Penulis: Burman Retmanto  Statistisi Muda BPS Kabupaten Purbalingga
Penulis: Burman Retmanto
Statistisi Muda BPS Kabupaten Purbalingga

Pernahkan Anda mendengar sebuah filosofi para pencinta rokok “sebatang rokok adalah negosiator terbaik kedua di dunia”. Barangkali temuan fakta ini tidak atau sama sekali belum bisa dikatakan ilmiah. Namun fakta yang terjadi di lapangan menyebutkan bahwasanya rokok telah menjadi semacam perantara (dan kemudian dianggap telah menjadi bagian dari kebiasaan dalam masyarakat) dalam sebuah komunikasi formal maupun informal antara dua orang atau lebih. Rokok telah biasa dicatut sebagai pencair suasana dalam kelas obrolan ringan hingga negosiasi penting.

Di sisi lain rokok juga memiliki sisi negatif yang ternyata lebih banyak, ketimbang dari sisi positifnya. Bahaya merokok sudah terbukti menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti jantung koroner, kanker paru, penyakit paru obstruktif dan stroke. Pada kenyataannya, penyakit-penyakit tersebut baru sebagian dari seluruh bahaya merokok bagi kesehatan. Merokok sudah dikenal masyarakat sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup besar di dunia. Berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak bahaya merokok bagi kesehatan. Di antaranya yaitu asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impoten), dan sebagainya (sumber bungkus rokok).

Bahkan bahaya merokok bagi kesehatan ini tidak hanya berlaku bagi perokok saja. Pasalnya, orang-orang yang ada di sekitar perokok pun berisiko tinggi terkena efek rokok tersebut, meskipun mereka sendiri tidak merokok.

Jika dicermati dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purbalingga tahun 2018, pengeluaran untuk konsumsi rokok mencapai 12,54 persen per bulannya terhadap total pengeluaran komoditas makanan. Untuk wilayah perkotaan sekitar 12 persen sedangkan untuk perdesaan lebih besar sedikit yaitu sebesar 12,86 persen. Angka 12 persen memang bukanlah angka yang besar, walaupun demikian jika dibandingkan dengan komoditas lain, angka tersebut ternyata lebih besar jika dibandingkan konsumsi pengeluaran untuk padi-padian (beras) yang sebesar 11,9 persen, sayur-sayuran konsumsinya sekitar 7,89 persen, ataupun konsumsi buah-buahan yang tidak jauh berbeda dengan sayur-sayuran  sebesar 7,3 persen.

Dari sekilas gambaran data yang ditampilkan tersebut ada beberapa asumsi yang dapat kita tarik. Pertama, kebutuhan untuk mengkonsumsi rokok ternyata lebih besar dari kebutuhan akan pembelian bahan makanan pokok. Kedua, rokok menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dari kebutuhan pokok itu sendiri. Jika pengeluaran membeli rokok cukup dominan dalam menggerus pengeluaran rumah tangga, maka tentu saja hal ini berpengaruh terhadap tinggi rendahnya garis kemiskinan.

Kenapa BPS memasukkan komponen rokok terhadap garis kemiskinan? Karena BPS mau memotret apa saja pengeluaran warga miskin. Didapatkan fakta yang sangat miris bahwa rokok menempati urutan keenam paling banyak dibeli. Temuan tersebut terjadi dari waktu ke waktu. Pada tahun 2018, BPS merilis inflasi Kabupaten Purbalingga sebesar 3,01 persen dimana andil rokok terhadap inflasi hanya  mencapai 0,17 persen, lebih tinggi dari pembelian telur dan susu yang hanya memilik andil 0,12 persen di penghujung tahun 2018.

Konsumsi rokok tidak menghasilkan kalori yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar akan makanan. Bagi perokok kondisi ini menyebabkan upah atau pendapatan riilnya akan terganggu. Pengeluaran perkapita untuk konsumsi rokok adalah 51.463 rupiah perbulan. Secara total pengeluaran untuk konsumsi rokok mencapai 47,5 milyar rupiah perbulan, jumlah uang yang sangat besar.  Berdasarkan domisilinya, pengeluaran perkapita masyarakat yang tinggal di perdesaan lebih besar dari masyarakat perkotaan, dimana pengeluaran perkapita masyarakat yang tinggal di perdesaan sebesar 51.261 rupiah dan masyarakat perkotaan sebesar 51.816 rupiah. Ini merupakan pengeluaran terbesar kedua setelah Makanan dan Minuman Jadi atau mencapai 12,54 persen dari total pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran masyarakat miskin untuk rokok besar bahkan mengalahkan kemampuan pengeluaran untuk makanan bergizi seperti telur, pengeluaran untuk pendidikan anak, dan juga pengeluaran untuk kesehatan. Seandainya pengeluaran untuk konsumsi rokok sebesar 51.463 rupiah tersebut dapat dialihkan kepada kebutuhan lain yang lebih bermanfaat misalkan dibelikan telur/daging maka kemiskinan di Kabupaten purbalingga akan sedikit berkurang.

