Oleh: Denny Purnomo, SE

(Mahasiswa Magister Manajemen Unsoed)

 

Jauh sebelum ada teknologi informasi, negara kita telah memiliki kearifan lokal yang secara turun menurun telah dikembangkan dan digunakan oleh nenek moyang kita. Kearifan lokal menurut Sibarani (2012) merupakan suatu bentuk pengetahuan asli dalam masyarakat yang berasal dari nilai luhur budaya masyarakat setempat untuk mengatur kehidupan masyarakat. Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan kearifan lokalnya, hal ini bisa dilihat dari jumlah suku bangsa dan bahasa yang terdapat di Indonesia. Terdapat kurang lebih 638 suku bangsa dan 750 bahasa dimana masing-masing suku bangsa memiliki identitas kebudayaan yang berbeda satu sama lain.

Seiring dengan berkembangnya jaman, kearifan lokal seringkali ditinggalkan atau bahkan dilupakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat dari kalangan kaum milenial. Salah satunya contohnya adalah kearifan lokal yang berbentuk petuah bijak yang berbunyi “alon-alon waton kelakon”. Petuah bijak ini sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk lebih teliti dengan mengambil langkah klarifikasi atas informasi yang kita terima.

Namun sayang sekali, ditengah disrupsi gaya hidup masyarakat dan disrupsi teknologi yang disebabkan oleh munculnya revolusi industri 4.0, istilah bijak “alon-alon waton kelakon” malah sering dikonotasikan sebagai tindakan yang lamban. Akhirnya hal ini dapat berimbas pada maraknya informasi hoax ditengah-tengah masyarakat saat ini. Hoax sendiri adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Perlu adanya ketelitian dan kesabaran didalam menerima suatu berita supaya tidak termakan berita bohong atau hoax. Disinilah peran petuah bijak “alon-alon waton kelakon” dapat berfungsi sebagai salah satu cara untuk mengontrol maraknya berita hoax akhir-akhir ini.

Dari fenomena diatas, munculah pertanyaan, “Dapatkah kearifan lokal berkolaborasi dengan teknologi informasi?”

Teknologi informasi sendiri menurut Williams dan Sawyer (2003)  merupakan teknologi yang menggabungkan komputer dengan jalur komunikasi yang berkecepatan tinggi dan dapat membawa data, suara, dan video. Jika dilihat dari definisi teknologi informasi tersebut, sebenarnya dapat ditarik benang merah yang dapat menjadi dasar dari kolaborasi antara kearifan lokal dengan teknologi informasi. Dengan kemampuan teknologi informasi dalam menyebarkan informasi berupa data, suara, dan video ini, sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam penyebaran informasi yang terkait dengan kearifan lokal. Dengan demikian diharapkan kearifan lokal dapat di sosialisasikan dengan mudah dan cepat kepada masyarakat luas. Sedangkan dari sisi kearifan lokal sendiri dapat berfungsi sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa ditengah pesatnya teknologi informasi.

Sehingga dengan demikian efek negatif dari pesatnya kemajuan teknologi informasi dapat ditekan sedemikian rupa. Disamping itu hasil kolaborasi dari kearifan lokal dan teknologi informasi juga dapat menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk dapat bersaing di pasar global. Contoh kolaborasi yang sudah dibangun antara kearifan lokal dengan teknologi informasi yaitu sistem informasi kalender musim berbasis kearifan lokal masyarakat Gorontalo yang digagas oleh Amirudin Dako.

Ada pula aplikasi layanan smart city Pemkot Cirebon yang berbasis kearifan lokal, dimana nama-nama dalam aplikasi tersebut bernuansa kedaerahan. Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah diluncurkannya aplikasi belajar baca tulis dan permainan aksara Jawa berbasis mobile yang disebut “Hanacaraka” oleh pemerintah DIY untuk membantu masyarakat dan pelajar dalam melestarikan serta mempertahankan aksara dan bahasa Jawa agar tidak punah.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dan teknologi informasi dapat berkolaborasi dengan baik. Namun hal ini tentu tidak terlepas dari peran serta masyarakat dan pemerintah yang saling bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut. Tanpa peran serta dari mayarakat dan pemerintah maka akan sangat sulit untuk mewujudkan terjadinya kolaborasi tersebut. Mari kita dukung kolaborasi kearifan lokal dan teknologi informasi dengan ikut berperan serta aktif didalamnya, sehingga kedepan nanti diharapkan akan muncul banyak kolaborasi-kolaborasi dari kearifan lokal dan teknologi informasi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa kita. (*)