Dyah Sugesti Asisten Redaktur SatelitPost

Freddie Mercury mengangkat gelasnya yang berisi anggur, sendirian. Beberapa kali ia menyalakan lampu kerjanya sembari menatap jendela di seberang. Jendela itu milik Mary Austin, pacar sekaligus teman baiknya yang sering mendampingi vokalis utama Queen itu.

Tidak terlihat tanda-tanda adanya Mary Austin di sana. Lampu kamarnya padam. Meski Freddie menyalakan lampu beberapa kali, tak ada yang terjadi. Ia mungkin berharap Mary akan membalas salamnya dengan nyala lampu yang sama. Hingar binger pesta pun seakan terlewat begitu saja. Detik itu Freddie Mercury merasa kesepian telah menyerangnya.

Potongan adegan Freddie Mercury yang diperankan oleh Rami Malik ini tergambar dengan jelas dalam film Bohemian Rhapsody yang baru dirilis belum lama ini. Kesepian, tak bisa dipungkiri bisa mendatangi siapapun, bahkan bintang panggung seperti Freddie. Rasa sepi bisa lebih menyakitkan ketimbang luka akibat kecelakaan.

Jangan remehkan hal kecil seperti kesepian. Ketimbang penyakit jantung, kesepian ternyata bisa membunuh diam-diam. Saat seseorang kesepian, ia merasa tidak lagi berharga. Perasaan tidak lagi berharga inilah yang sangat mematikan.

Ingat bagaimana proklamator kita, Bung Karno yang di’buang’ saat-saat terakhir sebelum ia meninggal. Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat membebaskannya. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan dan berhasil masuk ke dalam kamar, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Dikutip dari Sindonews, berbulan-bulan lamanya, Bung Karno didatangi anggota Kopkamtib Soeharto dan diinterogasi mengenai apa yang telah terungkap selama interogasi dan proses Mahlibub. Hal itu membuat Soekarno depresi. Anak-anaknya tidak ada yang boleh menemuinya. Soekarno hidup seorang diri bagaikan seorang pesakitan. Tabiat ringan hati dan masa lalunya telah hilang. Sering kali, Soekarno menangis seorang diri.

Betapa kesepian bisa lebih menyiksa. Sayangnya, banyak yang menganggap hal ini adalah sesuatu yang remeh. Beberapa keluarga mungkin lupa menyapa anaknya, berkomunikasi lebih intens dan berbincang dengan hangat untuk mengusir rasa kesepian. Sebaliknya, beberapa anak mungkin terlalu sibuk bekerja dan melihat ponselnya, sampai lupa menyapa dan ngobrol bareng orangtuanya.

Jangan lupa dengan berbagai kasus bunuh diri yang terjadi di Banyumas belakangan ini. Tidak hanya usia produktif, beberapa orang yang melakukan bunuh diri juga masih berusia remaja, bahkan juga lansia. Ada remaja yang merasa tak berharga, kurang percaya diri hingga merasa jadi beban orangtua. Ada lansia yang merasa begitu tak berdaya dan kesepian, hingga kehilangan motivasi untuk hidup.

Tentu kita tidak mau hal yang sama terjadi dengan keluarga, teman maupun sahabat kita. Kesepian, bagaimanapun sebetulnya bisa teratasi dengan memelihara komunikasi intens yang baik. Mengapa tidak kita coba dengan diri sendiri? Jangan-jangan, kita pun terlalu banyak melewatkan waktu dengan ponsel dan menyapa di dunia maya, ketimbang ngobrol langsung di dunia nyata.

Lewat tulisan ini, saya menyampaikan duka yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga NP, Desa Karangdadap RT 4 RW 4, Kecamatan Kalibagor, Banyumas. Semoga almarhum diterima dengan baik di sisiNya.(sugesti@satelitpost.com)