Konsumsi rokok secara bekepanjangan tidak hanya berdampak pada peningkatan kemiskinan tetapi juga akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sebagai faktor risiko, tembakau bertanggung jawab atas lebih dari 30 penyakit, sebagian besar penyakit tidak menularmulai dari kanker, jantung koroner, tuberkulosis paru, hingga radang sendi. Dalam jangka pendek dia mengeluarkan uang untuk rokok, jangka panjangnyamereka akan mengeluarkanuang untuk kesehatan. Dan korban dari perilaku itu adalah perokok itu sendiri serta keluarga mereka juga lembaga kesehatan BPJS. Data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dalam lima tahun terakhir menunjukkan, tingginya beban penyakit tidak menular yang terkait tembakau telah menguras keuangan BPJS. Karenanyamenjadi salah satu tugas besar kita untuk bisa menciptakan kesadaran pada keluarga Indonesia untuk mengurangi konsumsi pada komoditas yang tidak produktif ini tapi juga bermasalah secara kesehatan.

Nikotin merupakan penyebab para perokok aktif sulit sekali untuk berhenti merokok. Nikotin sendiri adalah zat yang secara alami dapat ditemukan pada tembakau. Zat ini sama adiktifnya dengan kokain atau heroin. Ya, nikotin memengaruhi kinerja otak sehingga dapat memicu ketergantungan. Nikotin dapat diserap oleh mukosa mulut saat merokok, dan mencapai otak hanya dalam waktu 10 detik setelah dihisap. Proses penyerapan ini lebih cepat dari obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah, seperti infus.

Zat ini menyebabkan ketergantungan dengan cara memicu peningkatan hormon dopamin pada otak. Peningkatan hormon ini juga disertai dengan penurunan enzim monoamineoxidase, yaitu enzim yang berperan dalam menurunkan kadar dopamin. Tanpa enzim tersebut, kadar dopamin dalam tubuh akan lebih sulit dikendalikan sehingga menyebabkan ketergantungan, yang pada akhirnya juga mengubah cara anda berpikir dan berperilaku.

Jika anda selesai menghabiskan satu batang rokok, kadar nikotin yang terserap tubuh akan mulai mengalami penurunan. Perasaan senang, rileks, dan tenang yang ditumbulkan rokok pun akan memudar. Hal ini menyebabkan anda ingin merokok lagi supaya bisa mendapatkan kembali sensasi dan perasaan tersebut. Jika Anda tidak segera merokok, Anda akan mengalami perubahan perilaku. Misalnya jadi lebih sensitif dan mudah marah. Saat perokok merokok kembali, perasaan tersebut hilang dan siklus beracun ini terus berlanjut. Secara umum, semakin banyak nikotin yang diserap cairan mulut saat merokok, semakin kuat pula efek ketergantungan yang akan dialami seseorang. Akibatnya, Anda pun akan semakin sulit untuk berhenti merokok.

Lalu Apa Solusinya?

Menaikkan cukai rokok adalah salah satu langkah signifikan untuk menekan jumlah perokok, terutama prevalensi untuk penduduk miskin. Untuk itu kita berharap pemerintah bisa menaikkan harga rokok setinggi mungkin dan menghilangkan nilai batas atas cukai rokok agar orang miskin dan anak-anak tidak lagi membeli rokok. Berdasarkan sebuah penelitian Universitas Indonesi (UI), jika harga rokok dinaikkan sampai 70.000 rupiah akan banyak perokok berhenti. Sehingga pengeluarannya dapat dialihkan untuk konsumsi makanan bergizi, biaya pendidikan dan kesehatan yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan. Tetapi memang kemungkinan itu hanya akan terjadi di luar negeri. Karena orang Indonesia memiliki inovasi yang  luar biasa. Mereka bisa ngelinting rokok sendiri. Jadi kenaikan cukai rokok saja tidak cukup. Perlu sosialisasi sejak dini tentang bahaya merokok. Bangkitkan kesadaran bahwa rokok itu tidak bagus.

Memperketat pemasaran dengan jalan memperketat penampilan iklan rokok yang selama ini leluasa dan intensif oleh industri rokok di berbagai media massa. Mencegah inisiasi penggunaan tembakau oleh generasi muda dan populasi perempuan dengan melakukan pembatasan umur yang boleh membeli rokok di warung/toko. Sebab meningkatnya jumlah perokok aktif di kalangan generasi muda akan membahayakan kualitas generasi mendatang dan mempengaruhi kualitas bonus demografi yang diharapkan terjadi di Indonesia.

Memperluas dan memperkuat regulasi kawasan bebas asap rokok. Dalam konteks riset, perlu meningkatkan investasi untuk penelitian dan pengembangan isu tembakau dalam berbagai bidang dan untuk mendapatkan upaya pengendalian tembakau yang lebih efektif dan efisien. Bila itu dilakukan bisa menurunkan konsumsi rokok di masa depan dan mencegah naiknya angka kematian karena penyakit tidak menular yang muncul dari konsumsi rokok.

 

Tingkatkan pendidikan masyarakat agar mereka memiliki pengetahuan yang tinggi  mengenai bahaya merokok. Ubah perilaku masyarakat dengan kesadaran, bukan dengan paksaan. Lakukan pendampingan secara persuasif. Ingatkan selalu pada pertemuan rutin dengan ibu-ibu/bapak bapak. Topiknya mengenai kesehatan dan gizi, bahaya rokok, pola pengasuhan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, perlindungan anak dari kekerasan, merawat, dan sebagainya. Hal ini harus ditekankan agar pendapatan yang diperoleh dapat dialihkan kepada kebutuhan lain yang lebih bermanfaat. Jika upaya upaya untuk mengurangi rokok tidak berhasil maka dengan kondisi ini, akan menyebabkan masyarakat miskin tersebut tetap akan berada dalam siklus kemiskinan dari generasi ke generasi.(*)