahami benar etika atau unggah-ungguh dalam berkehidupan sosial dan hubungannya dengan Sang Pencipta. Menengok sejarah, manusia Jawa dikenal sebagai pribadi yang memiliki sifat dan sikap demikian. Hal itu sudah diajarkan semenjak zaman kerajaan. Para pendekar yang memiliki kesaktian tidak pernah luput dinasihati oleh gurunya supaya rendah hati. Tidak hanya itu, mereka diajarkan rendah hati dari semenjak kecil. Dimulai dari selalu menghormati orangtua, menghormati orang lain, menghindari perilaku egois, dan mengajarkan supaya dapat mencegah kecongkakan. Sesungguhnya, sifat andhap asor dapat berperan sebagai perantara lahirnya sifat-sifat lain, seperti sabar, ikhlas, tidak mudah tersingguh, toleransi, dan lain-lain.

Pada zaman dahulu, di dalam kehidupan sosial manusia Jawa sendiri, terdapat kelas sosial yang menunjukkan adanya kerendahan hati dalam kehidupan bersama. Walaupun berbeda kelas sosial, masyarakat memiliki jiwa saling menghargai satu sama lain. Misalnya, seorang petani biasa terhadap guru atau pegawai. Walaupun sebagai guru atau pegawai yang secara kelas sosial lebih tinggi, mereka tetap menghormati petani tersebut dengan cara; bercakap dengan santun, tidak bersikap sombong, dan tetap dapat berkumpul dan bekerja sama dengan baik. Contah lain, misalnya atasan terhadap bawahan. Meskipun kelas dan wewenangnya berbeda, mereka yang menduduki posisi atasan tetap menghargai, ramah, dan mengayomi bawahannya dengan baik dan bijaksana. Namun, seiring perkembangan zaman, tidak sedikit sifat kerendahan hati masyarakat Jawa yang mulai pudar, apalagi jika sudah dihubungkan dengan perkara kelas sosial.

Pudarnya  Sifat Andhap Asor Manusia Jawa

Ternyata tidak sedikit manusia Jawa yang kehilangan identitasnya seiring perubahan zaman. Istilah dalam Jawanya, wong Jawa sing ora njawani atau wong Jawa kelangan Jawane. Salah satu wujudnya yakni hilangnya identitas sifat manusia Jawa yang berupa kerendahan hati atau andhap asor. Hal ini dapat dilihat dari hubungan sosial antara anak dengan orangtua, saudara dengan saudara, teman dengan teman, atau antarkeluarga terkait kelas sosial.

Sejak beberapa tahun silam hingga sekarang, tingkat sopan santun dan kerendahan hati anak kepada orangtuanya sudah tampak pudar. Hal itu dapat dilihat dari cara anak bertindak dan berbicara kepada orangtuanya. Mereka cenderung tidak menyadari bahwa mereka adalah seorang anak yang harus berbahasa dengan baik, bertingkah laku dengan baik, dan selalu rendah hati kepada orangtua. Pada akhirnya, mereka sering berbicara kasar dan bertingkah laku kurang terpuji terhadap orangtuanya. Bahkan, sebagian anak ada yang bersikap arogan dan tidak mau merawat orangtuanya ketika ia sudah sukses. Selain itu, hubungan antarsaudara atau antarmasyarakat pun kadang-kadang menjumpai permasalahan yang didasari atas ketidakrendahhatian masing-masing. Mereka yang berlimpah harta dan berjabatan lebih tinggi cenderung mulai mengambil distansi dari saudara atau orang-orang yang low economy. Orang-orang yang jauh di bawah mereka, dinilai tidak selevel atau tidak sejalur. Pada akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang saling berseteru satu sama lain. Yang kaya menghina yang miskin, yang miskin menganggap sombong yang kaya.

Ada pula di dalam dunia pertemanan. Dalam dunia pertemanan acapkali dihiasi dengan sikap gengi dan pamer. Bukan hanya di daratan Jawa bagian kota saja, di desa-desa juga demikian. Banyak dari mereka yang tidak menjaga adigang, adigung, dan adiguna dalam pergaulan bersama. Sebagai contoh, teman yang memiliki latar belakang keluarga berkategori juragan atau high class tidak jarang memamerkan apa yang ia punya atau apa yang telah ia dapatkan dari orang tuanya. Misalnya, di era milenial ini sedang gempar-gemparnya teknologi canggih smartphone. Mereka yang punya uang akan sering bergonta-ganti smartphone dan tidak jarang yang sengaja memamerkannya, sementara bagi teman yang berketerbatasan ekonomi hanya bisa melihatnya dengan dibubuhi rasa iri atau cemburu. Anehnya, ajang pamer seringkali dianggap sebagai sebuah prestasi dalam kehidupan, padahal hal itu tentu saja dapat melahirkan sebuah kecemburuan yang berakhir permusuhan atau kegagalan hidup seseorang. Bagaimana tidak? Pada zaman sekarang, tidak sedikit perempuan yang menjual kehormataannya demi mendapatkan uang atau barang-barang berharaga. Hal-hal demikian tentu saja banyak yang dilatarbelakangi oleh gengsi dan minimnya jiwa yang rendah hati.

Fenomena-fenomena di atas akan terus berkembang, bahkan dapat menjadi sebuah kebudayaan baru yang akan menggilas identitas masyarakat Jawa, apabila kembali menjadi pribadi yang andhap asor hanya sebatas ide-ide saja tanpa tindakan. Pendidikan etika andhap asor harusnya dimulai dari sejak dini, di mana peran orang tua sangat penting dalam mengintroduksi kepada anak-anaknya sekaligus membimbingnya. Begitu juga dengan guru di sekolah, harusnya senantiasa menjadi perangkul sekaligus penuntun anak didiknya untuk menjadi generasi yang selalu menjaga kerendahan hati. Hal itu dapat dilakukan di sela-sela materi pelajaran yang diberikan. Mari kita berkaca pada sejarah karena sejarah tak selamanya menjadikan kita lemah. Melalui sejarah, kita dapat merenungi hal-hal yang tidak sepantasnya kita lakukan. Melalui sejarah pula, kita dapat kembali memahami ungkapan; aja seneng lamun ginunggung; memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara; datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan; aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, lan aja aleman; dan aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka, yang intinya bahwa kita sebagai manusia harus menjadi pribadi yang baik dan memiliki unggah-ungguh supaya selamat dunia akhirat.(*)